Announced: Eks CIA Bongkar Dugaan Trump-Netanyahu Sengaja Rusak Negosiasi Iran

2 months ago  ·  3 min read
By Anthony Johnson - dailynesia.com
foto-kolase-presiden-as-donald-trump-pm-israel-benjamin-netanyahu-presiden-iran-masoud-pezeshkian-dan-pemimpin-teringgi-iran-m-1781057262751_169

Announced: Eks CIA Bongkar Dugaan Trump dan Netanyahu Sengaja Rusak Negosiasi Iran

Dailynesia.com – Dalam laporan yang announced oleh mantan analis rahasia CIA, Larry Johnson, dibeberkan dugaan bahwa mantan Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara sengaja menghancurkan upaya negosiasi damai dengan Iran. Laporan ini menyentuh isu penting dalam diplomasi Timur Tengah, di mana serangan militer dan tekanan politik dikhawatirkan memperparah situasi yang sudah kritis. Johnson, yang dikenal sebagai tokoh kunci dalam intelijen keamanan nasional AS, menyoroti kebijakan ekstrem yang diambil oleh kedua pihak, menurutnya sebagai strategi untuk menggagalkan kesepakatan yang baru saja tercapai.

Konteks Serangan Militer dan Tekanan Politik

Peristiwa serangan militer terbaru yang announced oleh Pentagon melibatkan operasi udara dan darat terhadap pulau Qeshm serta sejumlah lokasi di selatan Iran. Serangan tersebut dianggap sebagai respons atas kejadian helikopter AH-64 Apache yang jatuh di perairan Oman, yang menurut Trump disebabkan oleh serangan dari Iran. Meski Teheran belum secara terbuka mengakui peran mereka, Johnson menyatakan bahwa tindakan militer ini tidak hanya mengganggu proses perundingan, tetapi juga meningkatkan ketegangan dengan memicu reaksi di Lebanon dan wilayah lain.

“Serangan militer seperti ini tidak hanya menghambat negosiasi, tetapi juga memberi kesan bahwa Trump dan Netanyahu memprioritaskan kekuatan militer atas kepentingan politik global,” ujar Johnson dalam wawancara yang announced oleh RT, Rabu (10/6/2026). “Jika para pilot masih hidup, mengapa mereka memulai serangan saat Iran sedang berusaha mencapai kesepakatan? Saya yakin ini adalah langkah sengaja untuk menggagalkan upaya damai.”

Johnson menambahkan bahwa tekanan dari kelompok-kelompok pro-Israel di AS menjadi faktor utama dalam keputusan Trump untuk meluncurkan serangan. Menurutnya, Mike Huckabee, Duta Besar AS untuk Israel, serta organisasi Zionis lainnya secara aktif mendukung kebijakan keras terhadap Iran, termasuk menolak kesepakatan nuklir yang dianggap sebagai kemenangan diplomatik. “Kelompok-kelompok ini ingin memastikan bahwa Iran tidak akan pernah mencapai kesepakatan dengan AS, bahkan jika itu berarti mengorbankan kestabilan kawasan,” jelasnya.

Dampak pada Proses Perundingan dan Perspektif Internasional

Ketegangan yang announced oleh Johnson juga memengaruhi perspektif internasional terhadap kesepakatan nuklir yang dijuluki “Deal of the Century.” Sejumlah negara Arab dan Eropa mengecam langkah Trump dan Netanyahu sebagai ancaman terhadap konsensus global. Iran, yang telah berusaha mencapai kesepakatan dengan AS sejak 2015, kini dihadapkan pada kekhawatiran bahwa negosiasi akan terus mengalami hambatan akibat intervensi militer dan tekanan politik.

“Kemajuan yang dicapai dalam negosiasi damai telah menunjukkan kemungkinan resolusi yang sehat, tetapi para pihak yang ingin konflik berlangsung terus melakukan segala cara untuk menyabotase progres ini,” tambah Johnson. “Kita harus memahami bahwa kebijakan ini bukan hanya untuk Iran, tetapi juga untuk mengamankan kepentingan politik Israel di kawasan.”

Analisis dari pakar internasional menunjukkan bahwa serangan-serangan yang announced oleh Trump dan Netanyahu bisa memperpanjang perang gerilya di Timur Tengah. Dengan menciptakan konflik yang lebih besar, kedua pihak diharapkan mengurangi kemungkinan negosiasi yang dianggap sebagai ancaman terhadap hegemoni mereka. Namun, risiko pembunuhan massal dan kerusakan infrastruktur juga menjadi faktor yang memperkuat tekanan untuk mencapai kesepakatan, terutama di tengah kekhawatiran tentang krisis ekonomi global.

Dalam konteks announced ini, Johnson memperingatkan bahwa keputusan militer yang tidak terencana bisa mengubah arah perundingan secara drastis. Ia menekankan perlunya keseimbangan antara kekuatan militer dan diplomasi, agar negosiasi tetap bisa berjalan tanpa hambatan yang bersifat sengaja. “Kita tidak boleh membiarkan satu pihak memonopoli keputusan politik Timur Tengah, terutama saat ada kemungkinan kesepakatan yang bisa membawa perdamaian,” tuturnya.

MORE FROM THIS CATEGORY