Latest Program: Strategi Bisnis Olahan Kacang di Tengah Tantangan Ekspansi ke ASEAN
Dailynesia.com – Dalam kondisi pasar yang semakin kompetitif, Latest Program menjadi pilihan utama perusahaan pengolahan kacang, PT Gunanusa Eramandiri Tbk (GUNA), untuk menjaga pertumbuhan bisnis. Dengan naiknya biaya produksi hingga 70-100% akibat kenaikan harga plastik, Latest Program berfokus pada inovasi dan ekspansi ke pasar ASEAN sebagai strategi utama. Presiden Direktur GUNA, Ivan Cokro Saputra, mengatakan bahwa efisiensi dan pemanfaatan teknologi menjadi kunci dalam menjaga profitabilitas meski daya beli konsumen sedang turun.
Tantangan Daya Beli yang Meningkatkan Tekanan pada Industri
Pelemahan daya beli masyarakat menciptakan tantangan tersendiri bagi industri makanan olahan, termasuk sektor kacang. Meski penurunan daya beli belum terlalu signifikan dibanding industri lain, perusahaan seperti GUNA tetap beradaptasi dengan mengoptimalkan biaya operasional. “Kami menghadapi tekanan dari dalam negeri, tetapi Latest Program membantu kami untuk tetap relevan dan meningkatkan daya saing,” tutur Ivan Cokro Saputra.
“Kenaikan harga plastik telah memengaruhi biaya produksi secara signifikan. Dengan Latest Program, kami berusaha menekan margin keuntungan industri makanan dan minuman, termasuk GUNA, melalui efisiensi dan pemanfaatan teknologi,” ujarnya.
Di sisi lain, perusahaan juga menyadari bahwa kenaikan biaya produksi memaksa mereka untuk mengubah pola produksi. Ivan menekankan bahwa pemanfaatan AI dan otomatisasi menjadi solusi efektif untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku yang mahal. “Kami memprioritaskan Latest Program sebagai sarana untuk meningkatkan kapasitas produksi secara bertahap, sekaligus memastikan kualitas produk tetap terjaga,” tambahnya.
Ekspansi ke ASEAN sebagai Strategi Mitigasi Resiko
Ekspansi ke pasar ASEAN menjadi strategi utama GUNA untuk mengimbangi tekanan dari dalam negeri. Ivan menjelaskan bahwa berbagai negara di kawasan ini menawarkan peluang besar karena pertumbuhan ekonomi yang stabil dan permintaan terhadap produk olahan kacang yang meningkat. “ASEAN memiliki potensi ekspor yang sangat baik, terutama dalam menjangkau pasar seperti Thailand, Vietnam, dan Filipina,” katanya.
“Melalui Latest Program, kami telah menyiapkan strategi pemasaran yang terukur dan adaptasi produk sesuai preferensi konsumen di berbagai negara ASEAN. Kami juga memanfaatkan kebijakan bebas tarif untuk menurunkan biaya logistik,” ujar Ivan Cokro Saputra.
Menurut Ivan, ekspansi ke luar negeri tidak hanya membantu mengurangi risiko pelemahan daya beli dalam negeri, tetapi juga memperluas pangsa pasar. “Kami menargetkan peningkatan volume ekspor hingga 30% dalam setahun mendatang, sekaligus memperkuat jaringan distribusi di kawasan Asia Tenggara,” tambahnya.
Latest Program juga mencakup kebijakan penguatan kemitraan dengan pihak lokal di ASEAN. Beberapa negara seperti Malaysia dan Singapura terbukti menjadi sasaran ekspansi yang strategis karena infrastruktur yang mendukung dan kebutuhan konsumen yang tinggi. Dengan Latest Program, GUNA berharap mampu membangun brand awareness secara bertahap dan memperoleh kepercayaan pasar internasional.
Analisis Pasar dan Persaingan Global
Di tengah tantangan ekonomi global, Latest Program menjadi alat untuk tetap relevan di pasar yang dinamis. Ivan menyoroti pentingnya mengikuti tren konsumen, termasuk pergeseran preferensi ke produk yang lebih hemat energi dan ramah lingkungan. “Kami juga mengembangkan produk berbahan baku daur ulang, karena ini mendukung Latest Program dalam menciptakan inovasi yang berkelanjutan,” kata dia.
“Selain itu, Latest Program memungkinkan kami untuk merespons kebutuhan pasar dengan cepat, seperti penggunaan teknologi pengemasan yang lebih efisien,” ujar Ivan.
Menurut laporan sektor pangan, pasar ASEAN diperkirakan akan tumbuh 8-10% setiap tahun. Dengan Latest Program, GUNA berupaya memanfaatkan momentum ini melalui pengembangan produk yang menarik dan harga yang kompetitif. “Kami juga melakukan riset pasaran untuk memastikan strategi ekspansi kami sesuai dengan kebutuhan konsumen setempat,” tambah Ivan.

