Dailynesia News
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

El Nino Berpotensi Berlanjut hingga 2027, BPS Warning Harga Pangan

Published September 2, 2026 · Updated September 2, 2026 · By Anthony Johnson - dailynesia.com

Foto : Anthony Johnson - dailynesia.com

Bayang-Bayang El Nino Menggantung di Atas Meja Makan: BPS Soroti Ancaman Harga Pangan Menuju 2027

Dailynesia.com – Periode kemarau yang memanjang dan anomali suhu laut Pasifik bukan sekadar catatan meteorologis bagi petani Indonesia. Fenomena El Nino, yang selama beberapa dekade terakhir berulang kali mengacaukan siklus tanam dan pasokan air irigasi, kini diproyeksikan bertahan jauh lebih lama dari biasanya. Prediksi terbaru dari lembaga cuaca nasional menempatkan durasi anomali ini hingga awal tahun 2027, sebuah rentang waktu yang cukup panjang untuk menggeser seluruh rantai pasok pangan domestik. Di tengah proyeksi tersebut, otoritas statistik nasional mengeluarkan peringatan keras bahwa tekanan harga pada kelompok komoditas pangan bergejolak akan menjadi variabel paling sensitif dalam neraca inflasi domestik sepanjang sisa tahun 2026 dan memasuki 2027.

Prediksi BMKG dan Respons BPS

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah merilis proyeksi bahwa kondisi El Nino yang terbentuk pada tahun 2026 berpotensi bertahan hingga awal tahun 2027. Meresponsi sinyal tersebut, Badan Pusat Statistik (BPS) secara eksplisit menandai dampaknya sebagai faktor yang memerlukan pemantauan ketat, khususnya pada pergerakan harga sejumlah komoditas pangan yang secara historis sangat reaktif terhadap perubahan ketersediaan air dan pergeseran pola tanam.

Ateng Hartono, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, menyampaikan peringatan ini dalam konferensi pers yang digelar di Gedung BPS, Jakarta, pada Selasa (1/9/2026). Ia menekankan bahwa transmisi dinamika cuaca-iklim ke dalam angka inflasi tidak terjadi secara instan, melainkan bekerja melalui mekanisme pergerakan harga pada komponen pangan yang bersifat bergejolak.

"BMKG yang merilis prediksi El Nino di tahun 2026 yang berpotensi bertahan hingga awal tahun 2027. Tentunya kondisi tersebut perlu menjadi perhatian, terutama dampaknya terhadap perubahan harga beberapa komoditas pangan."

Mekanisme Dampak: Dari Cuaca ke Kantong Konsumen

Secara agronomis, El Nino mengubah distribusi curah hujan secara drastis. Wilayah yang biasanya menerima hujan musiman mengalami kemarau lebih panjang, sementara daerah lain menerima curah hujan di luar normal. Bagi sektor pertanian Indonesia, konsekuensi langsungnya meliputi berkurangnya ketersediaan air untuk irigasi tanaman pangan serta terganggunya jadwal tanam pada komoditas hortikultura seperti cabai, tomat, dan sayuran daun. Ketika pasokan menyusut sementara permintaan tetap konstan, harga di tingkat pasar eceran merespons dengan lonjakan yang tajam dan tidak terduga.

Ateng menjelaskan bahwa BPS memantau fenomena ini secara spesifik melalui indikator harga bergejolak pada kelompok pangan. Komoditas tanaman pangan dan hortikultura dinilai paling rentan karena ketergantungannya yang tinggi terhadap ketersediaan air serta kepekaan siklus tanamnya terhadap perubahan iklim mikro.

"Jadi kami mengamatinya itu dari harga yang fertile atau harga bergejolak khusus untuk foodnya. Terutama komoditi tanaman pangan dan hortikultura yang dinilai tadi ya Diduga sensitif terhadap ketersediaan air serta juga pola tanamanya."

