Dailynesia News
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Buah Majapahit Berpotensi Jadi Antikanker Payudara, Ini Penjelasannya

Published August 7, 2026 · Updated August 7, 2026 · By Linda Davis - dailynesia.com

Foto : Linda Davis - dailynesia.com

Penelitian Terbaru Ungkap Potensi Buah Majapahit sebagai Terapi Kanker Payudara

Dailynesia.com – Jakarta menyimpan kekayaan flora yang belum banyak digali manfaatnya. Salah satu tanaman lokal yang kini menarik perhatian para ilmuwan adalah buah majapahit atau Crescentia cujete. Berdasarkan studi terkini, ekstrak dari buah ini menunjukkan tanda-tanda menjanjikan sebagai agen antikanker, terutama untuk melawan kanker payudara.

Hasil penelitian ini telah dimuat dalam Makara Journal of Science edisi Juni 2026 pada Volume 30 Nomor 2. Artikel berjudul "In Silico and Toxicological Evaluation of Crescentia Cujete Aqueous Extract: Potential Anticancer Activity Against Breast Cancer" tersebut dikutip dari situs resmi Universitas Airlangga pada hari Jumat, 7 Agustus 2026.

Profil Kimia Ekstrak Buah Majapahit

Para peneliti menyiapkan ekstrak dengan cara merebus daging buah menggunakan air. Selanjutnya, teknik liquid chromatography-mass spectrometry atau LC-MS digunakan untuk mengidentifikasi komponen kimia di dalamnya. Proses analisis ini berhasil mendeteksi sekitar 110 jenis senyawa berbeda.

Dari total senyawa yang terdeteksi, sebanyak 38 di antaranya memiliki kelimpahan relatif melebihi satu persen. Senyawa kaempferol-3-O-rhamnoside menempati posisi teratas dengan persentase 3,29%. Di posisi kedua ada hesperidin yang mencapai 3,19%.

Kedua senyawa utama ini kemudian diuji lebih lanjut melalui pemodelan molekuler untuk melihat kemampuannya berinteraksi dengan protein BRCA1 dan BRCA2. Protein-protein tersebut berperan krusial dalam mekanisme perbaikan DNA. Mutasi pada gen BRCA1 maupun BRCA2 telah lama diketahui meningkatkan risiko seseorang terkena kanker payudara.

Interaksi Molekuler dan Potensi Terapi

Hasil simulasi komputer menunjukkan bahwa kaempferol-3-O-rhamnoside mampu membentuk ikatan stabil dengan kedua protein target. Nilai binding affinity yang dicatat adalah minus 7,0 kcal/mol untuk BRCA1 dan minus 8,1 kcal/mol untuk BRCA2. Sementara itu, hesperidin juga menunjukkan kemampuan serupa dalam berikatan dengan protein-protein tersebut.

Temuan ini memberikan harapan baru bahwa senyawa alami dari buah majapahit layak dikembangkan lebih lanjut sebagai kandidat obat kanker payudara. Namun, para peneliti mengingatkan bahwa ini masih merupakan tahap awal penelitian.

Evaluasi Toksisitas dan Langkah Selanjutnya

Selain analisis komputasi, tim peneliti juga melakukan uji toksisitas awal menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test atau BSLT. Pengujian ini memanfaatkan larva Artemia salina sebagai model. Hasilnya mencatat nilai LC50 sekitar 546 ppm, yang berarti konsentrasi tersebut mampu membunuh setengah dari jumlah larva yang diuji.

Analisis toksisitas berbasis komputer juga mengungkap potensi efek samping pada organ tertentu. Kaempferol-3-O-rhamnoside diprediksi dapat memengaruhi ginjal, sistem pernapasan, serta kardiovaskular. Hesperidin sendiri memiliki potensi toksik terhadap ginjal dan sistem pernapasan.

Meskipun demikian, ekstrak secara keseluruhan tidak menunjukkan tingkat toksisitas yang tinggi. Hal ini membuka peluang untuk penelitian lebih mendalam sebagai kandidat antikanker.

Penting untuk dicatat bahwa temuan saat ini belum membuktikan bahwa buah majapahit dapat mencegah atau mengobati kanker payudara pada manusia. Metode BSLT hanya berfungsi sebagai skrining toksisitas umum dan tidak secara langsung mengukur kemampuan ekstrak dalam membunuh sel kanker manusia. Demikian pula dengan molecular docking yang hanya memprediksi kemungkinan interaksi, bukan membuktikan efektivitas terapi.

Oleh karena itu, diperlukan penelitian lanjutan melalui pengujian pada kultur sel hingga model mamalia. Tujuannya adalah untuk memastikan aktivitas biologis, keamanan, serta potensi farmakologis senyawa dalam buah majapahit sebelum dapat dikembangkan lebih jauh.

Penelitian ini sekaligus menunjukkan peluang besar pemanfaatan keanekaragaman hayati Indonesia sebagai sumber kandidat obat berbasis bahan alam. Buah majapahit yang selama ini di Indonesia lebih banyak dimanfaatkan untuk keperluan dekoratif disebut masih belum banyak dieksplorasi dari sisi manfaat medisnya.

"Buah Majapahit Berpotensi Jadi Antikanker Payudara" - temuan ini membuka jalan bagi pengembangan obat kanker berbasis bahan alam lokal yang lebih terjangkau dan efektif.

Frequently Asked Questions

Apa itu Buah Majapahit?

Buah Majapahit atau Crescentia cujete adalah tanaman tropis yang buahnya berbentuk bulat dan keras. Di Indonesia, buah ini lebih sering digunakan sebagai hiasan dekoratif namun memiliki kandungan senyawa kimia yang menjanjikan untuk kesehatan.

Bagaimana cara kerja ekstrak buah majapahit melawan kanker?

Ekstrak buah majapahit bekerja dengan berinteraksi dengan protein BRCA1 dan BRCA2 yang berperan dalam perbaikan DNA. Senyawa kaempferol-3-O-rhamnoside dan hesperidin dalam ekstrak mampu membentuk ikatan stabil dengan protein-protein tersebut.

Apakah buah majapahit sudah bisa dikonsumsi untuk mencegah kanker?

Belum. Penelitian masih dalam tahap awal dan diperlukan uji lebih lanjut pada kultur sel dan model mamalia sebelum buah majapahit dapat direkomendasikan sebagai terapi atau pencegahan kanker payudara.

Berapa nilai LC50 yang ditemukan dalam penelitian?

Nilai LC50 yang tercatat adalah sekitar 546 ppm, menunjukkan bahwa ekstrak buah majapahit memiliki tingkat toksisitas yang relatif rendah dan aman untuk dikembangkan lebih lanjut.

Related Reading