Kurs Rupiah Terhadap Dolar AS Terus Turun
Dailynesia.com – Dengan adanya New Policy, kurs rupiah terhadap dolar AS melanjutkan tren pelemahan, bahkan menyentuh level Rp18.000 per dolar. Pada perdagangan hari ini, Kamis (4/6/2026), data Refinitiv mencatatkan rupiah melemah sebesar 0,56% ke Rp18.040/US$ pada pukul 11.30 WIB. Angka ini lebih rendah dari posisi sebelumnya, yakni Rp18.015/US$ yang tercatat di 09.11 WIB. Pelemahan kurs ini memicu perdebatan mengenai apakah New Policy benar-benar memberi manfaat signifikan bagi industri ekspor.
Peran New Policy dalam Dinamika Kurs
New Policy menjadi sorotan utama dalam perubahan kurs rupiah, terutama di tengah kondisi ekonomi global yang tidak stabil. Meski dolar AS menguat, banyak pelaku bisnis meragukan manfaat langsung dari kebijakan tersebut bagi sektor ekspor. Menurut Ketua Umum HIMKI, Abdul Sobur, New Policy perlu disertai dengan strategi yang lebih terarah agar benar-benar memberi dampak positif. “Jika New Policy tidak disertai dengan peningkatan efisiensi industri dan penguatan daya saing, maka manfaat dari pelemahan kurs akan terbatas,” terang Sobur.
“Maka, New Policy harus dilihat sebagai bagian dari keseluruhan reformasi ekonomi yang lebih luas. Kebijakan ini tidak bisa memastikan keuntungan otomatis bagi eksportir, karena ketahanan sektor industri bergantung pada banyak faktor,” tambah Sobur.
Ekosistem Industri sebagai Penentu Ketahanan
Ketahanan industri tidak hanya bergantung pada dinamika nilai tukar, tetapi juga pada kekuatan ekosistem usaha domestik. New Policy diharapkan mendorong harmonisasi kebijakan antar sektor, sehingga mempermudah akses pasar ekspor. Namun, Sobur menyoroti bahwa industri yang memiliki fondasi kuat lebih siap menghadapi tekanan eksternal. “Ketika ekosistem industri sehat dan efisien, mereka bisa menghadapi gejolak global apa pun, termasuk fluktuasi dolar AS,” ujarnya.
“Misalnya, sektor di China yang mampu menjaga daya saing meski menghadapi perubahan ekonomi dunia, membuktikan bahwa kerja ekosistem industri yang disiplin dari hulu sampai hilir adalah kunci utama,” kata Sobur.
Perbandingan dengan Industri Global
Pada New Policy, pelaku usaha Indonesia harus mengacu pada kinerja industri global untuk memahami potensi dan tantangan. Sobur mencontohkan industri di China yang mampu menjaga daya saing meski menghadapi perubahan ekonomi dunia. “Yang paling dominan adalah kerja ekosistem industri yang disiplin dari hulu sampai hilir,” imbuhnya. Kebijakan ini seharusnya bisa memperkuat sinergi antar sektor, termasuk pengurangan biaya logistik dan peningkatan produktivitas tenaga kerja.
“Kalau kami melihat langsung ke kawasan industri di China seperti Shandong maupun Xiamen, yang paling terasa sebenarnya bukan hanya soal teknologi atau besarnya pabrik, tetapi bagaimana seluruh ekosistem industrinya bekerja sangat disiplin dan efisien,” ujar Sobur.
Potensi dan Tantangan Industri Indonesia
Indonesia memiliki potensi besar untuk bersaing global, dengan keunggulan bahan baku, kreativitas pelaku usaha, dan pasar domestik yang luas. Namun, beberapa hambatan struktural masih perlu diperbaiki agar daya saing bisa meningkat. New Policy diharapkan menjadi pemicu untuk mengatasi tantangan seperti biaya logistik tinggi, fragmentasi kebijakan, dan produktivitas tenaga kerja yang belum optimal. “Kita masih menghadapi tantangan besar, tetapi New Policy memberi peluang untuk mendorong transformasi ekosistem industri,” terang Sobur.
“Dengan New Policy, Indonesia bisa membangun fondasi yang lebih kuat, sehingga mampu mengejar pertumbuhan ekspor meskipun menghadapi tekanan kurs yang berfluktuasi,” kata Sobur.
Strategi untuk Maksimalkan Manfaat New Policy
Untuk memaksimalkan dampak New Policy, Sobur menyarankan agar pemerintah dan pelaku usaha fokus pada perbaikan internal industri. “Kebijakan eksternal seperti New Policy hanya menjadi penunjang jika ekosistem industri sudah siap secara fundamental,” jelasnya. Selain itu, peningkatan produktivitas dan efisiensi bisa menjadi kunci utama dalam menghadapi pasar global yang semakin kompetitif. “Kita perlu memastikan bahwa industri tidak hanya memanfaatkan pelemahan kurs, tetapi juga mampu meningkatkan kualitas produk dan daya saing secara berkelanjutan,” tegas Sobur.
“Dengan New Policy yang tepat, industri Indonesia bisa menjadi lebih tangguh, tidak hanya dalam menghadapi tekanan eksternal, tetapi juga dalam membangun keterlibatan ekspor yang sehat dan berkelanjutan,” tambah Sobur.

