Saham Komoditas Ambles Hari Ini, Sentimen Jangka Pendek atau Panjang?

3 months ago  ·  3 min read
By Anthony Johnson - dailynesia.com
ilustrasi-bursa-efek-indonesia-cnbc-indonesiaandrean-kristianto-13_169

Saham Komoditas Turun Hari Ini, Sentimen Jangka Pendek atau Panjang?

Dailynesia.com – Jakarta, CNBC Indonesia — Pasar saham komoditas mengalami penurunan tajam pada perdagangan hari ini, dengan beberapa emiten sektor nikel, tambang, pengolahan mineral, dan produsen bahan baterai terlihat melemah signifikan. Analis MNC Sekuritas, Herditya, menyatakan bahwa kejatuhan saham-saham tersebut diakibatkan oleh rencana pemerintah dalam Special Plan untuk meningkatkan royalti minerba melalui revisi PP 19/2025. Menurutnya, kenaikan rata-rata 3-10% dalam harga komoditas bisa mengurangi margin emiten, terutama yang terlibat dalam produksi nikel dan mineral lainnya.

Analisis: Kenaikan Harga Komoditas dan Tekanan Margin

Kami perkirakan kenaikan rata-rata 3-10% akan berdampak cukup besar, mengurangi margin emiten yang terlibat, ujarnya kepada CNBC Indonesia, Jumat (8/5/2026).

Herditya menambahkan bahwa penurunan ini tidak hanya terjadi karena kebijakan Special Plan, tetapi juga dipengaruhi oleh dinamika pasar global. Kebijakan tersebut memberikan sinyal bahwa pemerintah akan memperketat kontrol atas sumber daya alam, sehingga membuat investor cenderung berhati-hati terhadap sektor yang rentan terhadap perubahan harga. Selain itu, tekanan dari persaingan internasional dalam produksi mineral seperti nikel dan tembaga juga menjadi faktor pendorong.

Alih-alih Kenaikan, Sentimen Negatif Terhadap Saham Tambang

Analisis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengungkapkan bahwa koreksi saham tambang hari ini lebih disebabkan oleh kekhawatiran investor terhadap isu free float dan perubahan status indeks MSCI. “Sentimen ini membuat investor asing lebih cenderung mengurangi investasi pada saham berkapitalisasi besar dengan kepemilikan publik yang terbatas,” jelasnya. Leong juga memprediksi bahwa jika ada penyesuaian bobot saham Indonesia di indeks global, maka kemungkinan aliran dana asing keluar akan meningkat, terutama pada saham tambang, energi, dan perusahaan konglomerat.

Kondisi ini mencerminkan pergeseran sentimen pasar yang lebih memilih aset berisiko lebih rendah. Dalam konteks global, pasar cenderung mengambil sikap Special Plan saat ini akibat meningkatnya ketegangan geopolitik dan kekhawatiran mengenai perlambatan ekonomi dunia. Investor menghindari aset berisiko di pasar emerging, termasuk Indonesia, karena mencari perlindungan terhadap fluktuasi harga yang tidak pasti.

Penurunan Harga dan Faktor Teknis

Dalam analisisnya, Leong menekankan bahwa penurunan harga saham tambang hari ini tidak hanya dipengaruhi oleh aspek fundamental, tetapi juga oleh faktor teknis. “Saham nikel dan tembaga juga terpengaruh oleh kecemasan oversupply serta penurunan harga komoditas tertentu. Selain itu, faktor teknis seperti profit taking memperkuat tekanan jual,” pungkasnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa investor sedang melakukan aksi jual masif, terutama pada emiten yang sebelumnya mengalami kenaikan signifikan.

Sebagai informasi, beberapa saham perusahaan tambang tercatat mengalami penurunan signifikan. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) turun 3,09% ke level 3.760 atau mengalami penurunan 120 poin. PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) terkoreksi lebih dalam sebesar 5,66% ke posisi 750 atau menyentuh 45 poin kehilangan nilai. PT Ifishdeco Tbk (IFSH) juga merosot 4,61% ke level 2.070. Di sisi lain, PT Sinar Terang Mandiri Tbk (MINE) hanya turun 0,58% ke level 340, sementara PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) melemah 7,24% ke posisi 1.025.

Tebaran tekanan jual terbesar terjadi pada PT Vale Indonesia Tbk (INCO), yang anjlok 11,11% atau 700 poin ke posisi 5.600. PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) mengalami penurunan 9,16% ke level 595. Meski demikian, Herditya memperkirakan bahwa potensi penguatan sementara masih bisa terjadi jika investor mulai memperbaiki posisi mereka setelah koreksi. “Kami mengharapkan adanya momentum penguatan di akhir minggu ini, terutama terkait Special Plan yang diharapkan mampu memberikan kejelasan kebijakan jangka panjang,” tambahnya.

MORE FROM THIS CATEGORY