Depresiasi Rupiah Berlanjut, Xinhua Mengidentifikasi Faktor Utama
Dailynesia.com – Menurut laporan terkini dari media massa utama Tiongkok, Xinhua, mata uang Indonesia, rupiah, kembali mengalami penurunan hingga mencapai titik psikologis baru, yakni di atas Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Penurunan ini terjadi di tengah kondisi ketidakpastian global yang tinggi dan penguatan data ekonomi AS yang lebih baik dari ekspektasi pasar. Sebagai contoh, dalam artikel berjudul “Indonesian rupiah weakens beyond 18,000 per dollar”, Xinhua menulis bahwa rupiah tergelincir melewati angka 18.000 per dolar AS, terutama di tengah ketegangan geopolitik yang memanas di Timur Tengah serta kinerja sektor tenaga kerja dan jasa AS yang kuat.
Kebijakan Stabilisasi Rupiah Diperkuat oleh BI
Bank Indonesia (BI) telah menegaskan komitmennya untuk terus mengambil langkah “konsisten dan terukur” guna mempertahankan kestabilan nilai tukar rupiah. Dalam laporan terbaru, BI menjelaskan bahwa mereka akan mengoptimalkan instrumen kebijakan, termasuk menjaga likuiditas valuta asing yang memadai, sebagai strategi utama dalam menghadapi fluktuasi pasar. Penurunan rupiah mencapai 0,27% pada hari Kamis, sehingga kurs saat ini berada di angka 18.015 per dolar AS. Tahun ini, nilai rupiah telah merosot lebih dari 7%, memberikan tekanan signifikan pada sektor riil.
“Rupiah Indonesia melemah melewati angka psikologis 18.000 per dolar AS pada Kamis pagi di tengah ketidakpastian global dan data ekonomi AS yang lebih kuat dari perkiraan,” tulis laman Xinhua.
Kondisi Ekonomi Global Menjadi Penyebab Utama Depresiasi
Meningkatnya tekanan dari sektor ekonomi global menjadi faktor dominan yang memengaruhi penurunan rupiah. Para ahli menyoroti bahwa permintaan terhadap dolar AS bergerak naik karena faktor-faktor seperti ketegangan geopolitik di Timur Tengah, yang berdampak pada stabilitas perdagangan internasional, serta pertumbuhan sektor jasa dan lapangan kerja AS yang solid. Hal ini mengakibatkan pelaku pasar lebih memilih dolar sebagai alat transaksi utama, sehingga mengurangi permintaan terhadap rupiah.
“Mata uang tersebut turun 0,27% menjadi 18.015 per dolar AS, sehingga penurunan tahun ini mencapai lebih dari 7%,” muat Xinhua.
Di sisi lain, sentimen pasar domestik masih terlihat lesu, mengingat investor lokal lebih cenderung menghindari risiko di tengah ketidakpastian eksternal. Xinhua juga menegaskan bahwa kebijakan BI untuk menjaga likuiditas dan mengoptimalkan instrumen keuangan tetap menjadi pilar utama dalam upaya menstabilkan nilai tukar rupiah. Meski demikian, kondisi pasar internasional yang tidak menentu memaksa BI tetap berhati-hati dalam menyesuaikan kebijakan moneter.
Keprihatinan Dunia Usaha terhadap Kurs Rupiah
Depresiasi rupiah mulai memberikan dampak nyata pada sektor-sektor riil, seperti industri manufaktur dan perdagangan. Sebuah organisasi industri Indonesia menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan terpaksa mengambil langkah-langkah pemotongan biaya dan membekukan rekrutmen tenaga kerja baru ketika kurs rupiah melemah hingga di atas 18.000 per dolar AS. Fenomena ini mengganggu aktivitas ekspansi dan menimbulkan kekhawatiran terhadap margin keuntungan.
“Dunia usaha di Indonesia menerapkan langkah-langkah pemotongan biaya dan membekukan perekrutan tenaga kerja baru ketika nilai tukar rupiah melemah melampaui 18.000 terhadap dolar AS, kata Shinta Kamdani, ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo),” tulis laman tersebut.
Shinta Kamdani menambahkan bahwa mayoritas bahan baku yang digunakan oleh industri Indonesia masih bergantung pada impor, terutama dari negara-negara yang memiliki hubungan dagang kuat dengan AS. Ini berarti bahwa penurunan nilai rupiah meningkatkan biaya produksi dan menekan kemampuan perusahaan untuk memperluas operasi. Selain itu, kepastian usaha juga terganggu karena risiko kenaikan harga bahan baku impor.
Industri Paling Terdampak Depresiasi Kurs
Sejumlah sektor industri yang sangat bergantung pada bahan baku impor menjadi paling rentan terhadap fluktuasi rupiah. Industri seperti tekstil, bahan kimia, petrokimia, plastik, logam dasar, elektronik, dan manufaktur otomotif mengalami penurunan kinerja yang signifikan. Penurunan ini tidak hanya berdampak pada keuntungan, tetapi juga memaksa perusahaan menyesuaikan strategi bisnis dengan mencari alternatif bahan baku lokal atau memperkuat kebijakan lindung nilai mata uang.
“Shinta juga menyebutkan tingginya biaya logistik, energi, dan pembiayaan sebagai beban tambahan bagi dunia usaha, sembari mencatat bahwa aktivitas manufaktur dan kepercayaan dunia usaha telah melemah dalam beberapa bulan terakhir

