Main Agenda: Gawat! Nasib Influencer Terancam, Pesaing Muncul-Awas Bawa Petaka Baru

2 months ago  ·  3 min read
By Daniel Rodriguez - dailynesia.com
ai-influencers-tangkapan-layar-lipdub-ai-1780712177310_169

Ancaman Baru bagi Influencer: AI Muncul dan Mengubah Dinamika Digital

Dailynesia.com – Dunia digital sedang mengalami perubahan mendalam akibat kemunculan teknologi artificial intelligence (AI) sebagai pesaing yang semakin mengancam kinerja influencer. Alat ini tidak hanya menggantikan peran chatbot, tetapi juga menciptakan figuran virtual yang sangat realistis dan mampu berinteraksi seperti manusia. Kekhawatiran semakin besar karena AI bisa meniru identitas kreatif, termasuk memalsukan wajah dan suara dengan bantuan deepfake, yang berpotensi mengganggu kepercayaan publik terhadap konten yang dibuat oleh manusia.

Main Agenda: AI Sebagai Pesaing Digital yang Berpotensi Menggantikan Influencer

Main Agenda menyoroti bagaimana kemajuan teknologi AI tidak hanya mengubah cara orang berinteraksi di platform media sosial, tetapi juga mengintrodusikan risiko baru bagi profesi influencer. Dengan kemampuan algoritma canggih, AI bisa membangun persona digital aktif di berbagai platform, mempercepat proses pemasaran produk, dan mengatur pesan merek secara efisien. Menurut Rianda Dirkareshza dari UPN Veteran Jakarta, AI tidak hanya menjadi alat untuk menghasilkan konten, tetapi juga berperan dalam memengaruhi opini publik dan membentuk perilaku konsumen secara menyeluruh.

“AI influencer digunakan untuk memasarkan produk, membangun citra merek, memengaruhi opini publik, hingga membentuk perilaku konsumen,” papar Dirkareshza dalam artikel berjudul “‘AI Influencer’: Ancaman Privasi Data dan Pemalsuan Identitas di Balik Tren Baru.”

Dalam konteks ini, Main Agenda memperlihatkan bagaimana kekuatan AI memberikan kontrol lebih tinggi bagi pemilik merek atas komunikasi yang ingin disampaikan. Namun, kekuatan ini juga berpotensi memicu risiko serius, seperti eksploitasi identitas manusia tanpa izin. Dalam penelitian terkini, sistem AI generatif mempelajari data internet secara masif, tetapi sering kali tanpa persetujuan resmi dari penciptanya, yang mengubah paradigma kreativitas dan menimbulkan masalah hak cipta.

Main Agenda: Dampak Hukum dan Etika dari Pemalsuan Identitas

Kemunculan AI influencer memicu pertanyaan besar tentang pelanggaran hak cipta dan etika. Main Agenda menjelaskan bahwa UU Hak Cipta No. 28 Tahun 2014 memberikan hak eksklusif kepada pencipta, termasuk dalam memperbanyak, mengadaptasi, dan mendistribusikan karya mereka. Jika data kreatif digunakan tanpa izin, ini bisa dianggap sebagai bentuk pelanggaran hak cipta, yang berdampak pada pengakuan karya manusia di dunia digital.

“Dalam beberapa kasus, teknologi ini digunakan untuk membuat video palsu pejabat publik, konten pornografi sintetis, hingga iklan menggunakan wajah seseorang tanpa persetujuan,” tutur Dirkareshza.

Contoh nyata kekuatan AI adalah pada tahun 2023, ketika lagu yang dihasilkan oleh sistem AI sempat mencuri perhatian karena kemampuannya meniru gaya vokal Drake. Peristiwa ini menunjukkan bahwa AI tidak hanya menggandakan karya manusia, tetapi juga mampu meniru ciri khas kreator tertentu secara mendalam. Kondisi ini mengubah lanskap kreatif dan menimbulkan tantangan bagi influencer tradisional dalam mempertahankan keunikan karya mereka.

Main Agenda: Ancaman terhadap Demokrasi Digital

Kemampuan AI membuat video tiruan dengan tingkat otentisitas tinggi menjadi ancaman serius bagi demokrasi digital. Main Agenda menyebutkan bahwa teknologi deepfake bisa dimanfaatkan untuk memproduksi konten palsu yang memperdaya publik, seperti iklan komersial atau video pejabat yang tidak benar. Hal ini berkaitan langsung dengan aturan hukum Indonesia, khususnya Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), yang perlu diperbarui untuk mengatasi risiko disinformasi.

Menurut Dirkareshza, kecepatan perkembangan AI yang terus meningkat membuat tantangan regulasi semakin berat. Sementara aturan sanksi pidana sudah ada, kemajuan teknologi jauh lebih cepat, sehingga menyisakan celah dalam perlindungan hukum. Main Agenda menekankan bahwa kondisi ini bisa membahayakan integritas informasi dan memperkuat potensi disinformasi di ruang digital, yang memperparah persaingan antara influencer manusia dan AI.

Main Agenda: Solusi untuk Meminimalkan Risiko AI

Main Agenda menyarankan beberapa langkah untuk menghadapi ancaman AI. Pertama, pentingnya edukasi masyarakat agar mampu membedakan konten asli dan buatan AI. Kedua, penguatan regulasi hukum yang lebih komprehensif, termasuk pengaturan mengenai penggunaan data sepihak dan tanggung jawab pemilik merek. Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, industri kreatif, dan teknologi bisa membantu mengembangkan standar etika dalam penggunaan AI.

Dirkareshza menambahkan bahwa Main Agenda ini menyoroti perluasan peran AI dalam dunia digital, yang seharusnya diimbangi dengan upaya untuk menjaga keadilan dan keterbukaan. Dengan memahami risiko yang ada, influencer dan pemangku kepentingan lain bisa bersiap menghadapi perubahan yang diakibatkan oleh kemunculan teknologi ini. Teknologi AI tidak hanya mengubah cara kita berinteraksi, tetapi juga membentuk ulang struktur dan nilai-nilai dalam industri kreatif.

MORE FROM THIS CATEGORY