2 WNA Masih Hilang Saat Gunung Dukono Meletus, Ini Identitasnya
Dailynesia.com – Erupsi Gunung Dukono pada Jumat (8/5) menjadi perhatian besar karena dua warga negara asing (WNA) masih belum ditemukan. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Halmahera Utara, Idris, mengatakan bahwa tim SAR gabungan masih melakukan pencarian intensif di kawasan yang penuh risiko. Aktivitas vulkanik yang meningkat, termasuk lontaran lava pijar, membuat pendaki dan warga sekitar berada dalam bahaya. Sejauh ini, 14 dari 20 pendaki yang terdampak telah ditemukan dalam kondisi aman, tetapi dua WNA masih hilang dan menjadi fokus utama operasi penyelamatan.
Detail Pendaki yang Hilang
Kedua pendaki asing yang masih dalam pencarian adalah H.W.Q.T. (L, 30 tahun) dan S.M.B.A.H. (L, 27 tahun). Mereka berasal dari Singapura dan merupakan bagian dari rombongan 9 WNA yang turut serta dalam pendakian tersebut. Tim SAR terus memperluas area pencarian, termasuk di sekitar jalur yang terkena dampak erupsi. Dengan adanya lava pijar yang mengalir hingga 1,5 kilometer dari kawah, operasi awal sempat dihentikan pada pukul 14.10 WIB untuk menghindari risiko keterlibatan personel di area berbahaya.
Strategi Pencarian dan Evakuasi
Setelah kondisi stabil, tim SAR kembali bergerak dan membagi operasi menjadi dua titik utama. Satu tim mengejar jalur pendakian ke puncak gunung, sementara tim lain menyisir aliran sungai dekat kawah. Kepala Pelaksana BPBD Halmahera Utara, Abdul Muhari, menegaskan bahwa proses evakuasi dilakukan secara hati-hati karena aktivitas vulkanik Gunung Dukono masih fluktuatif. “Kita harus siap menghadapi perubahan cuaca dan intensitas erupsi kapan saja,” tambahnya.
Sebagai bagian dari upaya penyelamatan, pesawat nirawak (drone) digunakan untuk memantau area dari udara. Alat ini membantu mengidentifikasi posisi pendaki yang terjebak dan mengurangi risiko keterlibatan langsung di medan ekstrem. Selain itu, tim medis setempat siap menangani cedera yang mungkin terjadi selama operasi. Koordinasi antar tim SAR, Basarnas, TNI/Polri, dan relawan menjadi kunci keberhasilan pencarian hingga saat ini.
“Erupsi Gunung Dukono menunjukkan bahwa kita perlu lebih waspada terhadap risiko alam,” kata seorang pengamat vulkanologi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). “Kawasan yang terkena lontaran lava dan abu vulkanik harus diberi peringatan darurat hingga kondisi stabil.”
Upaya Mencegah Risiko Selama Aktivitas Vulkanik
BNPB mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk menghindari area Gunung Dukono selama aktivitas vulkanik meningkat. Dalam situasi darurat, warga disarankan mengikuti instruksi dari pemerintah daerah dan PVMBG untuk memastikan keselamatan. Erupsi Gunung Dukono yang terjadi pada hari itu disebut-sebut sebagai salah satu yang paling intens dalam beberapa bulan terakhir, dengan kolom abu mencapai ketinggian hingga 2.000 meter.
Pendaki yang terdampak erupsi juga diharapkan mengecek kondisi cuaca dan seismik sebelum berangkat. Sementara itu, tim SAR terus mengevaluasi jalur penyelamatan dan memperluas cakupan pencarian. “Kita masih optimis bisa menemukan dua WNA yang hilang, tapi perlu waktu lebih lama karena kondisi medan yang berubah setiap saat,” ujar Idris, yang menambahkan bahwa pihaknya sedang memantau kemungkinan keterlibatan perangkat teknologi untuk mempercepat proses.

