Dailynesia News
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Adidas Minta Maaf usai Tampilkan Eks Militer Israel di Iklan Sepatu

Published September 8, 2026 · Updated September 8, 2026 · By Christopher Moore - dailynesia.com

Foto : Christopher Moore - dailynesia.com

Adidas Tarik Permintaan Maaf Setelah Iklan Sepatu Satu Kaki Picu Badai Kritik

Dailynesia.com – Sebuah kampanye pemasaran yang semula dirancang untuk merayakan inklusivitas justru berubah menjadi titik panas perdebatan global. Pada Senin (7/9), Adidas — raksasa pakaian olahraga bermarkas di Jerman — resmi menyampaikan permohonan maaf setelah iklan sepatu terbarunya menampilkan seorang mantan prajurit Israel. Langkah tersebut diambil setelah gelombang boikot dan kritik deras melanda media sosial dalam hitungan jam.

Latar Belakang Kampanye Single-Shoe Service

Program yang menjadi inti iklan tersebut bernama Single-Shoe Service, sebuah inisiatif yang memungkinkan penyandang amputasi tungkai untuk membeli satu sepatu saja dengan potongan harga 50 persen dari harga sepasang. Konsep ini secara teknis bertujuan mengurangi beban finansial sekaligus memberikan representasi positif bagi komunitas disabilitas dalam dunia olahraga dan fashion.

Wajah kampanye itu adalah Shalev Biton, seorang pria yang kehilangan kaki kirinya pada tahun 2021 akibat luka yang dideritanya saat masih aktif bertugas di militer Israel. Biton merupakan satu dari sebelas atlet penyandang disabilitas yang gambarnya dipasang dalam poster di sejumlah gerai Adidas di wilayah Israel. Pemilihan figur-figur tersebut dimaksudkan untuk mengomunikasikan pesan bahwa tubuh yang berbeda tetap berhak mengakses produk olahraga tanpa diskriminasi.

Pernyataan Resmi Perusahaan

Dalam pernyataan yang dirilis kepada publik, Adidas mengakui bahwa penggunaan gambar dalam kampanye tersebut oleh tim lokal telah memicu kekhawatiran dan reaksi keras dari berbagai kalangan.

"Kami menyadari bahwa gambar yang digunakan dalam kampanye baru-baru ini oleh tim lokal telah menimbulkan kekhawatiran dan reaksi keras. Kami tidak pernah bermaksud untuk menimbulkan pelanggaran dan kami meminta maaf kepada siapa pun yang terkena dampaknya."

Pernyataan itu menegaskan bahwa perusahaan tidak berniat menyakiti pihak mana pun, sekaligus membuka ruang dialog dengan konsumen yang merasa tersinggung oleh pemilihan figur dalam materi promosi.

Reaksi Publik dan Tekanan Boikot

Kritik tidak hanya datang dari kalangan aktivis hak asasi manusia, tetapi juga dari kelompok-kelompok yang secara konsisten menyuarakan solidaritas dengan Palestina. Pertanyaan utama yang dilontarkan ke arah Adidas sederhana namun tajam: mengapa seorang mantan prajurit dari negara yang sedang berperang dijadikan simbol kampanye tentang inklusivitas dan penerimaan tubuh?

Di platform media sosial, pengguna mempertanyakan konsistensi pesan tersebut. Salah satu komentar yang viral berbunyi:

"Apakah kalian melakukan hal yang sama untuk warga Palestina yang kehilangan anggota tubuh?"

Pertanyaan itu menyentuh inti ketegangan antara narasi korporat tentang empati dan realitas geopolitik yang masih berlangsung. Pengguna lain menyoroti nasib warga Gaza yang mengalami amputasi akibat konflik bersenjata, mempertanyakan apakah kampanye semacam itu sekadar strategi pemasaran atau benar-benar mencerminkan komitmen perusahaan terhadap kelompok yang paling terdampak.

Data WHO dan Konteks Kemanusiaan

Laporan yang diterbitkan Organisasi Kesehatan Dunia pada bulan Mei mencatat bahwa lebih dari 5.000 kasus amputasi telah terjadi di Gaza. Angka tersebut menempatkan isu kehilangan anggota tubuh bukan lagi sebagai persoalan marginal, melainkan sebagai krisis kesehatan publik berskala besar yang menuntut respons konkret dari komunitas internasional — termasuk dari perusahaan multinasional yang memiliki jangkauan distribusi global.

Kehadiran data ini memperkeruh posisi Adidas: di satu sisi, perusahaan mempromosikan program yang membantu penyandang amputasi mengakses sepatu secara terjangkau; di sisi lain, pemilihan figur dalam kampanye dianggap mengabaikan penderitaan ribuan warga Palestina yang mengalami kondisi serupa akibat perang.

Figur Publik Turut Bersuara

Aktor Spanyol Javier Bardem termasuk di antara selebritas yang secara terbuka menyerukan masyarakat untuk memboikot produk Adidas. Dukungan dari figur publik semacam ini mempercepat penyebaran narasi negatif dan memberikan tekanan tambahan pada reputasi merek yang selama puluhan tahun membangun citra melalui kolaborasi dengan atlet dan budaya olahraga.

Implikasi bagi Strategi Merek Global

Kasus ini menjadi pengingat bahwa kampanye sosial-korporat tidak lagi bisa dirancang dalam ruang hampa geopolitik. Ketika sebuah merek mengangkat isu sensitif seperti disabilitas, inklusivitas, atau aksesibilitas, publik kini menuntut konsistensi penuh antara pesan yang disampaikan dan konteks politik yang melingkupinya. Tim pemasaran lokal yang memilih figur tanpa mempertimbangkan persepsi global berisiko mengubah niat baik menjadi bahan olok-olok.

Bagi Adidas, permintaan maaf ini bukan sekadar gestur公关 — melainkan ujian apakah perusahaan mampu memulihkan kepercayaan konsumen di pasar yang semakin terpolarisasi. Langkah selanjutnya, baik berupa penyesuaian materi kampanye, kemitraan langsung dengan organisasi kemanusiaan di Gaza, maupun transparansi dalam proses seleksi figur promosi, akan menentukan apakah insiden ini menjadi catatan kaki atau babak baru dalam sejarah reputasi merek tersebut.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Adidas Minta Maaf usai Tampilkan Eks Militer?

Adidas Minta Maaf usai Tampilkan Eks Militer is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Adidas Minta Maaf usai Tampilkan Eks Militer matter?

Adidas Minta Maaf usai Tampilkan Eks Militer matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.