Perang Iran Picu Retakan Besar, Ramai-Ramai Sekutu Menjauh dari AS

3 months ago  ·  3 min read
By Linda Davis - dailynesia.com
us-police-shooting-death-of-young-black-man-near-minneapolis-spa_169

New Policy: Perang Iran Picu Retakan Besar, Sekutu AS Mulai Berpaling

Dailynesia.com – Baru-baru ini, kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang dikenal sebagai New Policy menjadi pusat perhatian internasional. Perang antara Iran dan sekutu AS, terutama Israel, telah memicu reaksi yang signifikan di kalangan negara-negara mitra. Dalam 10 pekan terakhir, ketegangan di Teluk Persia semakin memburuk, mengguncang kepercayaan dan kemitraan tradisional. New Policy Trump, yang mencakup pengurangan kehadiran militer AS dan tindakan keras terhadap Iran, dianggap sebagai faktor utama dalam mempercepat perpecahan antar sekutu. Tindakan ini bukan hanya menyebabkan kekhawatiran, tetapi juga menciptakan kesempatan bagi negara-negara Eropa untuk mengambil langkah strategis yang lebih independen.

Kebijakan New Policy Trump memperkuat kecemasan di kalangan negara-negara NATO. Dalam beberapa kesempatan, Trump menyatakan bahwa keanggotaan dalam aliansi tersebut tidak lagi diperlukan, terutama setelah Israel melakukan serangan ke kawasan wilayah Iran. Langkah ini diperparah oleh ancaman penarikan pasukan dari Jerman, yang merupakan bagian dari rencana pengurangan kekuatan militer AS di Eropa. Kanselir Jerman Friedrich Merz, sebagai contoh, mengkritik kebijakan AS yang ia anggap telah kehilangan konsistensi dalam mempertahankan keamanan di wilayah tersebut.

“New Policy Trump telah mengubah cara Amerika Serikat berinteraksi dengan sekutu. Dengan mengecam Iran dan memperketat sanksi, ia memicu reaksi yang tidak terduga dari negara-negara Eropa,” kata juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, dalam wawancara terbaru.

Kebijakan New Policy tidak hanya memengaruhi hubungan dengan Jerman, tetapi juga menciptakan dinamika baru dalam kebijakan pertahanan AS. Pentagon mengambil keputusan yang memicu kegundahan, yakni membatalkan rencana penempatan rudal Tomahawk di Jerman. Tindakan ini menunjukkan kemungkinan perubahan strategi AS dalam menghadapi ancaman dari Iran, yang semakin memperkuat perpecahan antara kebijakan luar negeri dan kepentingan regional. Selain itu, Trump juga menyebutkan ketidakpuasan terhadap Spanyol dan Italia, dua negara yang dianggap tidak konsisten dalam mendukung operasi militer AS terhadap Iran.

Perkembangan Kebijakan dan Tindakan Tegas

Kebijakan New Policy Trump terus berkembang, dengan langkah-langkah yang diambil untuk memperkuat dominasi AS di wilayah Timur Tengah. Dalam pidato terbarunya, Trump menekankan bahwa Iran telah mengancam kepentingan AS secara langsung, sehingga kebijakan sanksi dan penarikan pasukan menjadi bagian dari upaya untuk menegakkan kekuatan ekonomi dan militer. Namun, keputusan ini juga memicu kekhawatiran bahwa AS sedang mengabaikan kepentingan sekutu Eropa, terutama dalam isu keamanan energi dan pertahanan kolektif.

Dalam konteks ini, perang Iran tidak hanya menjadi konflik militer, tetapi juga menggambarkan perubahan politik global akibat New Policy. Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menyatakan kekecewaannya terhadap sikap Trump, yang ia anggap terlalu mengutamakan kepentingan nasional atas kemitraan internasional. Hal ini menciptakan ketegangan yang makin rumit, terutama karena kebijakan Trump dianggap sebagai sinyal bahwa AS ingin lebih mandiri dalam perang melawan Iran. Respons dari sekutu lain, seperti Prancis dan Belanda, juga menunjukkan keraguan terhadap kebijakan tersebut.

Konteks Perang dan Dampak Ekonomi

Perang antara Iran dan sekutu AS yang dimulai 28 Februari 2026 menjadi pemicu utama ketegangan di benua Eropa. New Policy Trump mencakup pengambilan alih kontrol atas jalur perdagangan global, terutama Selat Hormuz, yang ditutup oleh Iran sebagai respons terhadap serangan militer AS. Penutupan tersebut mengganggu pasokan minyak dan menimbulkan tekanan ekonomi besar, yang membuat sekutu AS seperti Jerman dan Spanyol berpikir dua kali dalam menjaga hubungan dengan Washington.

Analisis dari Reuters menunjukkan bahwa New Policy Trump memperbesar celah antara AS dengan negara-negara Teluk dan Asia. Pemerintah Inggris, misalnya, berupaya memperkuat kerja sama bilateral dengan Iran sebagai alternatif dari kebijakan New Policy. Di sisi lain, negara-negara Eropa berusaha mengurangi ketergantungan pada AS, terutama dalam industri senjata dan keamanan energi. Dengan memperkuat aliansi regional, mereka mengambil langkah untuk mengurangi dampak negatif dari kebijakan New Policy yang dianggap menggangu kepentingan bersama.

Para analis internasional menilai bahwa New Policy Trump telah mengubah cara Amerika Serikat membangun kebijakan luar negeri. Dalam beberapa minggu terakhir, Trump meninjau kembali komitmen AS terhadap Pasal 5 NATO, yang sebelumnya dianggap sebagai fondasi kepercayaan antar sekutu. Tindakan ini menciptakan ketidaknyamanan, terutama karena kebijakan New Policy dinilai tidak lagi mendorong kerja sama antar negara-negara anggota. Dengan memperburuk ketegangan di wilayah Teluk, AS justru menjadi negara yang dianggap tidak stabil dalam memimpin aliansi.

MORE FROM THIS CATEGORY