Dailynesia News
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Minyak Tak Lagi US$100, Ekonom Lihat Peluang RI Akhiri Defisit Dagang

Published August 13, 2026 · Updated August 13, 2026 · By Christopher Moore - dailynesia.com

Foto : Christopher Moore - dailynesia.com

Peluang Indonesia Mengakhiri Defisit Dagang di Tengah Penurunan Harga Minyak

Dailynesia.com – Jakarta — Kondisi pasar minyak global yang mulai stabil memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk mengubah defisit neraca perdagangan menjadi surplus. Harga minyak mentah dunia yang sebelumnya menyentuh level US$100 per barel kini menunjukkan tren penurunan, menciptakan ruang bagi perbaikan sektor impor maupun ekspor nasional.

Posisi Harga Minyak dan Proyeksi Keseimbangan

Berdasarkan data Refinitiv yang tercatat pada pukul 09.55 WIB, minyak Brent diperdagangkan di angka US$87,95 per barel. Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, mengidentifikasi zona keseimbangan pada kisaran US$70 hingga US$80 per barel. Angka ini lebih rendah dibandingkan rata-rata kuartal pertama dan kedua yang berada di level US$90-100 per barel.

"Kalau itu bisa dipertahankan (harga minyak di level keseimbangan), mestinya beban untuk yang impornya jadi relatif berkurang ke depannya," ujarnya kepada CNBC Indonesia pada Kamis (13/8/2026).

Momentum Ekspor dan Komoditas Unggulan

Menurut Asmoro, penurunan harga minyak mentah berfungsi sebagai katalis positif bagi neraca dagang Indonesia yang telah mencatat defisit selama dua bulan berturut-turut. Momentum ini harus dimanfaatkan secara optimal untuk mendorong pertumbuhan ekspor, yang pada akhirnya menjadi mesin pendorong ekonomi di semester kedua tahun 2026.

"Sekarang tinggal kemudian bagaimana menjaga supaya ekspor kita itu terus bisa tumbuh di tengah peluang yang cukup besar juga sebenarnya," kata Andry Asmoro.

Ekonom tersebut menyoroti berbagai komoditas yang memiliki potensi besar untuk diekspor, khususnya dari sektor perkebunan dan pertanian. Indonesia dinilai memiliki kekayaan sumber daya alam yang signifikan, dengan permintaan pasar yang kuat dari negara-negara tujuan ekspor yang memiliki populasi besar serta potensi pertumbuhan ekonomi tinggi.

"Kalau kita lihat Indonesia itu sangat banyak potensi untuk mendorong sisi ekspor dari mana kalau dari berbagai komoditas dan sektor yang ada kita melihat bahwa kita sangat kaya terhadap sektor pertanian perkebunan dan demand-nya sangat besar banyak negara-negara yang menjadi tujuan ekspor kita saat ini memiliki populasi yang besar dan juga memiliki potensi pertumbuhan ekonomi yang besar," jelas Asmoro.

Komoditas pertanian dan perkebunan yang menjadi incaran pasar internasional meliputi kopi, cokelat, pala, dan kelapa. Negara-negara seperti India, Bangladesh, dan Pakistan menjadi beberapa destinasi utama untuk produk-produk tersebut.

Data Defisit Perdagangan dan Dampaknya terhadap PDB

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit sebesar US$450 juta pada Juni 2026. Sementara itu, defisit pada Mei 2026 mencapai angka yang lebih besar, yaitu US$1,61 miliar.

Kondisi defisit perdagangan ini turut memperlebar defisit net ekspor dalam komponen pengeluaran Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada kuartal kedua 2026 menjadi -0,78 persen. Perbandingan ini menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan kuartal kedua 2025 yang hanya mencatat -0,02 persen.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Minyak Tak Lagi US 100 Ekonom?

Minyak Tak Lagi US 100 Ekonom is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Minyak Tak Lagi US 100 Ekonom matter?

Minyak Tak Lagi US 100 Ekonom matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.