Siap-Siap Jalanan RI Bakal Diserbu Mobil Listrik, Ini Pemicunya
Dailynesia.com – Adalah tantangan yang semakin terasa dalam sektor otomotif Indonesia. Ketua Umum Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo), Moeldoko, mengungkapkan bahwa peningkatan penggunaan kendaraan listrik di Tanah Air akan terus berlanjut dalam beberapa tahun ke depan. Menurut data yang dirilis, pasar otomotif elektrifikasi mengalami pertumbuhan pesat selama tahun 2025. Dalam konteks Facing Challenges, mobil listrik menjadi solusi yang semakin menarik bagi industri transportasi dan bisnis komersial.
“Dalam 2024, penjualan mencapai 43 ribu unit, namun di 2025 angka itu melonjak menjadi 104 ribu unit. Ini sebuah lompatan. Pasti 2026 akan lebih tinggi lagi,” ujar Moeldoko di Plataran Senayan, Kamis (21/5/2026).
Pengaruh Perubahan Geopolitik Global
Perubahan geopolitik global menjadi salah satu faktor utama yang mempercepat adopsi mobil listrik. Kenaikan harga bahan bakar minyak, serta masalah kualitas solar di beberapa wilayah, memberikan tekanan besar pada industri transportasi tradisional. Dalam Facing Challenges, perusahaan semakin tertarik beralih ke alternatif energi yang lebih efisien dan murah. Pengaruh ini juga terasa di sektor logistik dan bisnis operasional, di mana biaya bahan bakar yang melonjak memaksa pemain utama mencari solusi jangka panjang.
“Kondisi geopolitik saat ini membuat dunia komersial menghadapi tantangan baru. Kendaraan listrik menjadi pilihan yang semakin strategis untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil,” tambah Moeldoko.
Biaya Perawatan dan Kualitas Bahan Bakar
Kenaikan harga solar serta ketidakstabilan kualitas bahan bakar menjadi alasan utama mengapa biaya perawatan kendaraan konvensional meningkat. Dalam Facing Challenges, ini menjadi faktor kritis yang mendorong industri otomotif untuk mengadopsi teknologi listrik. Kendaraan listrik tidak hanya mengurangi biaya bahan bakar, tetapi juga menawarkan pengoperasian yang lebih sederhana dan rendah emisi.
“Karena solar terlalu mahal dan kualitasnya tidak konsisten, biaya maintenance kendaraan tradisional semakin tinggi. Dari pertimbangan itu, mereka mulai bergeser ke pilihan lain,” jelasnya.
Pertumbuhan Segmen Kendaraan Komersial
Periklindo menyoroti pertumbuhan pesat sektor kendaraan komersial sebagai indikator kuat dalam Facing Challenges. Penggunaan mobil listrik dalam logistik dan operasional bisnis meningkat tajam, terutama karena kebutuhan akan keandalan dan efisiensi energi. Kebutuhan ini selaras dengan kebijakan pemerintah yang mendorong pengurangan emisi dan transisi ke energi terbarukan.
“Kebetulan MAB lebih banyak dipakai di sektor komersial, sehingga kita bisa melihat pertumbuhan pasar yang luar biasa,” tutur Moeldoko.
Peran Pemerintah dan Inisiatif Perusahaan
Dalam menghadapi Facing Challenges, pemerintah Indonesia berperan penting melalui kebijakan subsidi dan insentif. Misalnya, pengurangan tarif pajak untuk mobil listrik dan pembangunan infrastruktur pengisian baterai menjadi langkah strategis. Di sisi lain, perusahaan seperti PT BYD Motor Indonesia juga aktif menawarkan solusi inovatif, dengan pangsa pasar kendaraan listrik yang telah mendekati 20%.
“Penggunaan kendaraan listrik telah tumbuh hingga sekitar 20%. Ini sejarah luar biasa bagi industri otomotif di sini. Namun, meski ada kemajuan besar, mobilitas hijau di Indonesia baru saja dimulai. Mobil bensin tetap menguasai 65% pasar,” ujar Eagle Zhao, Presiden Direktur PT BYD Motor Indonesia.
Perspektif Jangka Panjang dan Peluang
Kendaraan listrik bukan hanya menghadapi tantangan, tetapi juga membawa peluang besar dalam Facing Challenges. Dengan meningkatnya kesadaran lingkungan dan teknologi yang terus berkembang, pasar otomotif elektrifikasi diperkirakan akan terus tumbuh. Moeldoko mengingatkan bahwa perpindahan ke mobil listrik membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, industri, dan masyarakat. “Kita harus bersiap menghadapi perubahan ini dengan strategi yang matang,” kata dia.
“Industri otomotif harus menyesuaikan diri dengan tren global. Ini adalah bagian dari Facing Challenges, tetapi juga peluang untuk merevolusi cara kita bergerak di masa depan,” lanjut Moeldoko.

