Warga RI Sudah Kecanduan Parah – Sehari Habiskan 7,5 Jam Main HP

2 months ago  ·  3 min read
By Sandra Taylor - dailynesia.com
feacd7e2-69b5-4ff5-bc20-4883453a1ad6-0

Warga RI Sudah Kecanduan Parah, Sehari Habiskan 7,5 Jam Main HP

Dailynesia.com – Menurut data yang diungkapkan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital, rata-rata durasi penggunaan layar oleh anak-anak di Indonesia mencapai 7,5 jam setiap hari. Angka ini menunjukkan adanya kecanduan parah pada warga RI terhadap perangkat elektronik, terutama handphone. Keadaan ini memicu kekhawatiran serius tentang dampak jangka panjang pada kesehatan fisik, mental, serta kemampuan sosial anak-anak. Untuk mencegah kecanduan gadget yang terus meningkat, Kementerian Komunikasi dan Digital menekankan pentingnya memperkenalkan aktivitas luar ruangan sebagai pengganti penggunaan HP dalam kehidupan sehari-hari.

Dampak Kecanduan HP pada Kesehatan Anak

Penelitian menunjukkan bahwa kecanduan handphone bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Salah satu dampak utamanya adalah penurunan aktivitas fisik, yang berpotensi memicu obesitas dan masalah postur tubuh. Selain itu, penggunaan gadget berlebihan juga dikaitkan dengan gangguan tidur, karena cahaya biru dari layar memengaruhi ritme sirkadian anak. Kecanduan HP juga berdampak pada perkembangan kognitif, dengan risiko penurunan kemampuan berpikir kritis dan perhatian yang terpecah akibat multitasking di media digital.

Menurut Boni Pudjianto, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Komunikasi dan Digital, anak-anak saat ini terlalu terpaku pada dunia virtual. “Kita harus memastikan bahwa anak-anak tidak hanya belajar di layar, tetapi juga mengembangkan keterampilan sosial melalui interaksi langsung dengan lingkungan sekitar,” jelasnya dalam acara Tunggu Anak Siap Jakarta di Taman Bendera Pusaka, Jumat (12/6/2026). Ia menekankan bahwa kecanduan gadget bukan hanya mengganggu kesehatan, tetapi juga mengurangi kesempatan anak-anak untuk bermain di alam terbuka dan berkomunikasi secara tatap muka.

Upaya Mencegah Kecanduan HP

Sebagai respons terhadap kecanduan HP yang terus meningkat, Kementerian Komunikasi dan Digital meluncurkan Gerakan Nasional Tunggu Anak Siap (Tunas) Jakarta. Gerakan ini bertujuan untuk mendorong anak-anak kembali ke ruang publik melalui kegiatan bermain yang menyenangkan, seperti bermain lego, basket, dan permainan tradisional. Kegiatan tersebut dihadiri oleh sekitar 3000 anak dari berbagai usia, dengan harapan mereka bisa merasakan manfaat dari interaksi fisik dan alam terbuka.

Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Digital, Alfreno Kautsar, menyampaikan bahwa banyak orang tua merasa bingung mencari alternatif aktivitas setelah akses anak ke platform digital dibatasi. “Orang tua sering bertanya, ‘Mas, oke, kita sekarang harus menahan akses anak-anak di dunia digital, tapi apa alternatifnya?’” kata Alfreno. Ia menambahkan bahwa program ini dilakukan untuk mengedukasi orang tua tentang pentingnya keseimbangan antara penggunaan teknologi dan kegiatan fisik, serta memastikan anak-anak tidak kehilangan keterampilan mengenal dunia nyata.

Dalam rangka mencegah kecanduan HP, Kementerian Komunikasi dan Digital juga menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik Dalam Pelindungan Anak (PP Tunas). Aturan ini membatasi penggunaan gawai bagi anak di bawah usia 16 tahun, termasuk batasan durasi penggunaan per hari. Meski begitu, banyak orang tua masih kesulitan mengganti kebiasaan anak-anak dengan kegiatan yang lebih sehat, sehingga program seperti Tunas Jakarta menjadi langkah penting dalam memberikan solusi praktis.

Penggunaan HP yang berlebihan juga memengaruhi kualitas pendidikan anak. Dalam dunia digital, anak-anak lebih sering bermain game atau menonton video daripada belajar secara aktif. Boni Pudjianto menyoroti bahwa kecanduan gadget bisa mengganggu proses belajar, karena anak-anak cenderung memprioritaskan kesenangan instan dibandingkan pemahaman mendalam. “Kita harus memastikan bahwa teknologi menjadi alat bantu, bukan pengganti, dalam proses pembelajaran,” tegasnya. Oleh karena itu, program seperti Tunas Jakarta dirancang untuk mengajak anak-anak kembali berinteraksi dengan lingkungan sekitar dan mengembangkan kreativitas melalui aktivitas fisik.

Kegiatan Tunggu Anak Siap Jakarta tidak hanya menjadi ajang untuk bermain, tetapi juga diisi dengan edukasi tentang pentingnya kesadaran digital. Anak-anak diberikan kesempatan untuk belajar mengenai dampak negatif dari penggunaan HP secara berlebihan dan bagaimana memanfaatkan teknologi secara bijak. Dengan pendekatan interaktif, para peserta diharapkan bisa memahami bahwa kehidupan digital tidak boleh menggantikan dunia nyata, terutama dalam aspek sosial dan kognitif. Kecanduan parah pada warga RI, terutama anak-anak, menjadi perhatian utama pemerintah dalam menciptakan generasi muda yang seimbang antara teknologi dan kehidupan riil.

MORE FROM THIS CATEGORY