Akhir Sesi I, IHSG Turun 0,21%
IHSG Melemah 0,21% pada Akhir Sesi I
Dailynesia.com – Akhir Sesi I IHSG Turun 0,21% pada perdagangan Selasa, 29 September 2026. Indeks Harga Saham Gabungan mengakhiri sesi pertama di level 6.135, setelah terkoreksi 12,86 poin. Sepanjang pagi, pasar sempat berupaya bangkit dari tekanan jual, tetapi penguatan tersebut belum mampu menjaga indeks tetap berada di zona hijau.
IHSG dibuka di posisi 6.118,81, lebih rendah dari penutupan perdagangan sebelumnya. Pelemahan berlanjut pada awal sesi hingga indeks menyentuh titik terendah harian di 6.013,08 sekitar pukul 09.30 WIB.
Setelah itu, tekanan jual mulai mereda. Indeks bergerak naik dan berkonsolidasi di kisaran 6.040 hingga 6.100 sebelum kembali menguat menjelang pukul 11.00 WIB. Pada fase tersebut, IHSG sempat mencapai level tertinggi 6.150,55, sedikit melampaui posisi penutupan sebelumnya.
Namun, aksi ambil untung kembali membatasi kenaikan. Pada akhir sesi pertama, IHSG kembali melemah tipis ke level 6.135. Pergerakan ini menunjukkan minat beli belum cukup kuat untuk mempertahankan pemulihan pasar hingga penutupan sesi.
Rentang Pergerakan IHSG Cukup Lebar
Selama sesi pertama, selisih antara level terendah dan tertinggi IHSG mencapai sekitar 137 poin. Rentang pergerakan yang lebar mencerminkan transaksi yang dinamis serta kehati-hatian investor dalam merespons arah pasar.
Nilai transaksi pada sesi I mencapai Rp7,34 triliun dengan volume perdagangan sebesar 231 juta lot. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 451 saham melemah, 262 saham stagnan, dan 250 saham menguat.
Dominasi saham yang turun memperlihatkan tekanan jual masih cukup luas. Walaupun sejumlah emiten bergerak positif, jumlah saham yang melemah jauh lebih besar sehingga indeks tetap sulit keluar dari zona merah.
Aturan Harga Minimum Saham Baru Mulai Berlaku
Perdagangan ini berlangsung setelah Bursa Efek Indonesia menerapkan kebijakan baru mengenai harga minimum saham. Mulai Senin, 28 September 2026, harga saham terendah di pasar reguler dan pasar tunai diturunkan dari Rp50 menjadi Rp1 per lembar.
Penyesuaian tersebut juga mencakup batas auto rejection. Untuk saham dengan harga Rp1 hingga Rp10, batas Auto Rejection Atas dan Auto Rejection Bawah ditetapkan sebesar Rp1. Sementara itu, ARB asimetris sebesar 15% tetap berlaku bagi saham dengan harga di atas Rp10 hingga akhir 2026.
Kebijakan ini memberi ruang transaksi yang lebih luas bagi saham berharga rendah serta ditujukan untuk mendukung pembentukan harga dan likuiditas. Meski demikian, investor tetap perlu memperhatikan risiko volatilitas, terutama pada saham yang pergerakannya dapat berubah cepat.
Sentimen Global dan Rupiah Masih Dicermati
Selain faktor domestik, pasar juga memantau kebijakan moneter global yang ketat, penguatan dolar Amerika Serikat, kenaikan harga energi, dan level suku bunga global. Faktor-faktor tersebut dapat meningkatkan volatilitas pasar keuangan di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Penguatan dolar AS dan pengetatan likuiditas internasional dapat memengaruhi penilaian investor terhadap aset berisiko. Dampaknya dapat terlihat pada arus modal, nilai tukar rupiah, serta pergerakan saham di pasar domestik.
Rupiah juga kembali melemah terhadap dolar AS pada perdagangan awal pekan. Pergerakan kurs menjadi perhatian karena dapat memengaruhi biaya impor, kondisi keuangan emiten tertentu, dan sentimen investor di pasar modal.
FAQ: Pergerakan IHSG pada Sesi I
Apa penyebab IHSG turun pada akhir sesi I?
IHSG melemah setelah pasar menghadapi tekanan jual yang cukup luas. Meski indeks sempat pulih dari level terendahnya, aksi ambil untung kembali muncul menjelang penutupan sesi pertama.
Berapa level terendah dan tertinggi IHSG pada sesi I?
IHSG sempat menyentuh level terendah 6.013,08 sekitar pukul 09.30 WIB dan mencapai level tertinggi 6.150,55 menjelang pukul 11.00 WIB.
Mengapa investor perlu memperhatikan perubahan harga minimum saham?
Aturan harga minimum Rp1 dapat memengaruhi pola transaksi saham berharga rendah. Investor perlu memahami ketentuan auto rejection dan tetap mempertimbangkan risiko volatilitas sebelum mengambil keputusan investasi.