Dailynesia News
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Penjelasan Tuyul Tak Pernah Curi Uang di Bank, karena Sungkan atau…

Published August 16, 2026 · Updated August 16, 2026 · By Anthony Johnson - dailynesia.com

Foto : Anthony Johnson - dailynesia.com

Tuyul dan Misteri Ketidakmampuannya Mencuri di Bank

Dailynesia.com – Dalam khazanah cerita rakyat Nusantara, tuyul dikenal sebagai entitas gaib yang memiliki kemampuan mencuri uang demi tuannya. Kepercayaan ini memicu pertanyaan yang sering diperbincangkan: benarkah tuyul tidak mampu mencuri uang di bank? Suwardi Endraswara, seorang budayawan, mencatat dalam karyanya Dunia Hantu Orang Jawa terbitan 2004 bahwa tuyul melakukan aktivitas pencurian secara berkeliling dari rumah ke rumah. Tugas utamanya bukan hanya merampas uang, melainkan juga barang-barang dan dokumen bernilai.

Menurut kepercayaan lokal, tuyul umumnya dipelihara oleh individu yang memiliki obsesi kuat terhadap harta. Hingga kini, belum tercatat adanya kasus bank kehilangan dana akibat aksi pencurian oleh makhluk halus berbentuk anak kecil tersebut. Di dunia maya, beredar berbagai penjelasan mengenai fenomena ini. Sebagian berpendapat tuyul takut pada logam karena uang disimpan dalam brankas. Sementara yang lain meyakini adanya penjaga bank berupa makhluk halus lain yang ditakuti tuyul.

Penjelasan Ilmiah di Balik Cerita Mistis

Kedua jawaban tersebut hanyalah dugaan belaka terhadap hal yang kurang logis. Namun, terlepas dari penjelasan mistis, terdapat alasan ilmiah yang dapat mematahkan keberadaan tuyul sekaligus menjelaskan mengapa tuyul tidak mencuri uang di bank atau mengambil saldo e-money seseorang. Untuk memahaminya, kita perlu menengok ke tahun 1870 ketika Belanda menerapkan kebijakan pintu terbuka atau liberalisasi ekonomi sebagai pengganti sistem tanam paksa.

Perubahan ini secara sekilas dianggap membawa angin segar karena dinilai mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun kenyataannya berbeda. Jan Luiten van Zanden dan Daan Marks dalam Ekonomi Indonesia 1800-2010 (2012) menjelaskan bahwa liberalisasi ekonomi justru menciptakan rezim kolonial baru. Dalam rezim ini terjadi pengambilalihan perkebunan rakyat untuk diubah menjadi perkebunan besar dan pabrik gula.

Situasi tersebut menyebabkan kehidupan masyarakat, terutama petani kecil di Jawa, semakin terpuruk ke dalam kemiskinan. Mereka kehilangan kuasa atas lahan perkebunan mereka. Di sisi lain, ada kelompok masyarakat yang justru sejahtera dari sistem ini, yaitu para pedagang pribumi maupun Tionghoa yang menjadi orang kaya baru dalam waktu singkat.

Akar Tuduhan Tuyul

Kenaikan kekayaan yang pesat menimbulkan keheranan bagi para petani yang semakin melarat. Mereka bingung dari mana asal-usul kekayaan tersebut. Ong Hok Ham dalam Wahyu yang Hilang Negeri Yang Guncang (2019) mencatat bahwa petani saat itu menganut sistem subsisten. Artinya, bertani hanya untuk konsumsi sendiri. Jika ada hasil lebih, maka akan diberikan sebagai upeti atau dijual.

Mereka memiliki pandangan bahwa pemupukan kekayaan adalah proses yang terbuka dan dapat dilihat oleh mata orang lain. Masalahnya, petani tidak melihat kerja keras dari orang kaya baru tersebut. Terlebih, mereka tidak dapat membuktikan asal usul kekayaan jika ditanya. Alhasil, timbul rasa iri dan kecemburuan.

George Quinn dalam An Excursion to Java's Get Rich Quick Tree (2009) menyatakan bahwa para petani selalu beranggapan datangnya kekayaan harus dipertanggungjawabkan.

Ketika orang kaya gagal mempertanggungjawabkan asal kekayaannya, para petani menuduh uang itu hasil pencurian. Karena kental dengan pandangan mistik, mereka memandang pencurian itu berkat kerja sama orang kaya dengan makhluk supranatural yang kasat mata, salah satunya tuyul. Inilah yang menjadi dasar Penjelasan Tuyul Tak Pernah Curi Uang di bank secara fisik.

Tuyul adalah sosok mitologi Jawa yang sudah dikenal sejak lama. Bentuknya makhluk halus atau hantu berbadan kecil dan botak yang dapat dipelihara. Para petani yang iri selalu menuduh orang kaya baru menggunakan cara haram dalam memperoleh kekayaan. Tuduhan ini, menurut Ong Hok Ham dalam Dari Soal Priayi sampai Nyi Blorong (2002), membuat pedagang dan pengusaha sukses kehilangan status di masyarakat. Mereka dianggap "hina" karena memupuk kekayaan dari cara haram yakni bersekutu dengan setan.

Pada kenyataannya, semua ini terjadi akibat perubahan kebijakan kolonial Belanda yang membuat pengusaha tertimpa durian runtuh. Ketidaksukaan para petani terhadap orang yang kaya mendadak tidak hanya berdampak pada hubungan personal semata, melainkan lebih dari itu. Akibatnya, terjadi perubahan transaksi barang oleh masyarakat.

Frequently Asked Questions

Mengapa tuyul tidak mencuri uang di bank? Penjelasan Tuyul Tak Pernah Curi Uang di bank berkaitan dengan kepercayaan bahwa tuyul lebih aktif mencuri dari rumah ke rumah. Selain itu, ada keyakinan bahwa tuyul takut pada logam dan brankas bank yang menyimpan uang dalam jumlah besar.

Apakah tuyul bisa mencuri saldo e-money? Berdasarkan penjelasan ilmiah, tuyul tidak memiliki kemampuan untuk mencuri saldo digital karena ia merupakan makhluk fisik yang terbatas pada dunia material. Pencurian saldo e-money lebih disebabkan oleh faktor teknologi dan keamanan digital.

Siapa saja yang biasa memelihara tuyul? Umumnya, tuyul dipelihara oleh individu yang memiliki obsesi kuat terhadap harta dan ingin cepat kaya. Mereka percaya tuyul dapat membantu mengumpulkan kekayaan melalui cara-cara mistis.

Bagaimana sejarah tuduhan tuyul di Indonesia? Tuduhan tuyul bermula dari era kolonial ketika petani melihat orang kaya baru tanpa bisa menjelaskan asal kekayaan mereka. Hal ini tercatat dalam berbagai karya sejarah seperti yang ditulis oleh Ong Hok Ham dan George Quinn.

Related Reading