Diam-Diam Banyak Warga RI Mulai Pilih Beli Barang Murah, Ada Apa?
Dailynesia.com – Jakarta, Perubahan pola belanja masyarakat Indonesia kini terlihat secara signifikan, terutama sejak akhir tahun 2025. Menurut laporan terbaru dari Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), konsumen semakin memprioritaskan harga terjangkau dalam keputusan pembelian. Fenomena ini mengisyaratkan pergeseran nilai yang berdampak pada industri ritel, terutama dalam hal preferensi merek dan strategi penjualan. Solihin, Ketua Umum Aprindo, mengungkapkan bahwa tren ini sudah berlangsung cukup lama, dengan peningkatan permintaan terhadap produk-produk dengan harga lebih rendah, meski tetap memenuhi standar kualitas.
Penyebab Perubahan Pola Belanja
Pergeseran konsumen Indonesia menuju pilihan belanja murah dipengaruhi oleh berbagai faktor ekonomi dan sosial. Dengan tingkat inflasi yang stabil serta tekanan pada daya beli masyarakat, kebutuhan pokok dan barang konsumsi menjadi fokus utama. Solihin menjelaskan bahwa penurunan loyalitas merek tidak terjadi secara mendadak, tetapi bersifat bertahap. “Konsumen kini lebih realistis. Mereka memilih barang yang cukup murah, tetapi masih efektif. Misalnya, shampoo yang dulu dianggap harus memilih merek tertentu, sekarang cukup memilih produk dengan harga terjangkau,” ujarnya dalam wawancara dengan CNBC Indonesia. Fenomena ini juga terjadi pada sektor makanan, dengan beralihnya konsumen ke merek lokal atau produk pabrikan lain yang lebih hemat.
Menurut Solihin, kebiasaan ini bukan hanya tentang hemat, tetapi juga terkait dengan kesadaran konsumen terhadap pengelolaan keuangan. Mereka lebih bijak dalam membelanjakan uang, terutama dalam menghadapi era kemacetan ekonomi yang terjadi selama beberapa tahun terakhir. “Selain itu, faktor kompetisi antar ritel juga mendorong perusahaan untuk menawarkan harga lebih murah untuk menarik perhatian konsumen,” tambahnya. Ini berdampak pada perubahan pola distribusi barang, termasuk peningkatan penggunaan platform e-commerce sebagai jalan keluar untuk mendapatkan harga yang lebih terjangkau.
Dampak pada Industri Ritel Modern
Aprindo, sebagai wadah pengusaha ritel, memperhatikan perubahan ini secara cermat. Solihin menegaskan bahwa meski ada penurunan loyalitas merek, pertumbuhan penjualan ritel modern tetap terjaga. “Kami hanya menyesuaikan harga sesuai standar margin. Jika produsen menaikkan harga, kami juga ikut menaikkan. Contohnya, kenaikan harga plastik saat ini berdampak pada harga barang akhir,” jelasnya. Namun, perubahan ini memberi tantangan bagi peritel modern untuk mempertahankan pendapatan, terutama di tengah persaingan yang semakin ketat.
Salah satu indikator utama dari fenomena ini adalah kenaikan permintaan barang-barang dengan harga jual rendah, seperti produk-produk dari merek lokal atau merek internasional yang menawarkan varian lebih terjangkau. Solihin menyoroti bahwa peritel modern harus beradaptasi dengan kebiasaan ini, termasuk dalam penyusunan strategi promosi dan pengadaan stok. “Festive berikutnya akan datang saat Nataru (Natal-Tahun Baru), dan kami berharap bisa mencapai pertumbuhan penjualan yang stabil,” katanya. Namun, ia juga mengakui bahwa harapan untuk pertumbuhan 10% di momen festive seperti Ramadan-Lebaran 2026 belum tercapai.
Dari sisi psikologis, konsumen mulai lebih muda dan cenderung tidak menyetia pada merek tertentu. Solihin menambahkan bahwa ini terkait dengan pergeseran generasi yang lebih mengutamakan kebutuhan daripada keinginan. “Dengan tingkat daya beli yang terbatas, mereka memilih barang yang bisa memenuhi fungsi tanpa kehilangan kualitas,” katanya. Selain itu, penggunaan teknologi seperti aplikasi belanja online juga mempercepat pergeseran ini, karena memungkinkan konsumen membandingkan harga dan kualitas secara lebih efisien.
Di sisi lain, pemerintah dan pengusaha ritel mulai menyesuaikan kebijakan dan strategi mereka untuk menjawab kebutuhan ini. Solihin menyoroti bahwa peritel modern harus lebih fleksibel dalam menawarkan berbagai pilihan harga, sambil tetap menjaga kualitas produk. “Perubahan ini juga mendorong produsen untuk berinovasi, seperti menciptakan produk yang lebih ekonomis tanpa mengorbankan kualitas,” ujarnya. Namun, tantangan utamanya adalah menyeimbangkan antara penurunan margin keuntungan dan kepuasan konsumen.

