Dailynesia News
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Data BPS: Belanja Rokok Warga RI Tembus Rp 94.180 per Kapita/Bulan

Published October 7, 2026 · Updated October 7, 2026 · By James Lopez - dailynesia.com

Foto : James Lopez - dailynesia.com

Belanja Rokok per Kapita Naik pada Maret 2026

Dailynesia.com – Pengeluaran masyarakat Indonesia untuk rokok dan tembakau terus menunjukkan angka yang besar. Pada Maret 2026, rata-rata belanja kelompok komoditas ini mencapai Rp 94.180 per kapita dalam sebulan, melampaui sejumlah kebutuhan konsumsi lain seperti daging, pakaian, alas kaki, dan tutup kepala.

Angka tersebut tercantum dalam publikasi Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia Maret 2026 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada 5 Oktober 2026. Nilai belanja rokok dan tembakau itu meningkat dibandingkan posisi Maret 2025, ketika pengeluaran rata-rata per kapita tercatat Rp 91.708 setiap bulan.

Kenaikan ini terjadi seiring bertambahnya pengeluaran konsumsi penduduk secara keseluruhan. Rata-rata pengeluaran per kapita per bulan pada Maret 2026 berada di level Rp 1.657.281. Setahun sebelumnya, nilainya masih Rp 1.569.088 per kapita per bulan.

Lebih Tinggi dari Daging dan Padi-padian

Jika dibandingkan dengan beberapa kelompok kebutuhan sehari-hari, belanja rokok dan tembakau memiliki porsi yang menonjol. Pada Maret 2026, rata-rata pengeluaran untuk daging hanya Rp 40.352 per kapita per bulan. Nilai untuk pakaian, alas kaki, serta tutup kepala juga berada jauh di bawahnya, yaitu Rp 39.908 per kapita per bulan.

Belanja rokok bahkan sedikit melampaui pengeluaran kelompok padi-padian. Pengeluaran masyarakat untuk padi-padian tercatat sebesar Rp 92.141 per kapita per bulan, atau Rp 2.039 lebih rendah dibandingkan rata-rata belanja rokok dan tembakau.

Perbandingan ini memperlihatkan bahwa rokok masih menjadi salah satu pos konsumsi yang kuat dalam pengeluaran rumah tangga. Nilai rata-rata per kapita tidak menggambarkan pengeluaran setiap orang secara sama, karena sebagian penduduk tidak mengonsumsi rokok. Namun, angka tersebut menunjukkan besarnya pengeluaran yang tercatat ketika dibagi ke seluruh penduduk dalam cakupan survei.

Partisipasi Konsumsi Meningkat

Selain nilai belanja, BPS juga mencatat tingkat partisipasi konsumsi rokok di wilayah perkotaan dan perdesaan. Pada Maret 2026, tingkat partisipasinya mencapai 67,59%. Angka itu naik dibandingkan Maret 2025 yang berada pada 67,06%.

Tingkat partisipasi konsumsi menggambarkan proporsi penduduk yang mengonsumsi suatu jenis komoditas dalam periode pengamatan. Dengan tingkat partisipasi yang mendekati 68%, rokok tetap menjadi produk yang dikonsumsi oleh bagian besar masyarakat, baik di kota maupun desa.

Jenis yang paling dominan adalah rokok kretek filter. Konsumsi rokok kretek filter mencapai 48,56% pada Maret 2026 untuk gabungan masyarakat perkotaan dan perdesaan. Dominasi jenis ini memperlihatkan perannya yang besar dalam pola konsumsi rokok nasional.

Makna di Balik Angka Pengeluaran

Data pengeluaran konsumsi memberi gambaran mengenai prioritas belanja rumah tangga di berbagai kelompok komoditas. Kenaikan rata-rata pengeluaran secara umum dapat terjadi bersamaan dengan perubahan harga, kebutuhan, jumlah konsumsi, maupun pergeseran pilihan belanja masyarakat. Dalam kelompok rokok dan tembakau, kenaikan dari Rp 91.708 menjadi Rp 94.180 per kapita per bulan menunjukkan tambahan Rp 2.472 dalam setahun.

Besarnya belanja rokok juga penting dibaca bersama kebutuhan lain yang bersifat rutin. Pengeluaran untuk pangan, sandang, dan berbagai kebutuhan rumah tangga memiliki karakter yang berbeda-beda. Karena itu, perbandingan antarpos konsumsi dapat membantu melihat bagaimana alokasi belanja penduduk terbentuk pada suatu periode.

Rokok dan tembakau tercatat sebagai satu kelompok komoditas tersendiri dalam pengukuran konsumsi. Nilainya tidak dapat langsung dipahami sebagai pengeluaran individu perokok, sebab penghitungan per kapita mencakup seluruh penduduk. Meski begitu, angka tersebut tetap relevan untuk menunjukkan skala konsumsi kelompok barang tersebut dalam struktur belanja masyarakat.

Data Maret 2026 juga memperlihatkan bahwa pengeluaran rokok tidak hanya lebih tinggi daripada daging dan kelompok pakaian, tetapi juga melewati belanja padi-padian. Selisih dengan padi-padian memang relatif tipis, sedangkan jaraknya dengan daging serta pakaian jauh lebih besar.

Catatan Konsumsi Rumah Tangga

Perubahan pola pengeluaran penduduk menjadi salah satu indikator yang dapat digunakan untuk membaca kondisi konsumsi rumah tangga. Ketika total belanja per kapita meningkat, komposisi tiap kelompok komoditas tetap perlu diperhatikan karena tidak semua kebutuhan memperoleh porsi yang sama.

Pada Maret 2026, rata-rata pengeluaran bulanan penduduk mencapai Rp 1,65 juta per kapita, dengan Rp 94.180 di antaranya dialokasikan ke rokok dan tembakau. Nilai tersebut setara dengan sekitar 5,7% dari total rata-rata pengeluaran per kapita bulanan. Perhitungan ini menunjukkan bahwa kelompok rokok dan tembakau mengambil bagian yang cukup berarti dalam pengeluaran konsumsi penduduk.

Dengan partisipasi konsumsi yang juga meningkat, catatan BPS ini menegaskan bahwa rokok masih memiliki posisi besar dalam kebiasaan belanja masyarakat Indonesia. Rokok kretek filter menjadi jenis yang paling banyak dikonsumsi, sementara rata-rata belanja untuk kelompok rokok dan tembakau terus naik dibandingkan satu tahun sebelumnya.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Data BPS?

Data BPS is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Data BPS matter?

Data BPS matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.