Dailynesia News
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Cari Kerja Kantoran Makin Susah, Gen Z Ramai Beralih ke Profesi Ini

Published August 15, 2026 · Updated August 15, 2026 · By Elizabeth Lopez - dailynesia.com

Foto : Elizabeth Lopez - dailynesia.com

Gen Z Beralih ke Pekerjaan Teknis Saat AI Menggeser Lapangan Kerja Kantoran

Dailynesia.com – Generasi muda kini menghadapi tantangan lebih besar dalam mencari pekerjaan di sektor perkantoran. Otomatisasi yang didorong oleh kecerdasan buatan membuat banyak perusahaan memangkas kebutuhan tenaga administrasi. Sebagai respons, Gen Z mulai mengeksplorasi jalur karier yang berbeda, khususnya profesi yang mengandalkan keterampilan fisik atau yang dikenal sebagai pekerjaan kerah biru.

Perubahan Paradigma di Amerika Serikat

Fenomena ini cukup terlihat di Amerika Serikat, di mana institusi pendidikan mengalami lonjakan peminat untuk program vokasi. Kelas-kelas pertukangan, konstruksi, manufaktur, dan pengelasan kini ramai dikunjungi. Yang menarik, pekerjaan kerah biru tidak lagi sekadar aktivitas manual biasa, melainkan telah berevolusi menjadi bidang berbasis teknologi tinggi.

SMA Middleton di AS menjadi contoh nyata transformasi ini. Sekolah tersebut mengalokasikan dana mencapai US$90 juta atau setara Rp1,5 triliun guna memperbarui fasilitas laboratorium manufaktur mereka. Di ruang tersebut, siswa tidak hanya menggunakan alat konvensional, tetapi juga mengoperasikan lengan robot yang dikendalikan melalui komputer. Kurikulum pun menghidupkan kembali mata pelajaran yang sempat populer pada dekade 1990 hingga 2000-an.

Hasilnya, program vokasi modern ini berhasil menarik perhatian sekitar 2.300 siswa dalam beberapa tahun terakhir.

Potensi Penghasilan yang Menarik

Salah satu faktor utama yang mendorong minat Gen Z adalah prospek penghasilan yang menjanjikan. Quincy Millerjohn, seorang instruktur pengelasan, menjelaskan bahwa pekerja di pabrik baja bisa mendapatkan upah antara US$41 hingga US$52 per jam. Angka tersebut setara dengan Rp727.000 sampai Rp922.000 per jam.

"Ada pergeseran paradigma. Pekerjaan tangan kini menjadi profesi dengan keahlian tinggi dan bergaji tinggi. Ini sangat menarik bagi anak muda karena mereka bisa langsung menciptakan sesuatu dengan tangan mereka sendiri," jelas John Mihm, konsultan pendidikan pemerintah negara bagian Wisconsin.

Menurut Mihm, kekhawatiran generasi muda terhadap ancaman AI di sektor administrasi turut mempercepat pergeseran minat ini. Gen Z mulai mencari keterampilan fisik yang dianggap lebih sulit digantikan oleh algoritma digital.

Infrastruktur AI Menciptakan Peluang Baru

Paradoksnya, meskipun perusahaan teknologi memangkas pekerjaan kantoran, kebutuhan terhadap tenaga teknis justru meningkat seiring pembangunan infrastruktur AI. Teknisi listrik menjadi salah satu profesi yang paling banyak dicari, terutama untuk membangun dan mengoperasikan pusat data AI.

Mike Rowe, pembawa acara televisi, mengungkapkan bahwa perusahaan AI di Silicon Valley bahkan berani memberikan kompensasi ratusan ribu dolar per tahun kepada teknisi listrik muda. Dalam podcast Power Players, Rowe berbagi pengalamannya bertemu teknisi listrik Gen Z yang bekerja di pusat data AI di Plano, Texas.

"Para teknisi listrik yang saya wawancarai dan temui dua bulan lalu di sebuah data center di Plano, Texas, semuanya berusia di bawah 30 tahun, dan semuanya menghasilkan US$240.000 hingga US$280.000 per tahun," kata Rowe, sebagaimana dikutip India Today pada Jumat (31/7/2026).

Dengan kurs sekitar Rp17.900 per dolar AS, penghasilan tersebut setara dengan Rp4,3 miliar hingga Rp5 miliar per tahun. Rowe juga menambahkan bahwa para teknisi listrik muda ini memiliki peluang mendapatkan penghasilan tambahan melalui lembur. Selain itu, keterampilan mereka membuat perusahaan lain saling berebut merekrut mereka.

"Mereka bisa bekerja lembur sebanyak yang mereka inginkan, tidak punya utang, dan ketiganya dibajak perusahaan lain tiga kali dalam 18 bulan terakhir," ujarnya.

Peningkatan permintaan terhadap teknisi listrik ini tidak terlepas dari pesatnya pembangunan infrastruktur AI. Pusat data menjadi komponen krusial karena sistem AI memerlukan ribuan GPU untuk menjalankan berbagai model dan layanan. Semakin besar kebutuhan AI, semakin banyak pusat data yang harus dibangun, yang kemudian menciptakan permintaan baru terhadap tenaga teknis.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Cari Kerja Kantoran Makin Susah Gen Z?

Cari Kerja Kantoran Makin Susah Gen Z is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Cari Kerja Kantoran Makin Susah Gen Z matter?

Cari Kerja Kantoran Makin Susah Gen Z matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.