Dailynesia News
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Cerita Prajurit TNI Harus Makan Daging Kucing Saat Perang Kemerdekaan

Published August 17, 2026 · Updated August 17, 2026 · By Daniel Rodriguez - dailynesia.com

Foto : Daniel Rodriguez - dailynesia.com

Moestopo dan Kebiasaan Aneh Prajurit di Medan Perang

Dailynesia.com – Selama masa Revolusi Kemerdekaan (1945–1949), para pejuang Republik Indonesia kerap menghadapi kelangkaan bahan pangan yang tak kalah berat dari ancaman tentara Belanda. Di beberapa titik pertempuran, solusi untuk mengisi perut datang dari sumber yang tidak lazim: daging kucing.

Di balik praktik tersebut terdapat sosok Mayor Jenderal TNI dr. Moestopo, perwira revolusioner yang kerap menampilkan perilaku di luar kebiasaan. Menurut catatan Robert Cribb dalam buku Gejolak Revolusi di Jakarta 1945–1949 (1990), Moestopo secara eksplisit mendorong anak buahnya mengonsumsi daging kucing dengan alasan tertentu.

"Ia pula yang menganjurkan anak buahnya untuk memakan daging kucing agar mampu melihat dalam gelap."

Saksi Mata: Kunjungan Jenderal Oerip

Tahun 1946, Jenderal Oerip Soemohardjo melakukan inspeksi ke sebuah pos terdepan yang terpencil dan berada di bawah komando Moestopo. Dalam percakapan santai dengan para prajurit, pandangan Oerip jatuh pada sepetak tanah yang ditumbuhi beberapa gundukan kecil, masing-masing bertanda kayu sederhana menyerupai nisan.

"Itu makam?" tanya Oerip.

"Ya Jenderal!"

"Jadi, banyak korban di sini?"

"Ya, ya Jenderal!" jawab seorang kadet.

Kadet itu kemudian meluruskan kesalahpahaman sang jenderal.

"Tetapi, maaf Jenderal. Itu bukan makam manusia!"

"Lha? Terus makam apa?"

"Anu Jenderal. Itu hanya kuburan... ayam, kambing, kucing, dan lain-lain yang menjadi korban santapan kami sehari-hari."

Ternyata pemakaman tersebut dibangun atas instruksi langsung Moestopo. Setiap hewan yang dikonsumsi oleh para prajurit tetap dimakamkan secara layak sebagai wujud penghormatan terhadap makhluk yang telah mengorbankan dirinya.

Kecerdikan di Balik Eksentrisitas

Moestopo bukan sekadar perwira eksentrik. Kisah lain yang beredar menyebutkan ia memerintahkan anak buahnya mengoleskan kotoran kuda pada ujung bambu runcing, dengan harapan luka tusukan akan memicu tetanus pada lawan. Strategi semacam itu mencerminkan imajinasi tempur yang jarang dimiliki rekan-rekannya.

Setelah konflik berakhir, Moestopo kembali ke profesi lamanya sebagai dokter gigi. Ia kemudian mendirikan lembaga pendidikan kedokteran gigi yang kelak berkembang menjadi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) di Jakarta.

Moestopo wafat pada 29 September 1986. Pada tahun 2007, Pemerintah Indonesia menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional sebagai pengakuan atas perannya dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Cerita Prajurit TNI Harus Makan Daging?

Cerita Prajurit TNI Harus Makan Daging is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Cerita Prajurit TNI Harus Makan Daging matter?

Cerita Prajurit TNI Harus Makan Daging matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.