Ancaman El Nino di Depan Mata, Pemerintah Perlu Lakukan Ini!
Ancaman El Nino di Depan: Pemerintah Harus Siapkan Strategi Jangka Panjang
Dailynesia.com – Ancaman El Nino di Depan Mata menjadi perhatian serius bagi stabilitas ekonomi nasional. Leo Putera Rinaldy, Chief Economist PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI), menegaskan bahwa pemerintah perlu mengambil langkah proaktif untuk mengendalikan inflasi pangan. Fenomena cuaca ekstrem ini diprediksi akan memberikan dampak signifikan terhadap output pangan nasional jika tidak ditangani dengan tepat.
Proyeksi Durasi dan Intensitas Fenomena
Berdasarkan analisis Nino Index dari BMKG maupun Columbia University, puncak fenomena El Nino diperkirakan terjadi pada rentang Agustus hingga September 2026. Kondisi ini tidak hanya bersifat sementara, melainkan diproyeksikan akan bertahan hingga memasuki semester pertama tahun depan. Durasi yang panjang ini menuntut kesiapan kebijakan yang komprehensif dari pemerintah.
"Nah, kalau kita lihat Nino Index dari BMKG atau contohnya Columbia University, itu peak dari El Nino itu diperkirakan akan terjadi di bulan Agustus-September, dan El Nino-nya ini mungkin masih akan berlangsung sampai semester pertama tahun depan," ujar dia dalam Power Lunch, Kamis (13/8/2026).
Kesenjangan Inflasi Konsumen dan Produsen
Selain faktor cuaca, pemerintah juga perlu memperhatikan potensi kenaikan harga yang bersumber dari biaya produksi. Terdapat perbedaan signifikan antara inflasi konsumen atau Consumer Price Index (CPI) dengan inflasi produsen atau Wholesale Price Index (WPI). Saat ini, CPI inflation berada di bawah 3% year-on-year, sementara WPI inflation yang menjadi proxy dari producer inflation, berada di 5,6%.
"Jadi, pass-through biaya yang tadi kita diskusikan, kalau kita lihat CPI inflation kita, itu berada di bawah 3% year-on-year, tapi WPI inflation yang menjadi proxy dari producer inflation, itu sekarang berada di 5,6%," jelasnya.
Kesenjangan ini memberikan sinyal bahwa pelaku usaha saat ini cenderung menahan kenaikan biaya produksi agar beban tidak langsung dirasakan oleh konsumen. Strategi ini diambil sebagai upaya menjaga pangsa pasar, meskipun ada risiko menyusutnya margin yang diterima oleh pelaku usaha. Namun, tampaknya ruang bagi mereka untuk menekan margin lagi itu sudah terbatas, sehingga ada potensi pass-through nanti yang ke consumer prices.
Stimulus Sisi Pasokan sebagai Solusi
Oleh sebab itu, Leo menganggap pemerintah harus memperkuat stimulus dari sisi pasokan. Kebijakan ini sangat dibutuhkan guna menjaga ketersediaan maupun kelancaran distribusi pangan, termasuk menekan kenaikan biaya produksi di sektor swasta. Langkah ini akan membantu mencegah kenaikan harga yang berlebihan kepada konsumen akhir.
"Nah, ini yang perlu dimonitor, dan tadi, kenapa stimulus dari sisi supply side-nya menjadi penting untuk memastikan kenaikan biaya produksi di sisi swasta itu tidak sampai pass-through ke sisi consumer prices," pungkasnya.
FAQ: Ancaman El Nino di Depan
Apa dampak utama El Nino terhadap ekonomi Indonesia? El Nino dapat menekan output pangan nasional dan meningkatkan biaya produksi, yang berpotensi mendorong inflasi jika tidak ditangani dengan kebijakan yang tepat.
Kapan puncak El Nino diprediksi terjadi? Berdasarkan data Nino Index dari BMKG dan Columbia University, puncak El Nino diproyeksikan terjadi pada Agustus hingga September 2026.
Apa solusi yang disarankan untuk mengatasi ancaman ini? Pemerintah perlu memperkuat stimulus dari sisi pasokan untuk menjaga ketersediaan pangan dan mencegah pass-through biaya produksi ke harga konsumen.
Berapa lama El Nino diperkirakan bertahan? Kondisi El Nino diperkirakan akan berlangsung hingga semester pertama tahun depan, memberikan waktu bagi pemerintah untuk menyiapkan strategi jangka panjang.