Bumi Terbelah Menjadi Dua – Terpisah Garis di Turki Hingga Afrika

2 months ago  ·  2 min read
By Anthony Johnson - dailynesia.com
bb7e3e59-ef73-46dd-9db1-dd9b8f108c1c_169

Bumi Terbagi Menjadi Dua Bagian oleh Garis Lintang Baru

Dailynesia.com – Baru-baru ini, para ilmuwan mengungkap adanya garis yang membagi Bumi menjadi dua bagian dengan tingkat pemantulan cahaya matahari yang hampir serupa. Fenomena ini menarik karena meskipun kedua wilayah tidak memiliki kesamaan dalam luas daratan, lautan, atau pola cuaca, keseimbangan energi matahari yang dipantulkan kembali ke luar angkasa tetap terjaga. Peran keseimbangan ini diyakini sangat krusial dalam menentukan iklim global.

Simetri yang Tak Terduga

Sebelumnya, ilmuwan sudah mengetahui bahwa belahan utara dan selatan Bumi memantulkan jumlah energi matahari yang hampir setara. Fenomena ini disebut simetri albedo. Namun, penemuan terbaru mengungkap garis pembagi yang berbeda, membentang dari 27 derajat bujur timur hingga 153 derajat bujur barat, melintasi Eropa, Turki, Afrika, dan Alaska. Garis ini membagi Bumi menjadi dua wilayah dengan daya pantul sinar yang sempurna.

Tim peneliti dari Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA) Amerika Serikat, yang dipimpin Zhang, menganalisis data selama 25 tahun, dari 2001 hingga 2025, yang dikumpulkan oleh satelit CERES milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA). Data ini mencatat kuantitas energi matahari yang dipantulkan kembali ke luar angkasa. Dengan membandingkan nilai albedo dari permukaan laut bebas es hingga daratan, mereka memverifikasi bahwa garis ini menghasilkan keseimbangan yang unik.

“Apa yang meyakinkan saya dan komunitas ilmiah bahwa simetri timur-barat ini bukan sekadar kebetulan biasa adalah tiga ciri utamanya, yaitu keunikan, kestabilan, serta simetri rangkap tiga yang kami identifikasi,” tulis Zhang seperti dikutip dari Nature.

Garis ini menunjukkan bahwa wilayah timur dan barat Bumi memiliki komposisi daratan dan lautan bebas es yang hampir identik. Hal ini memungkinkan pemantulan cahaya yang terjadi saat langit cerah atau berawan dapat saling menyeimbangkan secara sempurna. Sementara Zhang awalnya meragukan temuan ini, konsistensi posisi garis yang tetap di 27 derajat bujur timur sejak 2001 memperkuat teori mereka.

Tim Zhang meyakini bahwa mekanisme yang mengatur keseimbangan ini berkaitan erat dengan osilasi El Niño-Southern Oscillation (ENSO). Mereka menemukan bahwa pergeseran kecil posisi garis simetri berkorelasi kuat dengan sejarah fenomena ENSO. Hipotesis mereka menyatakan bahwa sirkulasi Walker, pola perputaran udara besar di wilayah Pasifik tropis, berfungsi sebagai penyeimbang utama dalam sistem iklim Bumi.

Saat La Niña terjadi, belahan timur Bumi memantulkan sedikit lebih banyak energi matahari. Sebaliknya, saat El Niño berlangsung, belahan barat mengambil peran tersebut. Bolak-balik sirkulasi Walker ini diperkirakan mengatur pembentukan awan dan distribusi radiasi matahari, menjaga posisi garis keseimbangan dalam jangka panjang.

MORE FROM THIS CATEGORY