Hilirisasi Ternyata Sumbang 30% Realisasi Investasi RI
Hilirisasi Ternyata Sumbang 30 Realisasi Investasi Nasional di 2026
Dailynesia.com – Hilirisasi Ternyata Sumbang 30 Realisasi Investasi - Kementerian Investasi dan Hilirisasi Republik Indonesia melalui Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) resmi mengumumkan bahwa strategi hilirisasi sumber daya alam telah memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Berdasarkan data terbaru yang dirilis pada pertengahan Agustus 2026, sektor hilirisasi kini telah menyumbang sekitar tiga puluh persen dari keseluruhan realisasi investasi yang tercatat di Indonesia selama periode Semester I tahun berjalan.
Todotua Pasaribu, Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi BKPM, menjelaskan bahwa capaian ini mencerminkan keberhasilan kebijakan pemerintah dalam mendorong nilai tambah produk domestik. Total realisasi investasi pada Semester I tahun 2026 mencapai angka Rp 1.010,6 triliun, yang mewakili 49,5 persen dari target tahunan sebesar Rp 2.041,3 triliun. Dari jumlah tersebut, investasi hilirisasi dalam negeri tercatat sebesar Rp 300,1 triliun atau setara dengan 29,7 persen dari total realisasi. Pertumbuhan ini menunjukkan kenaikan sebesar 6,9 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, menandakan tren positif dalam penyerapan modal domestik.
Di samping itu, angka yang saya sebutkan tadi, memang kita monitor dalam dua tahun belakangan ini, kontribusi daripada hilirisasi cukup signifikan. Dari realisasi investasi yang ada, saat ini memang hilirisasi ini memberikan kontribusi kurang lebih sekitar 30%, daripada angka realisasi investasi.
Penjelasan tersebut disampaikan oleh Todotua Pasaribu dalam acara Mindialogue 2026 yang berlangsung di Jakarta pada Kamis, 13 Agustus 2026. Pemerintah memiliki komitmen kuat untuk tidak lagi mengekspor komoditas mineral dalam bentuk bahan mentah ke pasar internasional. Kebijakan ini bertujuan agar seluruh proses pengolahan berlangsung di dalam negeri sehingga memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat, termasuk penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan daerah.
Menurutnya, hilirisasi mencerminkan komitmen pemerintah untuk tidak melepas bahan baku mineral ke luar negeri. Sebaliknya, komoditas tersebut didorong untuk diolah di dalam negeri guna menciptakan nilai tambah yang lebih besar. Langkah ini juga sejalan dengan program hilirisasi yang telah digulirkan sejak beberapa tahun terakhir untuk mengubah struktur ekonomi Indonesia dari berbasis ekspor bahan mentah menjadi berbasis industri pengolahan.
Distribusi Investasi Berdasarkan Sektor Strategis
Realisasi investasi hilirisasi pada Semester I 2026 didominasi oleh sektor Mineral dengan total mencapai Rp 206,5 triliun. Dalam kategori ini, hilirisasi Nikel menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp 71,0 triliun. Disusul oleh Bauksit sebesar Rp 53,8 triliun, Tembaga Rp 37,4 triliun, Besi Baja Rp 30,2 triliun, serta Pasir Silika Rp 5,9 triliun. Dominasi sektor mineral ini menunjukkan bahwa kebijakan larangan ekspor bijih nikel dan komoditas mineral lainnya telah berhasil menarik investasi pengolahan domestik.
Sektor Perkebunan dan Kehutanan menempati urutan kedua dengan total investasi Rp 54,4 triliun. Komoditas utama yang mendorong sektor ini adalah Kelapa Sawit senilai Rp 29,5 triliun dan Karet sebesar Rp 5,0 triliun. Investasi di sektor ini mencakup pengembangan industri turunan seperti biodiesel, oleokimia, dan produk karet bernilai tambah tinggi yang ditujukan untuk pasar domestik maupun ekspor.
Sektor Minyak dan Gas Bumi juga memberikan kontribusi melalui investasi pengolahan Minyak Bumi sebesar Rp 26,4 triliun dan Gas Bumi Rp 9,0 triliun. Sementara itu, sektor Perikanan dan Kelautan melengkapi capaian nasional dengan nilai investasi Rp 3,8 triliun. Investasi ini mencakup pengolahan berbagai komoditas seperti garam, ikan tuna, cakalang, tongkol, udang, serta rumput laut yang telah dikembangkan menjadi produk olahan siap konsumsi dan bahan baku industri.
Prospek dan Target Investasi Masa Depan
Dengan capaian 30 persen kontribusi hilirisasi terhadap realisasi investasi nasional, pemerintah menargetkan peningkatan lebih lanjut pada Semester II tahun 2026. Berbagai insentif fiskal dan kemudahan perizinan telah disiapkan untuk menarik investor domestik maupun asing ke sektor-sektor hilirisasi prioritas. Target akhir pemerintah adalah mencapai 35 persen kontribusi hilirisasi terhadap total realisasi investasi tahunan pada akhir tahun 2026.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai program investasi dan hilirisasi, pembaca dapat mengunjungi halaman resmi [BKPM](https://www.bkpm.go.id) atau [CNBC Indonesia](https://www.cnbcindonesia.com) untuk update terbaru seputar kebijakan ekonomi nasional.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Hilirisasi dan Investasi
Apa itu hilirisasi dalam konteks investasi Indonesia? Hilirisasi adalah proses pengolahan sumber daya alam mentah menjadi produk bernilai tambah tinggi di dalam negeri sebelum diekspor atau dikonsumsi domestik.
Berapa kontribusi hilirisasi terhadap realisasi investasi 2026? Hilirisasi Ternyata Sumbang 30 Realisasi Investasi, dengan total mencapai Rp 300,1 triliun pada Semester I 2026.
Sektor apa yang paling banyak menerima investasi hilirisasi? Sektor Mineral menjadi yang terbesar dengan Rp 206,5 triliun, diikuti oleh Perkebunan dan Kehutanan sebesar Rp 54,4 triliun.
Apakah ada target peningkatan kontribusi hilirisasi? Ya, pemerintah menargetkan peningkatan menjadi 35 persen terhadap total realisasi investasi pada akhir tahun 2026.