Dailynesia News
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Rajin Datangi Gunung Kawi, 2 Pengusaha RI Jadi Konglomerat

Published August 30, 2026 · Updated August 30, 2026 · By Linda Davis - dailynesia.com

Foto : Linda Davis - dailynesia.com

Jejak Spiritual Gunung Kawi dalam Lahirnya Dua Raksasa Industri Indonesia

Dailynesia.com – Di lereng selatan Kota Malang, Jawa Timur, berdiri sebuah kawasan yang selama berabad-abad menjadi tujuan ziarah bagi masyarakat Jawa dan Tionghoa setempat. Gunung Kawi bukan sekadar destinasi wisata alam dengan pemandangan perbukitan hijau; ia juga menyimpan lapisan kepercayaan yang dalam, terkait tokoh-tokoh spiritual seperti Eyang Jugo dan Iman Soedjono. Bagi sebagian kalangan, tempat ini berfungsi sebagai ruang transisi antara dunia bisnis dan dunia metafisik — sebuah tempat di mana keputusan korporasi besar pernah dirumuskan bukan di ruang rapat, melainkan di hadapan makam dan kuil tua.

Dua nama yang paling sering dikaitkan dengan tradisi ziarah di kawasan tersebut adalah Ong Hok Liong, pendiri kerajaan rokok Bentoel, dan Liem Sioe Liong, arsitek Salim Group. Keduanya berasal dari komunitas Tionghoa-Indonesia, membangun imperium bisnis yang kini bernilai miliaran dolar Amerika Serikat, dan meninggalkan jejak tak terhapuskan dalam sejarah ekonomi nasional. Menariknya, narasi tentang perjalanan hidup mereka sama-sama memuat satu elemen yang sama: kunjungan berulang ke Gunung Kawi sebagai bagian dari ritual pengambilan keputusan strategis.

Ong Hok Liong dan Mimpi Ubi Talas yang Mengubah Nama Sebuah Pabrik

Sejarawan Georgeo Quinn, dalam karyanya Wali Berandal Tanah Jawa (2021), mencatat bahwa Ong Hok Liong termasuk pengusaha yang secara rutin mendatangi Gunung Kawi dengan harapan memperoleh keberkahan bagi usahanya. Quinn menulis:

"Ong rajin berkunjung ke Gunung Kawi yang di dekat Malang untuk memohon kepada Eyang Jugo dan Iman Soedjono agar bisnisnya sukses."

Salah satu kunjungan yang paling dikenang terjadi pada tahun 1954. Pada malam itu, Ong dilaporkan tertidur di area dekat makam. Dalam tidurnya, ia bermimpi melihat bongkahan ubi talas — tanaman umbi yang lazim tumbuh di lahan basah Jawa Timur. Ketika fajar menyingsing dan Ong terbangun, ia langsung bertanya kepada juru kunci makam tentang makna mimpi tersebut. Jawaban yang ia terima, sebagaimana diceritakan dalam catatan Quinn, adalah bahwa Eyang Jugo sedang memberi isyarat agar Ong mengganti nama pabriknya yang saat itu masih terseok-seok.

Pada masa itu, Ong mengelola sebuah pabrik rokok bernama Stroothes-Fabriek. Produknya belum menemukan pasar yang stabil, dan omzetnya stagnan. Setelah menafsirkan mimpi itu sebagai perintah spiritual, Ong memutuskan untuk mengganti merek dagangnya menjadi "Bentoel" — sebutan yang dipakai masyarakat Malang untuk menyebut ubi talas yang muncul dalam mimpinya. Perubahan nama itu, yang pada permukaan tampak sepele, ternyata menjadi titik balik dramatis. Permintaan pasar melonjak, kapasitas produksi harus diperluas, dan dalam waktu singkat pabrik Bentoel mampu menyerap sekitar 3.000 tenaga kerja. Dari sana, perusahaan ini tumbuh menjadi salah satu produsen rokok terbesar di Indonesia, dengan distribusi yang menjangkau seluruh kepulauan.

Konteks historis penting di sini adalah bahwa pada dekade 1950-an, industri rokok di Jawa Timur masih didominasi oleh merek-merek warisan kolonial Belanda. Keputusan Ong untuk mengadopsi nama lokal berbahasa Jawa-Malang bukan hanya strategi pemasaran, tetapi juga bentuk akulturasi yang menjembatani identitas Tionghoa-Indonesia dengan masyarakat Jawa di sekitarnya. Gunung Kawi, dalam narasi ini, berfungsi sebagai ruang di mana identitas tersebut dinegosiasikan secara spiritual sebelum diterjemahkan ke dalam keputusan komersial.

