Dailynesia News
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

PNM Dampingi Pengusaha Rumput Laut Tumbuh Bersama Holding Ultra Mikro

Published September 10, 2026 · Updated September 10, 2026 · By Linda Miller - dailynesia.com

Foto : Linda Miller - dailynesia.com

Pendampingan PNM Dorong Usaha Rumput Laut di Pulau Sebatik

Dailynesia.com – Aktivitas budidaya rumput laut di Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara, menjadi salah satu penopang penghasilan bagi banyak keluarga. Di wilayah perbatasan yang ditempuh melalui kombinasi perjalanan laut dan darat itu, akses pembiayaan serta pendampingan usaha memiliki arti penting bagi pelaku usaha ultra mikro yang ingin memperbesar kegiatan produktifnya.

Fipi Novita Sari, Account Officer (AO) PNM Mekaar, merasakan langsung dinamika tersebut selama tiga bulan menjalankan penugasan di Sebatik. Perjalanannya melintasi jalur perahu, jalan berkelok, hingga kawasan berbukit untuk menemui para nasabah yang tersebar di sejumlah titik pulau.

Penugasan itu bukan semata soal mendatangi nasabah. Novi juga mendampingi proses pembiayaan sejak tahap penjelasan kepada calon penerima hingga pencairan dana, sekaligus melihat bagaimana modal tersebut dipakai untuk menjaga roda usaha masyarakat tetap berjalan.

Modal untuk Kebutuhan Budidaya

Sebagian besar nasabah yang didampingi Novi bergerak di usaha rumput laut. Pembiayaan Mekaar digunakan untuk memenuhi kebutuhan produksi, termasuk membeli tali yang menjadi perlengkapan penting dalam proses budidaya. Tambahan modal seperti ini membantu pelaku usaha menyiapkan kebutuhan operasional tanpa harus menghentikan aktivitas sehari-hari.

Dalam pendampingannya, Novi menangani sekitar 18 kelompok dengan jumlah nasabah hampir 100 orang. Ia berinteraksi langsung dengan perempuan-perempuan pelaku usaha yang menjalankan kegiatan ekonomi dari hasil laut, baik melalui budidaya rumput laut maupun perdagangan hasil tangkapan lain.

Selain rumput laut, terdapat pula usaha berbasis udang dan kerang tudai. Di sejumlah rumah tangga, pembagian peran berjalan secara bersama-sama. Suami mencari hasil laut di pulau lain, sedangkan istri menjual hasil tangkapan tersebut untuk memperoleh pemasukan bagi keluarga.

Pola usaha keluarga itu menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi pesisir tidak berhenti pada proses mencari atau membudidayakan hasil laut. Ada proses lanjutan berupa pengolahan, pengangkutan, penjualan, serta pengelolaan modal yang ikut menentukan keberlangsungan usaha.

Perjalanan yang Tidak Selalu Mudah

Kondisi geografis Sebatik menghadirkan tantangan tersendiri bagi pendamping lapangan. Sejumlah jalur darat melintasi area perkebunan kelapa sawit dengan kontur jalan berkelok dan menanjak. Saat curah hujan tinggi, perjalanan menggunakan perahu juga dapat menjadi lebih sulit akibat gelombang yang membesar.

“Terkadang kami harus mengejar waktu sehingga perjalanan terasa cukup menantang, apalagi ketika banyak kendaraan roda empat yang melintas,” ujar Novi dikutip Kamis (10/9/2026).

Meski demikian, perjalanan tersebut mempertemukan Novi dengan beragam kisah perkembangan usaha nasabah. Ia menyaksikan perubahan pada sejumlah perempuan yang sebelumnya bekerja sebagai “Mak Betang”, sebutan lokal bagi pekerja yang membantu mengikat rumput laut, termasuk saat proses penjemuran.

Setelah memperoleh pembiayaan PNM, sebagian dari para pekerja itu mulai merintis usaha milik sendiri. Perubahan tersebut memperlihatkan peluang bagi pelaku usaha untuk bergerak dari peran tenaga kerja menjadi pengelola kegiatan ekonomi secara mandiri.

