Hantavirus Menyebar di RI Berbeda, Kemenkes Ungkap Variannya
Dailynesia.com – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan bahwa hantavirus yang beredar di Indonesia memiliki pola penyebaran yang berbeda dibandingkan dengan jenis hantavirus yang ditemukan di wilayah Amerika, seperti Hantapulmonary Syndrome (HPS). Dalam laporan terbaru, Kemenkes menyebutkan bahwa varian hantavirus yang terdeteksi di Tanah Air termasuk dalam kategori Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yang menyebabkan gejala dan dampak klinis berbeda. Hal ini mengingatkan masyarakat untuk lebih memahami perbedaan cara penularan dan tingkat keparahan antara varian HFRS dengan HPS, yang sempat menimbulkan kekhawatiran setelah terjadi tiga kematian di kapal pesiar MV Hondius.
Studi Rikhus Vektora yang dilakukan oleh Kemenkes mencatat bahwa hantavirus HFRS ditemukan di 29 provinsi di Indonesia, dengan sumber penularan utama melalui kontak langsung dengan ekskresi atau sekresi hewan-hewan pembawa virus seperti tikus dan celurut. Menurut data pemerintah, kebanyakan kasus terjadi di daerah dengan lingkungan yang rawan kelembapan, seperti perumahan atau tempat penampungan darurat, karena kondisi tersebut memicu peningkatan populasi vektor. Berbeda dengan penyebaran HPS yang melalui udara dan lebih cepat menyebar di ruang tertutup, HFRS lebih dominan melalui kontak fisik atau kontaminasi makanan.
Kasus dan Perbedaan Jenis Hantavirus di Indonesia
Dari Januari 2024 hingga minggu ke-16 tahun 2026, Kemenkes mencatat 23 kasus konfirmasi hantavirus tipe HFRS di Indonesia. Strain yang paling umum ditemukan adalah Seoul Virus, yang memiliki tingkat kematian (CFR) sekitar 5 hingga 15% tergantung pada kondisi pasien. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan HPS yang memiliki CFR hingga 60%, seperti yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius. Perbedaan tersebut berdampak pada keparahan gejala dan tingkat ketergantungan pada perawatan medis, yang perlu disesuaikan dengan karakteristik masing-masing varian.
“Kasus konfirmasi hantavirus di Indonesia dominan berupa Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) strain Seoul Virus,” tulis laporan Kemenkes, dikutip CNBC Indonesia pada Minggu (10/5/2026). “Penyebarannya berbeda dari HPS yang terjadi di Amerika, dengan lebih banyak fokus pada kontak langsung dengan vektor hewan.”
Kemenkes menegaskan bahwa meskipun HFRS tidak seberat HPS, penyakit ini tetap memerlukan perhatian khusus karena mampu menyebabkan komplikasi serius jika tidak segera diatasi. Pemerintah mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya hantavirus, terutama di wilayah dengan tingkat kelembapan tinggi, karena ini meningkatkan risiko paparan virus. Berbeda dengan wilayah kering, seperti daerah pegunungan, kelembapan di perkotaan dan perumahan menjadi faktor utama penyebaran HFRS.
Mekanisme Penyebaran dan Tanda-Tanda Klinis
Hantavirus HFRS menyebar melalui kontak dengan cairan tubuh hewan penyebar, terutama melalui udara yang terkontaminasi oleh kotoran tikus atau celurut. Hal ini bisa terjadi ketika seseorang menghirup debu yang mengandung virus, atau menyentuh permukaan yang tercemar dan kemudian menggigit atau menelan makanan tanpa mencuci tangan. Berbeda dengan HPS yang lebih terkait dengan saluran pernapasan, HFRS lebih mengarah ke sistem peredaran darah dan ginjal, sehingga gejalanya cenderung berkembang secara perlahan.
Gejala awal hantavirus HFRS meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, kelelahan, serta penurunan nafsu makan. Pada tahap lanjut, pasien bisa mengalami gejala seperti demam berdarah, perubahan warna kulit (ikterik), dan kelelahan ekstrem. Sementara itu, HPS sering menimbulkan gejala pernapasan, seperti batuk, sesak napas, atau bahkan kegagalan pernapasan. Masa inkubasi untuk HFRS berkisar antara 7 hingga 14 hari, sementara HPS lebih pendek, sekitar 14 hingga 17 hari, sehingga perbedaan ini menjadi petunjuk awal untuk identifikasi kasus.
Kemenkes menekankan bahwa kesadaran masyarakat tentang cara penyebaran hantavirus adalah kunci untuk mencegah penularan massal. Dengan memperkuat kebersihan lingkungan, seperti membersihkan area yang rawan tikus dan celurut, serta menghindari penggunaan alat makan atau tempat tidur yang tidak terjaga kebersihannya, risiko infeksi bisa diminimalkan. Selain itu, pemerintah juga berencana untuk mengadakan sosialisasi lebih intensif melalui media lokal dan pelayanan kesehatan di tingkat masyarakat.
Dalam upaya mengendalikan penyebaran hantavirus, Kemenkes bersama instansi terkait melakukan survei dan pemantauan terhadap wilayah yang rawan. Dari hasil survei, sekitar 70% kasus HFRS terkonsentrasi di kota-kota besar dan daerah perkotaan, di mana lingkungan hidup kurang optimal. Menurut peneliti, hal ini menunjukkan bahwa keterlibatan manusia dalam memperluas habitat vektor menjadi faktor utama dalam penyebaran virus. Jadi, untuk memutus rantai penularan, perlu diimbangi dengan langkah-langkah pencegahan yang lebih menyeluruh.