Liem Sioe Liong: Ritual Bambu dan Penunjukan Mochtar Riady

Di sisi lain, Liem Sioe Liong — yang lebih dikenal dengan nama Salim — memiliki pola kunjungan yang berbeda namun sama-sama intensif. Richard Borsuk dan Nancy Chng, dalam buku Liem Sioe Liong dan Salim Group: Pilar Bisnis Soeharto (2016), mendokumentasikan bahwa Salim melakukan perjalanan dari Surabaya ke Gunung Kawi antara tiga hingga lima kali setiap tahun. Setiap kali ia hendak meluncurkan lini bisnis baru atau mengambil keputusan korporasi berskala besar, ia akan mengurung diri di kuil Tionghoa yang berada di kawasan tersebut untuk meminta petunjuk dari peramal dan menjalankan serangkaian ritual tradisional.

Borsuk dan Chng menggambarkan metode yang biasa digunakan dalam ritual itu:

"Di kuil-kuil tempat dia bersembahyang, Liem sering mengandalkan cara-cara gaib untuk membantunya memutuskan langkah apa yang harus diambil. Salah satu cara yang biasa dipakai adalah menggoyang-goyangkan tabung bambu berisi lidi-lidi dengan tulisan tertentu sampai sebatang lidi keluar, tulisan di lidi itu lalu dibaca dan ditafsirkan oleh rahib atau peramal."

Metode ini dikenal dalam tradisi Tionghoa sebagai plum blossom oracle — sebuah praktik divinasi yang telah berlangsung ribuan tahun di Asia Timur. Dalam konteks bisnis Indonesia era Orde Baru, praktik semacam itu memberi warna tersendiri pada proses pengambilan keputusan korporasi yang biasanya diasosiasikan dengan analisis finansial dan strategi pasar.

Kisah yang paling sering dikutip dari catatan Borsuk dan Chng berkaitan dengan penunjukan Mochtar Riady untuk memimpin pengembangan Bank Central Asia (BCA). Buku tersebut mencatat bahwa keputusan Salim menunjuk Riady ke posisi strategis itu dipengaruhi oleh keyakinan yang ia peroleh setelah menemui peramal di Gunung Kawi. Keduanya menulis:

"Sekembalinya dari Gunung Kawi [menemui peramal], dengan keyakinan dia berkata kalau 'aku akan menjadi Tang Sheng untuk Mochtar'."

Istilah "Tang Sheng" merujuk pada peran pelindung atau patron dalam tradisi Tionghoa — figur yang memberikan naungan dan dukungan penuh kepada seorang murid atau bawahan. Dalam praktiknya, dukungan Salim memang menjadi fondasi bagi pertumbuhan BCA menjadi salah satu bank swasta terbesar di Indonesia, dengan jaringan cabang yang tersebar di seluruh negeri dan portofolio nasabah korporasi yang sangat luas.

Dua Imperium, Satu Titik Temu Spiritual

Baik Ong Hok Liong maupun Liem Sioe Liong membangun kerajaan bisnis yang pada puncaknya bernilai miliaran dolar dan mempekerjakan ratusan ribu orang. Bentoel tumbuh menjadi salah satu pilar industri tembakau nasional, sementara Salim Group merambah sektor perbankan, telekomunikasi, perkebunan, dan manufaktur. Keduanya juga memiliki keterkaitan erat dengan dinamika politik ekonomi Indonesia pada era Orde Baru, di mana hubungan antara pengusaha Tionghoa-Indonesia dan kekuasaan negara menjadi salah satu faktor penentu arah kebijakan industri.

Apakah kunjungan ke Gunung Kawi benar-benar menjadi penyebab langsung keberhasilan bisnis mereka, atau sekadar bagian dari kerangka makna yang membantu para pengusaha menavigasi ketidakpastian pasar, adalah pertanyaan yang tidak akan pernah terjawab secara definitif. Namun satu hal yang jelas: dalam memori kolektif masyarakat Malang dan dalam literatur sejarah bisnis Indonesia, Gunung Kawi telah menempati posisi unik sebagai tempat di mana batas antara spiritualitas dan kapitalisme pernah beririsan secara nyata. Dua nama besar itu menjadi bukti bahwa, bagi sebagian pelaku usaha di Indonesia, keputusan terbesar tidak selalu diambil di meja negosiasi — kadang ia lahir dari sebuah mimpi tentang ubi talas, atau dari sebatang lidi bambu yang jatuh dari tabung di kuil tua di lereng gunung.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Rajin Datangi Gunung Kawi 2 Pengusaha?

Rajin Datangi Gunung Kawi 2 Pengusaha is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Rajin Datangi Gunung Kawi 2 Pengusaha matter?

Rajin Datangi Gunung Kawi 2 Pengusaha matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.