Jelang Upacara 17 Agustus, Bendera Pusaka Hilang-Panglima Diturunkan
Krisis Bendera Pusaka Menjelang Proklamasi Ke-22
Dailynesia.com – Sebelum upacara peringatan kemerdekaan Indonesia yang ke-22 pada tahun 1967, terjadi kepanikan di Istana Merdeka. Bendera Pusaka Merah Putih yang seharusnya dikibarkan dalam upacara tersebut tiba-tiba tidak ditemukan. Kejadian ini terjadi kurang lebih 60 jam sebelum upacara dimulai, padahal persiapan telah dilakukan selama berhari-hari tanpa celah.
Kisah ini diungkapkan oleh Maraden Panggabean, yang saat itu menjabat sebagai Menteri dan Panglima Angkatan Darat, dalam buku autobiografinya berjudul Berjuang dan Mengabdi terbitan 1993. Ia menceritakan bagaimana seluruh staf istana dikerahkan untuk memeriksa setiap laci dan lemari. Sayangnya, pencarian intensif itu tidak menghasilkan apa-apa.
Identitas Bendera yang Hilang
Bendera yang hilang bukanlah kain biasa. Kain merah putih ini dijahit langsung oleh Ibu Negara Fatmawati pada tahun 1945 dan hanya dikibarkan sekali dalam setahun, tepatnya setiap tanggal 17 Agustus. Hilangnya bendera bersejarah menjelang perayaan kemerdekaan ke-22 menjadi masalah yang cukup serius bagi panitia.
Awalnya, pihak istana berusaha menutupi kabar ini. Namun, informasi tersebut akhirnya bocor ke media massa dan menimbulkan kehebohan di kalangan publik. Sorotan pun langsung tertuju kepada Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Hal ini karena sebelum kekuasaan beralih kepada Soeharto, Istana Merdeka masih menjadi tempat tinggal Soekarno beserta keluarganya.
Soekarno dan Dugaan Membawa Bendera
Menurut laporan harian Warta Berita edisi 11 Agustus 1967, Soekarno telah mengosongkan Istana Merdeka setelah peralihan kekuasaan. Surat kabar tersebut menulis, "Istana Merdeka, yang selama ini menjadi tempat tinggal Soekarno waktu menjabat Presiden RI hingga beberapa waktu akhir ini bersama keluarganya, dewasa ini sudah dikosongkan."
Saat meninggalkan istana, Soekarno membawa beberapa barang pribadi. Muncul dugaan kuat bahwa Bendera Pusaka ikut terbawa. Maraden Panggabean segera menemui Soekarno yang saat itu telah tinggal di Wisma Yaso, Bogor. Dugaan tersebut terbukti benar. Soekarno memang menyimpan Bendera Pusaka di tempat tinggal barunya.
Namun, Soekarno tidak serta merta menyerahkan bendera tersebut. Ia justru merasa khawatir akan keselamatan bendera bersejarah itu. Soekarno bertanya, "Apa TNI AD sanggup menyelamatkannya?"
Negosiasi dan Penyelesaian
Maraden meyakinkan bahwa pemerintah siap menjaga Bendera Pusaka dengan baik. Namun, Soekarno tetap bersikeras. Ia hanya akan menyerahkan bendera jika tempat tinggalnya dipindahkan ke Jakarta dan bendera disimpan di lokasi yang ia kehendaki.
Maraden kemudian melaporkan situasi ini kepada Penjabat Presiden Soeharto. Sementara itu, waktu terus berjalan dan kepastian mengenai nasib Bendera Pusaka belum juga tercapai. Warta Berita edisi 15 Agustus 1967 melaporkan, "Sampai saat ini, masalah bendera pusaka masih tetap menjadi tanda tanya. Apakah akan dapat dikibarkan atau tidak."
Soeharto merespons masalah ini dengan serius. Ia mengirimkan utusan untuk menemui Soekarno. Menurut Rachmawati Soekarnoputri dalam memoarnya Bapakku Ibuku, Dua Manusia yang Kucintai dan Kukagumi (1985), utusan tersebut terdiri dari Maraden Panggabean, Panglima ABRI, serta panglima dari matra laut dan udara.
Pemerintah sebenarnya telah menyiapkan rencana cadangan. Jika Bendera Pusaka tidak berhasil diperoleh, panitia akan mengibarkan bendera Merah Putih biasa. Beruntung, para utusan berhasil meyakinkan Soekarno untuk menyerahkan bendera tersebut. Sebelumnya, Soekarno mengajak rombongan menuju lokasi penyimpanan yang ia inginkan, yaitu ruang bawah tanah Monumen Nasional.
Bendera Kembali Berkibar
Pada 16 Agustus 1967 pukul 16.00, kurang dari 24 jam sebelum upacara dimulai, Bendera Pusaka akhirnya diserahkan kepada pemerintah. Warta Berita edisi 16 Agustus 1967 menulis, "Bendera pusaka yang dalam hari-hari belakangan ini telah menimbulkan heboh, Selasa sore jam 16.00 telah diserahkan oleh bekas Presiden Soekarno ke pemerintah dan dengan demikian dapat dikibarkan pada hari kemerdekaan nanti."
Kesimpulannya, pada 17 Agustus Bendera Pusaka hasil jahitan Fatmawati kembali berkibar di langit Jakarta. Upacara perdana Soeharto sebagai Penjabat Presiden pun berjalan dengan lancar. Namun, pengibaran tersebut ternyata menjadi yang terakhir bagi Bendera Pusaka asli. Sejak tahun 1968, pemerintah memutuskan untuk menyimpan Bendera Pusaka secara permanen di Monas. Setelah itu, setiap perayaan kemerdekaan menggunakan bendera Merah Putih replika.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Jelang Upacara 17 Agustus Bendera Pusaka?Jelang Upacara 17 Agustus Bendera Pusaka is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Jelang Upacara 17 Agustus Bendera Pusaka matter?Jelang Upacara 17 Agustus Bendera Pusaka matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.