Special Plan: Generasi Muda Diimbau Kurangi Penggunaan Paylater, Potensi Risiko Keuangan Menantikan
Dailynesia.com – Dalam era teknologi keuangan yang semakin berkembang, metode pembayaran paylater telah menjadi tren yang cukup populer di kalangan generasi muda. Namun, menurut Brand Manager BNI cabang kampus UGM, Diah Charmaningtyas, penggunaan paylater secara berlebihan bisa mengganggu manajemen keuangan pribadi. Dalam acara Edu Class bertema “Special Plan: Financial Management for Sustainable Growth” yang diadakan di Jogja Financial Festival 2026, Diah menyoroti bahwa kebiasaan ini perlu diperhatikan karena bisa mengakibatkan kebiasaan belanja impulsif.
Paylater, atau metode pembayaran “beli dulu bayar kemudian”, memungkinkan pengguna memperoleh barang atau jasa dengan memanfaatkan kredit. Meski memberi kebebasan belanja, Diah mengingatkan bahwa terlalu sering menggunakan paylater tanpa perencanaan matang dapat menyebabkan pengeluaran tidak terkendali. “Special Plan” ini menjadi strategi yang dianjurkan untuk membantu pengguna muda mengatur keuangan, termasuk membatasi penggunaan fitur paylater.
“Dalam penggunaan paylater, penting untuk memahami bahwa cicilan yang menumpuk bisa mengurangi kemampuan finansial jangka panjang. Banyak dari generasi muda tidak sadar bahwa pengeluaran yang terlihat kecil hari ini bisa menjadi beban besar di masa depan,” ungkap Diah dalam sesi Edu Class. Ia menambahkan bahwa kebiasaan ini perlu diimbangi dengan kebiasaan mencatat arus kas secara rutin agar tidak mengakibatkan ketidakseimbangan dalam pengeluaran.
Pengaruh Paylater pada Gaya Hidup dan Kebutuhan Finansial
Kebiasaan belanja impulsif melalui paylater sering kali diakibatkan oleh kurangnya kesadaran mengenai kebutuhan versus keinginan. Diah menjelaskan bahwa banyak pemuda membeli barang hanya karena ada kemudahan pembayaran dan kenyamanan penggunaan fitur tersebut, tanpa mempertimbangkan kemampuan finansial yang sebenarnya. “Ini bisa memicu gaya hidup konsumtif yang tidak sesuai dengan kemampuan penghasilan, bahkan saat pendapatan belum meningkat secara signifikan,” tambahnya.
Salah satu contoh yang sering terjadi adalah penggunaan berbagai layanan digital. Diah menyoroti bahwa banyak pemuda saat ini membeli langganan untuk hiburan maupun edukasi, seperti Spotify, YouTube, dan Canva. Jika tidak dikelola dengan baik, hal ini bisa berujung pada pengeluaran yang tidak terkendali. “Special Plan” yang dibuat sebagai pedoman keuangan berkelanjutan menekankan pentingnya pengaturan anggaran dan pengecekan rutin terhadap pengeluaran untuk mencegah kehabisan dana.
Diah juga mengingatkan bahwa penggunaan paylater berulang bisa memicu ketergantungan pada kredit. Hal ini berisiko mengakibatkan kenaikan utang yang pesat, terutama jika pengguna tidak memperhatikan jangka waktu pembayaran dan bunga yang dikenakan. “Special Plan” menyarankan penggunaan fitur paylater sebagai alat bantu, bukan solusi utama, agar pengeluaran tetap terarah dan sesuai dengan target keuangan jangka panjang.
Menurut Diah, manajemen keuangan yang efektif memerlukan kesadaran akan pengeluaran dan pemasukan. “Kita harus memiliki perencanaan keuangan yang matang, termasuk mengetahui kebutuhan belanja dan cara memenuhi tujuan finansial,” jelasnya. Dengan mengintegrasikan “Special Plan” ke dalam kebiasaan sehari-hari, generasi muda bisa menghindari risiko kehabisan dana dan membangun kebiasaan mengatur uang secara lebih bijak.
Dalam memperkuat “Special Plan”, Diah menyarankan pengguna untuk membuat rencana keuangan bulanan dan mengikuti metode penghematan yang terstruktur. Hal ini termasuk membatasi penggunaan paylater untuk belanja yang tidak penting, serta mengalokasikan dana untuk tabungan dan investasi. “Special Plan” tidak hanya berfokus pada pengeluaran, tetapi juga mengajak generasi muda memahami kepentingan menabung dan berinvestasi untuk masa depan yang lebih stabil.
Menutup sesinya, Diah mengingatkan bahwa kesadaran keuangan adalah kunci keberhasilan dalam mengelola uang. “Special Plan” yang diusulkan menjadi alat untuk membantu generasi muda mengembangkan kebiasaan belanja yang sehat, sekaligus meminimalkan risiko keuangan yang mungkin terjadi. Dengan memahami dampak negatif dari penggunaan paylater berlebihan, generasi muda bisa menjadi lebih bijak dalam mengatur keuangan pribadi mereka.