El Nino Bukan Satu-Satunya Penentu

Walaupun anomali cuaca menjadi pemicu utama, Ateng menegaskan bahwa risiko kenaikan inflasi pangan tidak dapat diatribusikan secara tunggal kepada El Nino. Sejumlah variabel struktural beroperasi secara simultan dan saling memperkuat: dinamika produksi di tingkat petani, keseimbangan antara penawaran dan permintaan di pasar, kelancaran distribusi logistik dari sentra produksi ke pusat konsumsi, ketersediaan stok di pasar ritel, serta pola konsumsi masyarakat yang berubah-ubah sepanjang musim.

"Adan dinamika produksi, supply demand-nya. kemudian juga adanya kelancaran alur distribusinya, ketersediaan pasokan di pasar, serta juga pola konsumsi masyarakatnya."

Artinya, bahkan tanpa El Nino, gangguan distribusi akibat cuaca ekstrem lokal, kebijakan pembatasan ekspor, atau lonjakan permintaan musiman dapat mendorong harga pangan naik. Sebaliknya, apabila rantai distribusi tetap lancar dan stok cadangan memadai, dampak El Nino terhadap harga dapat diredam secara signifikan.

Data Agustus 2026: Komponen Bergojol Memimpin Inflasi

Angka-angka terbaru dari BPS memperlihatkan bahwa tekanan harga pangan bergejolak sudah menjadi komponen inflasi paling dominan. Pada Agustus 2026, inflasi dari komponen bergejolak tercatat sebesar 0,88% secara bulanan, dengan andil terhadap inflasi umum sebesar 0,15%. Posisi ini menjadikannya lebih tinggi dibandingkan kontribusi komponen inti maupun komponen harga yang diatur pemerintah.

Komoditas yang paling besar menyumbang lonjakan pada komponen bergejolak pada periode tersebut adalah daging ayam ras, cabai rawit, dan beras. Ketiganya mewakili spektrum yang luas: protein hewin, hortikultura musiman, dan serealia pokok. Dominasi ketiga komoditas ini mengindikasikan bahwa tekanan pasokan tidak terpusat pada satu sektor saja, melainkan menyebar melintasi rantai pangan secara horizontal.

"Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi komponen bergejolak adalah daging ayam ras, cabai rawit, dan beras."

Implikasi bagi Rumah Tangga dan Kebijakan Publik

Bagi konsumen, perpanjangan El Nino hingga awal 2027 berarti potensi volatilitas harga pangan yang lebih berkepanjangan dibandingkan siklus El Nino sebelumnya yang umumnya berlangsung 12–18 bulan. Harga cabai rawit, misalnya, secara historis dapat melonjak berkali-kali lipat dalam hitungan minggu ketika pasokan dari sentra produksi seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi terganggu oleh kekeringan. Beras, sebagai komoditas pokok dengan elastisitas permintaan rendah, cenderung menahan harga di level tinggi lebih lama karena konsumen tidak dapat mengurangi konsumsinya secara drastis.

Di sisi kebijakan, peringatan BPS ini menjadi dasar bagi pemerintah untuk mempercepat langkah antisipatif: penguatan cadangan pangan nasional, pemantauan ketat terhadap alur distribusi antarwilayah, serta koordinasi dengan BMKG untuk memperbarui prakiraan cuaca secara berkala. Tanpa intervensi kebijakan yang tepat waktu, transmisi dari anomali iklim ke inflasi pangan dapat memperlebar kesenjangan daya beli, terutama bagi kelompok rumah tangga yang mengalokasikan porsi besar pengeluarannya untuk kebutuhan makan.

Yang jelas, musim El Nino kali ini bukan sekadar catatan di layar radar cuaca. Ia adalah variabel ekonomi yang akan menentukan seberapa berat beban belanja pangan jutaan keluarga Indonesia selama sisa tahun 2026 dan memasuki 2027.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is El Nino Berpotensi Berlanjut hingga 2027?

El Nino Berpotensi Berlanjut hingga 2027 is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does El Nino Berpotensi Berlanjut hingga 2027 matter?

El Nino Berpotensi Berlanjut hingga 2027 matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.