Presiden RI Tulis Sendiri Pidato Kenegaraan Sampai Tak Keluar Kamar

1 week ago  ·  3 min read
By Daniel Rodriguez - dailynesia.com
ilustrasi-pidato-hari-santri-nasional-2023_169

Presiden RI Tulis Sendiri Pidato Kenegaraan hingga Terkurung di Kamar

Dailynesia.com – Setiap tahun, momen penting dalam kalender politik Indonesia tiba saat Presiden RI Tulis Sendiri Pidato kenegaraan. Tradisi ini telah berlangsung sejak proklamasi kemerdekaan, di mana setiap pemimpin negara menyiapkan pesan khusus untuk rakyatnya. Namun, di antara para pendiri bangsa, sosok yang paling dikenal dengan dedikasi luar biasa dalam menyusun pidatonya adalah Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia. Proses penyusunan pidato ini bukan sekadar pekerjaan administratif, melainkan sebuah ritual spiritual bagi sang presiden.

Mengingat Proses Penyusunan Pidato

Guntur Soekarnoputra, putra Bung Karno, pernah menceritakan kembali kenangan masa kecilnya tentang kesibukan sang ayah. Dalam buku memoar berjudul Bung Karno: Bapakku, Kawanku, Guruku yang terbit tahun 1977, Guntur mengisahkan bagaimana pertengahan Agustus selalu menjadi periode sibuk bagi sang presiden. Selama seharian penuh, Soekarno tidak hanya duduk menulis, tetapi juga melakukan diskusi dengan berbagai kalangan, mulai dari para menteri hingga tokoh masyarakat terkemuka.

Untuk melengkapi bahan tulisannya, Soekarno mengumpulkan referensi dari berbagai sumber. Buku, koran, majalah, hingga berita internasional menjadi bahan bacaannya. Guntur masih ingat jelas ketika ayahnya meminta bantuan untuk mengambil buku-buku karya tokoh dunia. Salah satu permintaan yang paling diingat adalah:

“Tok!! Bawa kemari Declaration of Independent dari Thomas Jefferson,” kata Soekarno kepada Guntur.

Permintaan tersebut membuat Guntur harus bolak-balik ke perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan ayahnya. Sementara itu, tim khusus yang bekerja tanpa henti membantu Soekarno dalam proses penulisan. Presiden RI Tulis Sendiri Pidato dengan penuh perhatian terhadap setiap kata dan kalimat yang akan disampaikan kepada bangsa.

Konsentrasi Penuh hingga Lupa Makan

Keseriusan Soekarno dalam menyusun pidato kenegaraan begitu mendalam hingga ia sampai lupa akan kebutuhan dasarnya. Guntur mengingat sebuah percakapan yang terjadi saat proses penyusunan masih berlangsung:

“Kau sudah makan,” tanya Bung Karno. “Belum. Bapak sudah makan belum?” Guntur balik nanya. “Sebentar lagi. Jangan makan dulu. Bantu dulu Bapak,” pinta Sukarno.

Selain Guntur, ajudan pribadi Soekarno, Bambang Widjanarko, juga menyaksikan intensitas kerja sang presiden. Dalam memoarnya yang berjudul Sewindu dekat Bung Karno terbitan 1988, Bambang menggambarkan pemandangan yang jarang terlihat orang lain:

“Saat itulah satu-satunya yang saya lihat BK dapat berjam-jam seorang diri di kamar, berkosentrasi penuh menuangkan yang ada di hati dan otaknya ke dalam tulisan,” kata Bambang.

Pidato sebagai Bentuk Pertanggungjawaban

Bagi Soekarno, pidato kenegaraan bukan sekadar teks yang harus dibacakan di depan publik. Ia memandang pidato tersebut sebagai bentuk pertanggungjawaban seorang presiden atas segala kebijakan yang telah dilakukannya. Oleh karena itu, proses penyusunannya dilakukan dengan sangat serius dan teliti. Presiden RI Tulis Sendiri Pidato bukan hanya untuk memenuhi kewajiban formal, tetapi juga sebagai refleksi mendalam tentang perjalanan bangsa.

Soekarno tidak selalu menulis di satu tempat saja. Ia sering berpindah-pindah dari satu istana ke istana lainnya. Ketika merasa jenuh, ia sesekali keluar ruangan untuk bermain, berbincang, minum kopi, atau menonton pertunjukan tari-tarian. Setelah semua bahan terkumpul dan gagasan selesai dituangkan, naskah tersebut diketik oleh sekretaris pribadinya.

Pidato yang telah selesai kemudian disampaikan kepada rakyat Indonesia. Dengan gaya penyampaian yang penuh semangat dan berapi-api, Soekarno mampu membangkitkan semangat jutaan rakyat. Kesan yang ditinggalkannya masih terasa hingga saat ini, menjadi warisan berharga bagi generasi penerus bangsa.

Frequently Asked Questions

Berapa lama Soekarno menghabiskan waktu untuk menulis pidato kenegaraan? Soekarno biasanya menghabiskan waktu berjam-jam di kamar pribadinya, kadang hingga lupa makan dan istirahat. Proses ini dimulai sejak pertengahan Agustus hingga hari-hari menjelang pidato.

Apakah ada referensi khusus yang sering digunakan Soekarno? Ya, Soekarno sering meminta referensi dari tokoh-tokoh dunia seperti Thomas Jefferson. Ia juga membaca berbagai buku, koran, dan majalah untuk melengkapi gagasannya.

Siapa saja yang membantu Soekarno dalam proses penulisan? Selain putra-putrinya seperti Guntur, Soekarno juga dibantu oleh ajudan pribadinya Bambang Widjanarko dan sekretaris pribadi yang bertugas mengetik naskah.

Di mana Soekarno biasanya menulis pidato? Soekarno tidak terpaku pada satu tempat. Ia sering berpindah-pindah dari satu istana ke istana lainnya, namun sebagian besar waktu dihabiskan di kamar pribadinya.

More from this category