Dailynesia News
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

BPKH Incar Investasi Hotel, Katering & Logistik Haji di Saudi

Published October 16, 2026 · Updated October 16, 2026 · By Linda Davis - dailynesia.com

Foto : Linda Davis - dailynesia.com

BPKH Jajaki Investasi Langsung untuk Ekosistem Haji di Arab Saudi

Dailynesia.com – Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) membuka peluang investasi langsung pada layanan haji di Arab Saudi, dengan fokus pada akomodasi, katering, dan logistik di Makkah serta Madinah. Langkah ini diarahkan untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai layanan bagi jemaah, sekaligus mendukung kualitas pelayanan yang lebih terjaga.

Ketua Dewan Pengawas BPKH, Firmansyah N. Nazaroedin, menyampaikan rencana tersebut dalam Hajj Fund Forum ISEF 2026 di JICC, Jakarta, Kamis (15/10/2026). Ia melihat transformasi ekonomi Arab Saudi melalui Visi Saudi 2030 sebagai ruang strategis bagi Indonesia untuk berperan lebih jauh dalam penyediaan layanan haji.

“Sejalan dengan Visi Arab Saudi 2030, kita perlu memperkuat peran tidak hanya sebagai pengguna layanan haji, tetapi juga sebagai mitra investasi strategis dalam ekosistem haji-khususnya di sektor akomodasi, katering, dan logistik di Makkah dan Madinah,” ungkap Firmansyah N. Nazaroedin.

Selama ini, kebutuhan jemaah Indonesia di Tanah Suci sangat besar, mulai dari tempat tinggal hingga konsumsi dan mobilitas. Keterlibatan investasi pada sektor-sektor tersebut dinilai dapat memberi dasar yang lebih kuat bagi penyediaan layanan haji, terutama untuk menjaga keandalan kebutuhan dasar jemaah selama menjalankan ibadah.

Firmansyah menilai investasi riil yang dipilih secara cermat juga berpotensi membantu BPKH menghadapi risiko nilai tukar dan inflasi. Di saat yang sama, investasi semacam itu diharapkan dapat mendukung layanan yang semakin baik bagi jemaah asal Indonesia.

Peluang Jangka Panjang Tetap Memerlukan Kehati-hatian

Penasihat Khusus Presiden Bidang Urusan Haji, Muhadjir Effendy, menyebut terdapat peluang untuk membuka pemukiman dengan ketentuan tertentu, termasuk melalui kerja sama dengan pihak yang berwenang di Arab Saudi. Peluang tersebut hadir seiring perubahan berkelanjutan dalam ekosistem haji dan umrah di negara tersebut.

Perkembangan ini membuka kemungkinan investasi dalam berbagai bidang yang saling berkaitan. Selain infrastruktur dan perhotelan, sektor transportasi, teknologi, serta layanan pendukung juga menjadi bagian dari ekosistem yang dapat dipertimbangkan untuk investasi jangka panjang.

“Meski demikian, keputusan investasi harus tetap menghormati mandat kelembagaan, peraturan yang berlaku, kepatuhan terhadap prinsip syariah, serta manajemen risiko yang bijaksana,” ucap Muhadjir pada kesempatan yang sama.

Ia menekankan bahwa arah utama pemerintah tetap pada investasi yang bertanggung jawab. Nilai yang dihasilkan harus bersifat berkelanjutan, tanpa mengabaikan keamanan dana maupun kepentingan jemaah haji Indonesia.

Prinsip kehati-hatian menjadi penting karena dana haji memiliki mandat khusus. Rencana investasi tidak hanya dinilai dari potensi keuntungan finansial, melainkan juga dari kesesuaiannya dengan prinsip syariah, aturan yang berlaku, dan manfaat yang dapat dirasakan dalam penyelenggaraan haji.

Danantara Lanjutkan Pengembangan Kampung Haji

Di sisi lain, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara masih mengembangkan Kampung Haji di Makkah sebagai pusat akomodasi bagi jemaah Indonesia. Program ini dijalankan untuk memenuhi Instruksi Presiden Nomor 15 Tahun 2025.

Direktur Pelaksana Danantara, Rohan Hafas, menjelaskan bahwa pengembangan terbaru memasuki tahap menanti hasil tender pengelolaan lahan di kawasan Ajyad Al Sadd. Lahan yang ditunggu hasil tendernya adalah Plot No. 3, dengan luas 32,2 hektare dan lokasi sekitar 650 meter dari Masjidil Haram.

“Saat ini, kami sedang menunggu hasil tender untuk Plot No. 3 di area Ajyad Al Sadd, sebuah lahan seluas 32,2 hektare yang berjarak hanya 650 meter dari Masjidil Haram,” kata Rohan dalam acara Internasional Hajj Fund Forum ISEF 2026, Jakarta, Kamis (15/10/2026).

Apabila tender tersebut berhasil dimenangkan, Danantara setidaknya akan memiliki dua aset lahan yang dapat dikembangkan dalam kerangka Kampung Haji. Salah satu aset yang telah dipercaya untuk dikelola adalah kawasan Thakher City, yang diperoleh sejak akhir tahun lalu.

Di Thakher City, Danantara sedang mempersiapkan 14 bidang tanah atau plot. Kawasan itu dirancang sebagai ekosistem terpadu yang mencakup hotel, ruang komersial, tempat ibadah, area publik, serta fasilitas pendukung lain. Kapasitasnya diproyeksikan dapat menampung sekitar 18.000 jemaah dalam waktu bersamaan.

“Pembangunan Thakher City merupakan bagian dari inisiatif Kampung Haji yang lebih luas dalam rangka memenuhi Instruksi Presiden Nomor 15,” tegas Rohan Hafas.

Pengembangan tersebut juga telah ditopang oleh akuisisi Novotel Makkah Thakher City. Hotel itu memiliki 1.461 kamar dengan kapasitas sekitar 4.400 jemaah haji.

“Hotel ini merupakan fondasi pertama dari kehadiran Indonesia dalam ekosistem layanan haji dan umrah di Makkah,” katanya.

Investasi BPKH dan pengembangan Kampung Haji oleh Danantara menunjukkan upaya Indonesia untuk memperluas perannya di ekosistem haji Arab Saudi. Fokusnya bukan semata kepemilikan aset, tetapi juga membangun dukungan layanan yang relevan bagi jemaah Indonesia dalam jangka panjang.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is BPKH Incar Investasi Hotel Katering Logistik?

BPKH Incar Investasi Hotel Katering Logistik is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does BPKH Incar Investasi Hotel Katering Logistik matter?

BPKH Incar Investasi Hotel Katering Logistik matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.