Fenomena Baru di Warteg – Warga RI Serbu Menu Murah Asal Perut Kenyang

2 months ago  ·  2 min read
By Elizabeth Lopez - dailynesia.com
pedagang-warung-tegal-warteg-memajang-masakannya-ditengah-harga-plastik-mengalami-kenaikan-di-jakarta-selasa-552026-1777971947135_169

Fenomena Baru di Warteg, Warga RI Serbu Menu Murah Asal Perut Kenyang

Dailynesia.com – Jakarta – Di tengah kenaikan harga bahan makanan, pola belanja masyarakat di warung makan tradisional (warteg) mengalami pergeseran. Banyak konsumen kini lebih memilih hidangan berharga terjangkau dengan tujuan memenuhi kebutuhan nutrisi tanpa menguras dompet. Dalam observasi CNBC Indonesia di Senen, Jakarta Pusat, beberapa pelaku usaha mengungkapkan penurunan minat terhadap lauk yang lebih mahal.

Perubahan Pilihan Menu

Amirah, salah satu pengusaha warteg, menyatakan bahwa konsumen semakin selektif dalam memilih lauk. “Sekarang pembeli cenderung mengurangi pembelian hidangan seperti ayam goreng atau daging sapi, mereka lebih memilih telur balado, tempe-tahu, sayuran, dan gorengan,” katanya saat diwawancara CNBC Indonesia pada Sabtu (30/5/2026).

“Iya betul, sekarang pembeli sudah mulai kurangi beli lauk seperti ayam goreng atau daging sapi, mereka belinya telur balado, tempe-tahu, sayuran, dan gorengan,” kata Amirah saat ditemui CNBC Indonesia, Sabtu (30/5/2026).

Kusuma, pedagang lain, mengamati bahwa kebiasaan pembelian lauk mengalami perubahan signifikan. “Kebanyakan orang beli lauk yang harganya sekitar Rp10.000, kadang juga Rp15.000, tapi yang di atas Rp20.000 sudah mulai langka,” ujarnya. Ia juga menyebutkan bahwa lauk seperti rendang dan udang kini tidak lagi populer.

“Benar, sekarang kebanyakan beli lauknya ya sayur tempe, tempe-tahu goreng, perkedel, kentang goreng, ya pokoknya yang masih sekitar Rp10.000,” kata Kusuma.

Surono, pedagang warteg berbeda, menambahkan bahwa permintaan menu berharga rendah terutama karena kenaikan harga bahan baku. “Karena harganya naik, orang-orang lebih selektif memilih lauk. Biasanya daging kikil cepat habis, tapi sekarang kadang sampai sore masih ada sisa,” jelasnya. Menurutnya, hidangan seperti perkedel, kentang goreng, tempe-tahu, dan sayuran lebih diminati dibandingkan lauk yang lebih mahal.

“Orang-orang cari yang menu praktis, tapi nasi tetap, karena kami enggak kurangin porsi nasinya, jadi orang-orang lebih selektif ke lauknya, bukan nasi, yang penting sudah kenyang,” ujarnya.

Dengan trend ini, banyak konsumen memprioritaskan kebutuhan dasar seperti nasi, tetapi mengoptimalkan penggunaan lauk dengan harga lebih terjangkau. Kebiasaan ini menunjukkan adaptasi masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini, di mana kebutuhan pangan terjangkau menjadi pilihan utama.

MORE FROM THIS CATEGORY