Breaking! Trump Kena “Tampar” Kongres, 4 Anggota DPR Sekutu Membelot

2 months ago  ·  3 min read
By Linda Davis - dailynesia.com
fe4ad062-d982-4946-9533-d972d632a4ab-0

What Happened During: Trump Teguran Kongres, 4 Anggota DPR Membelot

Dailynesia.com – Jakarta, 3 Juni 2026, menjadi momen penting dalam sejarah politik Amerika Serikat. Kongres, yang dipimpin oleh Partai Republik, memberikan peringatan terhadap kebijakan presiden Donald Trump terkait kekuasaan perang atas Iran. Dalam sidang yang berlangsung di DPR, resolusi bersama disahkan setelah sejumlah anggota Partai Republik memutuskan berpaling dari pendirian mereka. Langkah ini menunjukkan kemungkinan adanya kelemahan dalam koordinasi partai dan pergeseran sikap politik di tengah persaingan pemilu.

Proses Pengesahan Resolusi dan Kehadiran DPR

Resolusi tersebut diperkenalkan sebagai bentuk protes terhadap kebijakan Trump yang dikhawatirkan akan meningkatkan risiko konflik dengan Iran. Meski disahkan dengan skor 215-208, keberhasilannya memperlihatkan bahwa kekuasaan kongres tidak sepenuhnya terbagi antarpartai. Empat anggota DPR dari Partai Republik, termasuk Thomas Massie, Brian Fitzpatrick, Tom Barrett, dan Warren Davidson, secara tidak terduga memilih mendukung kebijakan Demokrat. Hal ini menciptakan gelombang perdebatan di media dan pengamat politik, dengan beberapa menilai bahwa peristiwa ini menggambarkan kecemburuan partai terhadap Trump.

Dalam sidang yang berlangsung di tengah situasi geopolitik dinamis, resolusi tersebut mencerminkan keinginan Kongres untuk memperkuat pengawasan terhadap penggunaan kekuasaan perang. Meski tidak memiliki wewenang hukum yang sama seperti undang-undang, resolusi ini membuka ruang bagi diskusi tentang kebijakan militer Trump. Menurut para pengamat, penambahan anggota Partai Republik dalam dukungan ini bisa memengaruhi dinamika hubungan antara eksekutif dan legislatif. “What Happened During ini menunjukkan bahwa kongres tidak hanya menjadi mitra, tetapi juga pemain aktif dalam menegakkan prinsip demokrasi,” kata seorang analis politik.

Perlawanan Senator dan Dana Antipenyalahgunaan

Sebelumnya, Partai Republik di Senat juga menentang penggunaan dana antipenyalahgunaan kekuasaan sebesar US$1,8 miliar yang diusulkan Trump. Dana ini bertujuan untuk menutupi kerugian pendukungnya yang terlibat dalam kerusuhan Gedung Capitol pada 6 Januari 2021. Audit yang dilakukan menemukan adanya pelanggaran ketentuan anggaran, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang transparansi penggunaan dana tersebut. Senator-senator Republik berpendapat bahwa penggunaan dana ini akan mengabaikan pertimbangan anggaran yang lebih luas.

Di tengah kontroversi, resolusi DPR menjadi isyarat kuat bahwa kebijakan Trump di bidang luar negeri tidak sepenuhnya mendapat dukungan dari seluruh anggota kongres. Meski Partai Republik tetap menguasai mayoritas, keberanian empat anggota untuk berpaling dari kebijakan partai menunjukkan adanya kemungkinan perubahan arah dalam pengambilan keputusan. “What Happened During ini menggambarkan kecemburuan kongres terhadap pemerintahan Trump, terutama dalam hal koordinasi antarpartai,” tambah seorang anggota komite luar negeri.

“Saya sangat senang melihat sebagian anggota Republik berdiri bersama kami. Ini adalah langkah penting dalam menegakkan keadilan di tengah perdebatan kekuasaan perang,” ujar Gregory Meeks, anggota DPR dari New York, setelah pemungutan suara.

Ketua DPR AS Mike Johnson, yang berada di pihak Partai Republik, mengecam resolusi tersebut sebagai langkah berisiko yang bisa mengganggu kemampuan pemerintah dalam menegosiasikan perdamaian. Ia menilai bahwa kebijakan Trump, meski kontroversial, tetap diperlukan dalam menghadapi ancaman dari Iran. “What Happened During ini membuka jalan untuk diskusi lebih jauh, tetapi tidak semua anggota kongres setuju dengan pendekatan ini,” imbuh Johnson.

Peristiwa ini menimbulkan perdebatan terbuka tentang hubungan antara kekuasaan eksekutif dan legislatif. Para kritikus menganggap resolusi DPR sebagai kejutan yang mengubah keadaan kongres menjadi lebih seimbang. Namun, pendukung Trump menyebutnya sebagai tindakan politik yang tergesa-gesa. Dengan keberhasilan ini, Kongres kembali menjadi pusat perhatian dalam menentukan arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Sementara itu, masyarakat menunggu langkah lebih lanjut dari Trump dan Partai Republik dalam memperkuat atau mengurangi tekanan politik terhadap kebijakannya.

MORE FROM THIS CATEGORY