Catatan Kritis Ekonom Soal Capaian Ekonomi RI 5,29% di Kuartal II-2026

2 hours ago  ·  4 min read
By William Moore - dailynesia.com
ilustrasi-perkantoran-jakarta_169

Eko Listiyanto: Pertumbuhan Ekonomi RI 5,29 Persen di Kuartal II-2026 Dipandang Rapuh

Dailynesia.com – Indef menyampaikan penilaian bahwa kinerja ekonomi nasional pada kuartal kedua tahun 2026 menunjukkan kerentanan lebih tinggi jika dibandingkan dengan capaian pada kuartal pertama 2026 maupun kuartal kedua tahun sebelumnya. Data resmi mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,29 persen pada periode tersebut. Angka ini mengalami perlambutan jika disandingkan dengan kuartal I-2026 yang mencapai 5,61 persen. Namun, pertumbuhan ini masih lebih cepat dibandingkan kuartal II-2025 yang hanya sebesar 4,97 persen.

Meskipun secara nominal pertumbuhan tahun ini lebih tinggi dari tahun lalu, Direktur Pengembangan Big Data Indef Eko Listiyanto memberikan catatan penting mengenai kualitas pertumbuhan. Dalam diskusi publik secara daring yang diselenggarakan pada Kamis, 6 Agustus 2026, Eko menyampaikan pandangannya.

Kualitas pertumbuhan yang mencemaskan. Sungguh pun pertumbuhan ekonomi secara tahunan mampu mencapai 5,29 persen dan masih di atas 5 persen, namun saya melihat dari sisi kualitas itu sebetulnya bisa saya katakan lebih buruk dibandingkan periode yang sama di tahun lalu.

Beberapa Faktor Penyebab Kerentanan Ekonomi

Eko mengidentifikasi sejumlah elemen yang menyebabkan ekonomi Indonesia terasa rapuh saat ini. Faktor-faktor tersebut meliputi konsumsi murni yang belum stabil, penurunan nilai ekspor bersih, dinamika penyerapan tenaga kerja, serta tren kemiskinan.

Menurut Eko, dorongan utama pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua 2026 berasal dari berbagai kebijakan insentif pemerintah yang berhasil mengungkit tingkat konsumsi. Namun, secara alami, pertumbuhan konsumsi ini belum menunjukkan ketahanan yang solid.

Pertumbuhan konsumsi ya baik itu pemerintah ya ataupun rumah tangga ya memang ini sebetulnya sangat bergantung dari stimulus fiskal pemerintah.

Eko menjelaskan bahwa jika intervensi fiskal dihilangkan, daya beli murni masyarakat akan mengalami tekanan. Hal ini terlihat jelas dari perbandingan data konsumsi antara triwulan pertama dan kedua. Pada triwulan pertama, konsumsi tercatat sebesar 5,52 persen, namun pada triwulan kedua langsung turun menjadi 5,06 persen.

Penurunan Daya Saing Ekspor

Salah satu tantangan lain yang dihadapi Indonesia adalah hilangnya bantalan eksternal akibat anjloknya nilai ekspor. Pada kuartal kedua 2026, komponen ekspor bersih mengalami minus sebesar 0,78. Kondisi ini lebih buruk dibandingkan kuartal dua 2025 yang hanya mencatat minus 0,02 persen, sehingga menjadi penggerus pertumbuhan.

Sebagai perbandingan, pada triwulan dua 2025, ekspor masih mampu tumbuh dengan angka double digit sebesar 10,67 persen year-on-year. Pertumbuhan impor yang mencapai 11,65 persen masih bisa diimbangi, sehingga net ekspor hanya mengurangi sumber pertumbuhan sebesar 0,02 persen.

Ini gambaran betapa kita sudah mulai kehilangan ya competitiveness di ini global gitu ya terutama dari hasil jualan export kita.

Anomali Sektor Perdagangan

Eko juga menemukan anomali dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal kedua 2026. Sektor industri mengalami peningkatan, namun penyerapan tenaga kerja justru turun. Sebagai contoh, sektor perdagangan mampu tumbuh 6,39 persen pada kuartal dua 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Di sisi lain, angka penyerapan tenaga kerja di sektor perdagangan besar dan eceran mengalami penurunan sebanyak 128.000 orang pada periode Februari 2026 hingga Mei 2026.

Itu problem utamanya dimana nih ya jangan-jangan apakah ini tergerus oleh online ya atau perdagangan besar saja ini yang sebenarnya tumbuh ya yang kecil-kecil enggak gitu ya.

Satu aspek yang lain terus kemudian ini kualitas yang lain kalau tadi kita bicara adalah ada sektor perdagangan yang anomali ya tumbuh tapi penyerapan tenaga kerjanya berkurang.

Kemiskinan Desa yang Semakin Parah

Eko juga menyoroti kondisi kemiskinan, khususnya di wilayah pedesaan yang terlihat semakin memburuk. Ia menekankan bahwa hal ini harus menjadi perhatian serius bagi pemerintah. Kualitas kemiskinan di desa mengalami penurunan, sehingga kondisi menjadi lebih parah dari sisi kedalaman indeks.

Indeks kemiskinan di desa juga meningkat, sementara dari sisi keparahan pun menunjukkan tren yang tidak menguntungkan. Eko menilai situasi ini diperparah oleh keterbatasan keuangan daerah.

Desa itu sebagian besar di daerah gitu ya daerahnya sekarang enggak bisa ngapa-ngapain karena anggaran APBD-nya itu sangat terbatas ya hari ini itu nah ini tentu akan menjadi gejolak ya artinya kualitas dari kehidupan masyarakat pedesaannya akan memburuk.

Oleh karena itu, Eko menilai bahwa berbagai masalah tersebut memerlukan perhatian yang lebih intensif dari pemerintah untuk memastikan stabilitas dan kualitas pertumbuhan ekonomi nasional ke depan.

Frequently Asked Questions

What is Catatan Kritis Ekonom Soal Capaian Ekonomi?

Catatan Kritis Ekonom Soal Capaian Ekonomi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Catatan Kritis Ekonom Soal Capaian Ekonomi matter?

Catatan Kritis Ekonom Soal Capaian Ekonomi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

More from this category