“Jadi, sebelumnya hanya sebagai pekerja, sekarang mereka mulai memiliki usaha sendiri,” kata Novi.

Rumput Laut Terhubung ke Rantai Ekonomi yang Lebih Luas

Usaha rumput laut masyarakat Sebatik dan Nunukan juga berkaitan dengan rantai pasok di luar daerah. Sebagian hasil rumput laut dari Nunukan dikirim ke Sulawesi untuk memasuki proses pengolahan di pabrik. Sebagian produk hasil pengolahan tersebut kemudian dapat dipasarkan hingga ke luar negeri.

Di tingkat lokal, rumput laut tidak hanya dipasarkan sebagai bahan baku. Ada pula nasabah di Nunukan yang mengolahnya menjadi produk seperti amplang rumput laut. Kehadiran kegiatan pengolahan memberi gambaran bahwa nilai ekonomi komoditas pesisir dapat berkembang melalui berbagai bentuk usaha.

“Biasanya ada juga nasabah di Nunukan yang membuat produk seperti amplang rumput laut. Untuk rumput lautnya sendiri, sebagian dikirim ke Sulawesi. Dari sana, ada pabrik yang kemudian mengolahnya dan sebagian bisa diekspor,” ujar Novi.

Pertumbuhan usaha para nasabah turut berpotensi menciptakan dampak bagi lingkungan sekitar. Ketika skala usaha membesar, kebutuhan akan bantuan tenaga kerja dapat meningkat. Dengan begitu, manfaat usaha tidak hanya dirasakan oleh pemiliknya, tetapi juga membuka kesempatan penghasilan bagi warga lain.

“Dampak nyatanya adalah nasabah bisa membuka peluang kerja bagi orang lain. Mereka bisa mengembangkan usahanya sehingga usahanya semakin besar dan pada akhirnya dapat menjadi peluang pekerjaan bagi masyarakat lainnya,” ujarnya.

Bagian dari Ekosistem Holding Ultra Mikro

Novi bergabung dengan PNM pada 28 Oktober 2024. Sebelum dan setelah penempatan di Sebatik, ia menjalankan tugas di wilayah Nunukan, Kalimantan Utara. Baginya, pekerjaan tersebut memperluas pengalaman melalui pertemuan dengan banyak pelaku usaha sekaligus proses belajar mengenai pembiayaan.

“Selain itu, pekerjaan ini membuat saya bisa bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang. Saya juga bisa mengembangkan diri di PNM dan belajar bagaimana proses pembiayaan di salah satu perusahaan besar,” ucapnya.

Kisah pendampingan di Sebatik menjadi bagian dari upaya Holding Ultra Mikro atau UMi untuk memperluas jangkauan pembiayaan dan pemberdayaan bagi usaha mikro serta ultra mikro. Holding UMi terdiri atas PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sebagai induk, PT Pegadaian, dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM).

Kolaborasi tersebut dirancang untuk menghadirkan akses pembiayaan yang terintegrasi di berbagai wilayah Indonesia. Dalam konteks Sebatik, pendampingan lapangan menjadi penghubung antara layanan pembiayaan dengan kebutuhan nyata pelaku usaha, mulai dari penyediaan perlengkapan budidaya hingga langkah awal membangun usaha sendiri.

Bagi masyarakat pesisir, keberlanjutan usaha tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan sumber daya laut. Kemampuan mengakses modal, mengelola kebutuhan produksi, serta memperoleh pendampingan juga menjadi bagian penting agar kegiatan usaha dapat berkembang dan memberi manfaat ekonomi yang lebih luas.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is PNM Dampingi Pengusaha Rumput Laut Tumbuh?

PNM Dampingi Pengusaha Rumput Laut Tumbuh is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does PNM Dampingi Pengusaha Rumput Laut Tumbuh matter?

PNM Dampingi Pengusaha Rumput Laut Tumbuh matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.