Dailynesia.com –
Harga Minyak Sentuh US$91: Perang AS–Iran Kembali Jadi Ancaman Pasar Energi2>
Harga Minyak Sentuh US 91 Perang menjadi sorotan utama pelaku pasar energi global setelah gencatan senjata 60 hari antara Amerika Serikat dan Iran resmi berakhir. Teheran mengumumkan peralihan ke postur militer yang “sepenuhnya ofensif”, sementara Presiden Donald Trump menegaskan tidak berniat memperpanjang jeda tersebut. Kombinasi dua pernyataan itu mendorong investor menghitung ulang risiko gangguan produksi dan distribusi dari kawasan Timur Tengah, sehingga kontrak berjangka Brent melonjak ke level US$91 per barel pada perdagangan Selasa, 18 Agustus 2026.
Gencatan Berakhir, Premi Risiko Melonjak
Timur Tengah memegang porsi krusial dalam pasokan energi dunia. Setiap eskalasi tensi di kawasan tersebut cenderung tercermin secara instan pada kontrak berjangka. Reuters mencatat bahwa pada perdagangan Senin, level Brent sempat melonjak lebih dari US$2 setelah perhatian investor kembali tertuju pada kekhawatiran pasokan global. Pernyataan Teheran mengenai postur militer baru — yang mereka sebut “sepenuhnya ofensif” — menjadi pemicu utama reli tersebut dan memperkuat narasi bahwa Harga Minyak Sentuh US 91 Perang bukan sekadar gejolak sesaat.
“Sepenuhnya ofensif” — pernyataan resmi Teheran mengenai postur militer baru pasca-gencatan.
Reli ini bukan fenomena jangka pendek. Dalam rentang waktu kurang dari dua pekan, Brent telah melonjak sekitar 10,6%, dari US$82,49 per barel pada 6 Agustus menjadi US$91,21 per barel pada 18 Agustus. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menunjukkan pola serupa, menguat hampir 10% dari US$77,29 menjadi US$84,99 per barel dalam periode yang identik. Kenaikan serentak di kedua kontrak utama mengindikasikan bahwa pasar menilai risiko pasokan sebagai ancaman struktural, bukan sekadar sentimen harian.
Angka-angka di Lantai Perdagangan
Berdasarkan data Refinitiv per pukul 09.50 WIB pada Selasa (18/8/2026), kontrak Brent diperdagangkan di US$91,21 per barel, naik 0,37% dari penutupan sesi sebelumnya. WTI tercatat di US$84,99 per barel dengan penguatan 0,58%. Pada pembukaan perdagangan Asia Selasa, kontrak Brent masih bertahan di kisaran US$91 per barel, menandakan pelaku pasar belum melepaskan premi risiko yang telah terbentuk sejak akhir pekan lalu.
Sentimen Risk-Off Merambat ke Pasar Keuangan
Kenaikan level energi tidak berjalan sendiri; ia beriringan dengan pergeseran sentimen di pasar keuangan global. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun merangkak ke 4,728%, sedangkan tenor 30 tahun menyentuh 5,3146% — level tertinggi dalam lebih dari dua dekade. Di sisi ekuitas, indeks Wall Street melemah setelah data penjualan ritel AS secara tak terduga turun, memicu penyesuaian ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Analis Westpac, sebagaimana dilaporkan Reuters, menilai pasar telah memasuki mode risk-off setelah Trump kembali menegaskan sikapnya terkait Iran. Peningkatan ketegangan di Timur Tengah sekaligus mengangkat kontrak energi dan membebani sentimen di seluruh pasar keuangan global, mendorong pelaku pasar untuk mengurangi eksposur terhadap aset berisiko. Dalam konteks ini, narasi Harga Minyak Sentuh US 91 Perang menjadi indikator utama yang dipantau oleh manajer portofolio di berbagai belahan dunia.

