Special Plan: Harga LPG Terbaru di Agen dan Pangkalan per 8 Juni 2026
Dailynesia.com – Program Special Plan yang dicanangkan pemerintah menjadi sorotan utama dalam upaya mengoptimalkan pengelolaan energi gas nasional. Rencana ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada impor LPG dengan memperkenalkan solusi alternatif seperti CNG, DME, serta program Jargas untuk kebutuhan rumah tangga. Langkah ini diharapkan mampu menstabilkan harga jual LPG di pasar dalam negeri dan memitigasi tekanan pada anggaran subsidi yang mencapai Rp80 hingga Rp87 triliun per tahun. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa Special Plan adalah bagian dari strategi jangka panjang untuk menciptakan keseimbangan antara permintaan energi dan kapasitas produksi lokal.
“Kita belanja LPG sebesar Rp137 triliun setiap tahun. Dari angka itu, subsidi yang diberikan oleh pemerintah mencapai Rp80 sampai Rp87 triliun. Harga subsidi LPG tersebut tetap stabil sejak awal hingga kini,” ujar Bahlil dalam acara Sinergi Alumni IPB Untuk Bangsa, beberapa waktu lalu.
Perubahan Harga LPG Non-Subsidi Per 18 April 2026
Seiring penerapan Special Plan, kenaikan harga LPG non-subsidi mulai berlaku sejak 18 April 2026. Perubahan ini memengaruhi berbagai wilayah, termasuk Tangerang Selatan, yang mencatatkan harga LPG 12 kg sebesar Rp245.000 per tabung, naik Rp35.000 dari sebelumnya. Sementara LPG 5,5 kg mengalami kenaikan Rp20.000, mencapai Rp130.000 per tabung. Kenaikan harga ini sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk menyesuaikan biaya produksi dan distribusi dengan kondisi pasar global.
Kenaikan harga LPG non-subsidi juga terjadi di daerah lain. Dalam data dari Pertamina Patra Niaga, harga LPG 5,5 kg di Banten, DKI Jakarta, dan sejumlah provinsi lain mencapai Rp107.000 per tabung, naik Rp17.000 dari harga sebelumnya. Sementara itu, LPG 12 kg di wilayah tersebut berada di angka Rp228.000 per tabung. Di daerah dengan akses yang lebih terbatas, seperti Kalimantan Utara (Tarakan), harga LPG 5,5 kg mencapai Rp124.000, sementara LPG 12 kg mencapai Rp265.000. Perbedaan harga ini mencerminkan kondisi logistik dan biaya transportasi yang berbeda di setiap wilayah.
Stabilitas Harga LPG Bersubsidi dan Tantangan
Harga LPG bersubsidi ukuran 3 kg tetap stabil di Tangerang Selatan, sebesar Rp22.000 per tabung. Namun, Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk ukuran yang sama diperkirakan Rp19.000 per tabung, yang menunjukkan potensi penyesuaian harga di masa depan. Pemerintah menginginkan HET menjadi indikator lebih objektif dalam mengontrol subsidi. Meski demikian, kebijakan Special Plan tetap memerlukan koordinasi yang ketat antara Kementerian ESDM, Pertamina, dan pemangku kepentingan lainnya untuk memastikan kelancaran distribusi dan penggunaan energi gas.
Kebutuhan LPG nasional mencapai sekitar 8,6 juta ton per tahun, tetapi kapasitas produksi dalam negeri hanya sekitar 1,6-1,7 juta ton. Hal ini menyebabkan Indonesia tetap mengimpor sekitar 7 juta ton LPG setiap tahun, yang menjadi tantangan utama dalam mewujudkan Special Plan. Pemerintah juga menekankan pentingnya peran program Jargas sebagai alternatif terjangkau untuk kebutuhan rumah tangga, terutama di daerah-daerah yang jauh dari pusat produksi. Dengan adanya Special Plan, diharapkan penggunaan LPG dalam negeri bisa meningkat, sekaligus mengurangi risiko ketergantungan pada pasokan luar negeri.
Perubahan harga LPG dalam rangka Special Plan diharapkan memberikan dampak signifikan terhadap konsumen. Di daerah dengan akses mudah ke pasar impor, kenaikan harga bisa diimbangi oleh peningkatan ketersediaan produk lokal. Namun, di wilayah yang lebih terpencil, harga LPG non-subsidi yang lebih tinggi mungkin memengaruhi daya beli masyarakat. Pemerintah berupaya menyeimbangkan antara kebijakan subsidi dan harga pasar untuk menjaga kesejahteraan rakyat sekaligus mendukung keberlanjutan energi nasional.
Sebagai bagian dari Special Plan, pemerintah juga memperkenalkan inisiatif penggunaan CNG dan DME sebagai pengganti LPG. Kebijakan ini dilakukan untuk mengurangi beban subsidi dan menumbuhkan industri energi berkelanjutan. Selain itu, pengembangan infrastruktur distribusi serta peningkatan kapasitas produksi dalam negeri dianggap sebagai langkah kunci untuk menegaskan efektivitas Special Plan dalam jangka panjang. Dengan kombinasi strategi ini, diharapkan ketergantungan pada impor bisa dikurangi secara bertahap.

