Dailynesia News
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Bahlil Usulkan Lifting Minyak Harian di 2027 Tembus 612.500 Barel

Published September 1, 2026 · Updated September 1, 2026 · By Daniel Rodriguez - dailynesia.com

Foto : Daniel Rodriguez - dailynesia.com

Target Produksi Migas 2027 Ditetapkan di Bawah Level 2026, Pemerintah Fokus pada Akuntabilitas Kinerja Hulu

Dailynesia.com – Pemerintah Indonesia menetapkan ambang produksi siap jual (lifting) minyak dan gas bumi untuk tahun anggaran 2027 pada level yang sedikit lebih rendah dibandingkan tahun berjalan. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengusulkan angka lifting minyak sebesar 612.500 barel per hari (bph) serta lifting gas bumi sebesar 954.000 barel setara minyak per hari (BOEPD) dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027. Secara agregat, total lifting migas yang diusulkan menyentuh 1,56 juta BOEPD.

Perbandingan dengan tahun 2026 memperlihatkan pergeseran tipis ke bawah. Pada APBN 2026, target lifting minyak ditetapkan 610.000 bph dan gas bumi 984.000 BOEPD, sehingga totalnya mencapai 1,59 juta BOEPD. Artinya, usulan 2027 memangkas sekitar 30.000 BOEPD dari total produksi yang direncanakan setahun sebelumnya. Penyesuaian ini bukan tanpa alasan: pemerintah ingin memastikan angka yang ditetapkan realistis sekaligus menjadi tolok ukur kinerja Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) secara lebih terukur.

Pernyataan Menteri ESDM dalam Rapat Kerja DPR

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan langsung usulan tersebut saat menghadiri Rapat Kerja bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, Senin (31/8/2026). Ia menegaskan bahwa penetapan angka produksi bukan sekadar formalitas fiskal, melainkan instrumen pengawasan terhadap eksekusi operasional di lapangan.

"Lifting minyak gas dan bumi pada RAPBN tahun 2027 diusulkan sebesar 1,564 juta barel setara minyak per hari, dengan rincian untuk lifting minyak bumi itu di sekitar 612.500 barel per hari supaya kerja Kepala SKK Migas juga kelihatan."

"Yang kedua, lifting gas bumi sebesar 954.000 barel setara minyak per hari."

Di samping target produksi, pemerintah juga mengusulkan alokasi Cost Recovery senilai US$ 10,1 miliar guna menopang operasional sektor hulu. Angka ini mencakup pengembalian biaya operasi dan investasi kontraktor kontrak kerja sama yang memenuhi syarat. Berjalan beriringan dengan usulan tersebut, asumsi harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) dipatok pada US$ 75 per barel.

Volatilitas Harga dan Analogi Malaria

Bahlil mengakui bahwa angka US$ 75 per barel bersifat estimatif. Dinamika harga minyak dunia saat ini sangat tidak menentu akibat konflik geopolitik global yang belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian. Ia menggunakan analogi penyakit malaria untuk menggambarkan sifat fluktuatif harga energi: bisa turun drastis di satu waktu, lalu melonjak kembali beberapa jam kemudian.

"Kita tahu bahwa dinamika global, perang masih belum bisa kita prediksi kapan selesai. Dan harga minyak dunia ini saya menganalogikan seperti penyakit malaria. Pagi sembuh, sore bisa bangkit lagi penyakitnya."

Konteks ini penting bagi pembaca: setiap kenaikan harga minyak di atas asumsi ICP akan menambah penerimaan negara dari sektor migas, sementara penurunan di bawah level tersebut berpotensi menggerus ruang fiskal. Oleh karena itu, penetapan asumsi yang konservatif sekaligus realistis menjadi kunci agar APBN tidak terlalu bergantung pada skenario harga yang optimistis.

Realisasi Produksi per Juli 2026: Masih di Bawah Target

Data SKK Migas per 31 Juli 2026 menunjukkan realisasi produksi minyak, kondensat, dan natural gas liquid (NGL) nasional berada di angka 578.156 bph. Capaian itu baru memenuhi 94,8% dari target lifting minyak APBN 2026 sebesar 610.000 bph. Kesenjangan sekitar 31.844 bph per hari mengindikasikan bahwa sejumlah lapangan minyak belum beroperasi pada kapasitas penuh.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto, dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI pada Kamis (27/8/2026), mengidentifikasi dua kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) yang paling jauh tertinggal dari target produksi. Keduanya adalah ExxonMobil Cepu Ltd dan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), yang secara kolektif menyumbang defisit sekitar 54.500 bph terhadap target gabungan.

"Yang paling parah adalah ExxonMobil dan Pertamina Hulu Rokan yang tadi sudah saya sampaikan, Pak Dirjen maupun saya jelaskan, itu totalnya dari dua KKKS 54.500, itu yang di bawah target."

Rincian Kinerja Dua Produsen Terbesar

ExxonMobil Cepu mencatat realisasi produksi 124.266 bph dari Blok Cepu, Jawa Tengah. Angka tersebut setara 83,7% dari target APBN 2026 yang ditetapkan 148.500 bph. Selisih sekitar 24.234 bph per hari mencerminkan kendala teknis atau operasional yang belum sepenuhnya teratasi di lapangan Cepu.

PHR, operator Blok Rokan di Riau, membukukan produksi 133.581 bph. Target APBN 2026 untuk blok tersebut adalah 163.859 bph, sehingga realisasi baru mencapai 81,5%. Defisit sekitar 30.278 bph per hari menjadikan Blok Rokan sebagai penyumbang terbesar kesenjangan produksi nasional.

Untuk sektor gas, rata-rata produksi hingga Juli 2026 tercatat 6.544 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD), masih di bawah target APBN 2026 sebesar 6.837 MMSCFD. Kesenjangan sekitar 293 MMSCFD menunjukkan tekanan pada pasokan gas yang berdampak langsung pada sektor hilir, termasuk pembangkit listrik dan industri manufaktur.

Perbandingan Tahunan: Tren Penurunan Produksi

Realisasi produksi minyak sepanjang 2025 tercatat 606,1 ribu bph, sementara produksi gas berada di level 6.753 MMSCFD. Dibandingkan dengan capaian 2026 yang lebih rendah di kedua sektor, tren produksi migas nasional menunjukkan penurunan bertahap. Fenomena ini sejalan dengan karakteristik reservoir yang menua di sejumlah lapangan konvensional, di mana laju penurunan alami (natural decline rate) meningkat seiring berkurangnya tekanan formasi.

Di tengah tren penurunan tersebut, usulan target 2027 yang sedikit lebih rendah dari 2026 dapat dibaca sebagai langkah kalibrasi: pemerintah menyesuaikan ekspektasi fiskal dengan kapasitas aktual yang dapat dicapai, sambil tetap memberikan tekanan akuntabilitas kepada SKK Migas untuk mempersempit kesenjangan produksi. Keberhasilan strategi ini akan sangat bergantung pada percepatan pengembangan lapangan-lapangan baru, optimalisasi produksi di blok-blok eksisting, serta efektivitas mekanisme Cost Recovery dalam menjaga insentif investasi kontraktor.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Bahlil Usulkan Lifting Minyak Harian di 2027?

Bahlil Usulkan Lifting Minyak Harian di 2027 is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Bahlil Usulkan Lifting Minyak Harian di 2027 matter?

Bahlil Usulkan Lifting Minyak Harian di 2027 matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.