Keju Termahal Italia Terancam ‘Kiamat’

3 weeks ago  ·  4 min read
By Linda Miller - dailynesia.com
pola-bintik-bintik-pada-kulit-keju-yang-memastikan-keaslian-keju-parmigiano-reggiano-di-ruang-penyimpanan-keju-credito-emilian-1783928629284_169

Facing Challenges: Keju Termahal Italia Terancam oleh Kiamat Iklim

Dailynesia.com – Facing Challenges, sektor produksi keju Parmigiano Reggiano di Italia sedang menghadapi krisis serius akibat kenaikan suhu ekstrem yang melanda wilayah Emilia-Romagna. Gelombang panas yang mencapai hingga 40 derajat Celsius telah mengganggu keberlanjutan produksi, memaksa peternak mengubah pola perawatan sapi perah dan meningkatkan biaya operasional secara signifikan. Dalam dekade terakhir, tantangan iklim semakin nyata, dengan suhu tinggi dan kekeringan berdampak langsung pada kualitas susu, bahan utama pembuatan keju legendaris ini. Kondisi ini tidak hanya mengancam hasil produksi, tetapi juga mengubah cara kerja seluruh rantai industri.

Kondisi Sapi dan Kualitas Susu

Para peternak Parmigiano Reggiano melaporkan bahwa kenaikan suhu ekstrem menyebabkan sapi menjadi lebih lelah, mengurangi konsumsi pakan, dan menghasilkan susu hingga 10% lebih sedikit. Dalam kondisi panas yang mematikan, hewan-hewan ini juga lebih sering berbaring, mengakibatkan penurunan produksi susu secara keseluruhan. Menurut Presiden Konsorsium Parmigiano Reggiano, Nicola Bertinelli, suhu tinggi menyebabkan perubahan komposisi susu, yang berdampak pada rasa dan tekstur keju. “Facing Challenges, kami harus menyesuaikan metode tradisional dengan teknologi modern agar tetap mempertahankan standar kualitas,” jelasnya.

“Kenaikan suhu tinggi berdampak langsung pada kualitas dan jumlah susu,” ungkap Bertinelli dalam wawancara dengan Reuters. Kondisi ini memaksa para peternak menghabiskan energi ekstra untuk menjaga kesehatan sapi dan memastikan hasil susu tetap memenuhi syarat.

Dalam konteks ini, kekeringan juga berperan penting. Rumput yang menjadi pakan utama sapi perah mulai mengering, memaksa peternak mencari alternatif seperti jerami atau pakan buatan. Namun, biaya pakan yang meningkat memperburuk tekanan pada industri yang sudah terkenal dengan biaya produksi tinggi. Untuk meminimalkan kerugian, beberapa peternak mulai mengubah pola pengairan dan penggunaan pakan untuk mengurangi dampak cuaca ekstrem.

Langkah untuk Mempertahankan Kualitas

Menyadari masalah yang mengancam, para peternak Parmigiano Reggiano telah mengambil langkah-langkah khusus untuk menjaga kualitas produk. Sistem pendinginan dan ventilasi kandang diaktifkan secara terus-menerus, meskipun ini memakan biaya listrik yang lebih besar. “Facing Challenges, adaptasi menjadi kunci untuk bertahan hidup di industri yang sangat kompetitif,” kata Ravanetti, direktur MGT, perusahaan penyimpanan keju terbesar di Italia.

Dalam situasi darurat, perusahaan seperti MGT juga berusaha memperbaiki efisiensi energi dengan mengadopsi teknologi terbarukan. Meski demikian, proses pematangan keju, yang membutuhkan minimal satu tahun, tetap sensitif terhadap perubahan suhu. Suhu yang terlalu tinggi bisa mempercepat pematangan, mengurangi rasa yang khas, dan menyebabkan kerusakan kualitas. “Meskipun teknologi membantu, keahlian manusia tetap menjadi penentu utama,” tambah Ravanetti.

Dampak Jangka Panjang pada Industri

Industri Parmigiano Reggiano, yang menghasilkan pendapatan sekitar 4,5 miliar euro per tahun, sedang menghadapi ancaman besar dari perubahan iklim. Kenaikan biaya produksi, kombinasi dari biaya energi dan pakan yang meningkat, membuat keju ini semakin mahal. Ini berpotensi mengurangi daya saingnya di pasar internasional, terutama di tengah persaingan ketat dengan produk keju lainnya. “Facing Challenges, industri ini harus beradaptasi cepat agar tetap relevan di masa depan,” ujar Ganzerli, direktur penjualan internasional GranTerre.

“Parmigiano Reggiano telah berusia lebih dari 800 tahun. Kita tidak ingin menjadi generasi terakhir yang menikmati keju ini,” kata Ganzerli kepada Reuters. Perusahaan eksportir utama keju ini menegaskan bahwa gelombang panas yang terus-menerus akan mengubah cara mereka beroperasi, termasuk memperketat standar kualitas dan mengurangi kuantitas produksi.

Dalam konteks global, lebih dari separuh penjualan keju Parmigiano Reggiano berasal dari pasar ekspor, dengan Amerika Serikat menjadi tujuan utama. Tantangan iklim yang terus-menerus akan menghambat kemampuan Italia untuk mempertahankan dominasi pasar tersebut. Jika tidak ada solusi yang ditemukan, keju termahal di dunia mungkin terancam mengalami penurunan kualitas yang signifikan, mengubah seluruh ekosistem ekonomi dan budaya yang terkait dengan produksinya.

Respon Global dan Perubahan Pasar

Dalam upaya mengatasi Facing Challenges yang dihadapi, konsorsium Parmigiano Reggiano mulai bekerja sama dengan pihak internasional untuk mengembangkan sistem pertanian yang lebih tahan terhadap cuaca ekstrem. Ini mencakup penelitian tentang pakan alternatif, sistem pengairan yang lebih efisien, dan teknologi pengawetan susu. Meskipun langkah-langkah ini memakan biaya tambahan, mereka dianggap sebagai investasi jangka panjang untuk memastikan keberlanjutan industri.

Banyak pelaku bisnis dalam industri makanan juga mulai meninjau ulang strategi mereka. Dengan kenaikan biaya produksi yang melonjak, harga keju Parmigiano Reggiano bisa naik hingga 15-20% di beberapa pasar. Ini berdampak pada konsumen, terutama di negara-negara berkembang, yang mungkin mulai mencari alternatif lebih murah. Namun, nilai ekonomi dan keunikan produk ini tetap membuatnya tetap diminati oleh kelas menengah dan atas di berbagai negara.

Proyeksi untuk Masa Depan

Facing Challenges yang terus-menerus, para ahli memproyeksikan bahwa kondisi cuaca ekstrem akan menjadi norma baru dalam beberapa tahun ke depan. Hal ini berarti bahwa produksi Parmigiano Reggiano harus terus beradaptasi, mulai dari perubahan metode pertanian hingga inovasi dalam pengemasan dan distribusi. Jika tidak ada intervensi yang tepat, industri ini bisa kehilangan sebagian besar keunggulannya, terutama di pasar internasional.

Menurut laporan dari Badan Meteorologi Dunia, kekeringan dan suhu tinggi akan semakin sering terjadi di wilayah Emilia-Romagna, yang merupakan pusat produksi keju ini. Meski pemerintah Italia sedang berupaya menstabilkan kondisi lingkungan, ketidakpastian cuaca masih menjadi ancaman besar. “Facing Challenges, kita perlu membangun sistem yang lebih resilient,” kata seorang ahli iklim yang meneliti dampaknya terhadap pertanian Italia.

MORE FROM THIS CATEGORY