Video: Perkuat Daya Saing Lawan Malaysia Cs, Mebel RI Butuh Hal Ini!

2 months ago  ·  3 min read
By Christopher Moore - dailynesia.com
546dcbfa-19b6-4352-9406-92373b2cb23b-0

Menjaga Kompetitivitas: Industri Mebel Indonesia Hadapi Tantangan untuk Menghadapi Persaingan dengan Malaysia

Dailynesia.com – Dalam dunia industri, “facing challenges” adalah tantangan yang tak bisa dihindari, terutama bagi sektor mebel Indonesia yang berusaha mempertahankan posisi di pasar ekspor global. Saat ini, perusahaan-perusahaan di sektor ini menghadapi berbagai kesulitan, termasuk ketidakpastian ekonomi global yang memengaruhi biaya produksi bahan baku impor. Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah juga menjadi faktor yang mengurangi daya saing produk ekspor mereka, terutama ketika dibandingkan dengan pesaing dari negara-negara seperti Malaysia, Vietnam, dan Tiongkok.

Kondisi Industri Mebel RI di Tengah Persaingan Global

Ketidakstabilan ekonomi global tidak hanya menimpa sektor pertanian atau perkebunan, tetapi juga berdampak signifikan pada industri mebel Indonesia. Dalam wawancara dengan Bunga Cinka, Abdul Sobur, Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), menjelaskan bahwa fluktuasi harga bahan baku impor seperti kayu, logam, dan kain membuat perusahaan kesulitan dalam menghitung biaya produksi secara akurat. “Faktor ini memaksa industri mebel RI untuk terus beradaptasi dan menghadapi berbagai ‘facing challenges’ dalam menciptakan produk yang lebih kompetitif,” ujarnya.

Malaysia, sebagai salah satu pesaing utama, menunjukkan keunggulan dalam kestabilan regulasi dan skalabilitas produksi. Negara tersebut telah membangun sistem logistik yang terintegrasi, serta memperkuat kualitas produk melalui standarisasi dan inovasi. Dengan mendukung industri lokal, “facing challenges” menjadi peluang untuk memperbaiki kelemahan dan mengejar pertumbuhan yang lebih signifikan. Namun, hal ini memerlukan strategi yang tepat dan konsisten.

Pola Produksi dan Regulasi sebagai Kunci Peningkatan Daya Saing

Menurut Abdul Sobur, stabilitas dalam kebijakan regulasi dan iklim investasi merupakan faktor kritis bagi penguatan daya saing industri mebel RI. “Kita perlu menghadapi ‘facing challenges’ dengan memastikan kebijakan pemerintah tetap konsisten dalam mendukung pengembangan industri,” katanya. Dalam konteks ini, pengurangan tarif impor untuk bahan baku mebel dan insentif bagi perusahaan yang mengadopsi teknologi canggih dianggap sebagai langkah penting.

Kebijakan yang lebih terstruktur juga diperlukan untuk meningkatkan efisiensi produksi dan mengurangi biaya operasional. “Indonesia memiliki potensi besar, tetapi kita harus mengubah cara kerja kita agar mampu bersaing secara global,” tambah Sobur. Hal ini berarti perusahaan-perusahaan mebel RI perlu mengadopsi sistem manufaktur yang modern, serta memperkuat kemitraan dengan pemerintah dan lembaga pemasaran untuk memastikan akses ke pasar internasional yang lebih luas.

Strategi Khusus untuk Menangani Tantangan Ekspor

Salah satu “facing challenges” yang paling menonjol adalah kompetisi dengan negara-negara yang telah lebih dulu mengembangkan industri mebelnya. Dalam konteks ini, Malaysia menjadi contoh yang patut diperhatikan, karena keberhasilannya dalam menjaga konsistensi kualitas produk dan kecepatan pengiriman. Untuk menangani hal ini, perusahaan mebel RI perlu meningkatkan inovasi dalam desain produk, serta memperbaiki layanan pelanggan dan pengemasan yang lebih menarik.

Industri mebel RI juga harus memperhatikan dinamika pasar internasional, termasuk permintaan konsumen yang semakin kritis terhadap keberlanjutan dan ramah lingkungan. “Kita harus menghadapi ‘facing challenges’ ini dengan menawarkan produk yang tidak hanya berkualitas tinggi, tetapi juga ramah lingkungan dan hemat energi,” kata Sobur. Hal ini akan memperkuat daya saing produk Indonesia di tengah persaingan yang semakin ketat.

Berbagai langkah konkret, HIMKI berencana menggandeng pihak swasta dan pemerintah untuk menyediakan pelatihan keterampilan bagi tenaga kerja di sektor mebel. Selain itu, program pengembangan inovasi juga akan diluncurkan guna mendorong perusahaan kecil menengah (UKM) untuk mengadopsi teknologi digital dalam proses produksi dan pemasaran. Dengan strategi ini, “facing challenges” dalam industri mebel RI diharapkan dapat diatasi secara efektif.

Sebagai penutup, pemimpin industri mebel RI mengingatkan bahwa masa depan sektor ini bergantung pada kemampuan untuk menghadapi “facing challenges” dengan komitmen yang kuat. Dengan kombinasi kebijakan yang mendukung, inovasi terus menerus, dan penguatan daya saing melalui kualitas produk, Indonesia bisa menjadi salah satu pemain utama di pasar ekspor global. Simak wawancara lengkap Bunga Cinka dengan Abdul Sobur dalam program Manufacture Check, CNBC Indonesia (Jum’at, 15/06/2026), untuk mengetahui langkah-langkah strategis yang dapat dilakukan industri mebel RI.

MORE FROM THIS CATEGORY