Important News: Terungkap Alasan Sebenarnya Gen Z Susah Dapat Kerja

2 months ago  ·  3 min read
By Elizabeth Lopez - dailynesia.com
a8b96fb4-899f-4edb-8630-98a17a8d9f65-0

Terungkap Alasan Sebenarnya Gen Z Susah Dapat Kerja

Dailynesia.com – Important News – Jakarta – Kecerdasan buatan (AI) sering dianggap sebagai musuh utama generasi muda dalam memasuki dunia kerja. Namun, temuan terbaru dari Federal Reserve Bank New York (New York Fed) membantah asumsi tersebut. Laporan yang diterbitkan lewat blog Liberty Street Economics pada 1 Juni 2026 menunjukkan bahwa perubahan pola kerja pasca-pandemi justru menjadi penyebab utama kesulitan Generasi Z (Gen Z) dalam mencari pekerjaan.

“Kami memperkirakan bahwa kerja jarak jauh dapat menjelaskan 64% dari kenaikan pengangguran di kalangan lulusan perguruan tinggi muda. Lonjakan ini terjadi sebelum AI generatif mulai mendominasi sektor industri,” tulis Natalia Emanuel, ekonom riset New York Fed, dikutip Business Insider pada Rabu (3/6/2026).

Pola Kerja Jarak Jauh dan Pergeseran Tuntutan Industri

Kecerdasan buatan memang menjadi perdebatan hangat dalam dunia kerja. Banyak perusahaan mengadopsi teknologi ini untuk mengotomasi proses, mengurangi biaya operasional, dan meningkatkan efisiensi. Namun, Important News mengungkapkan bahwa peningkatan lapangan kerja yang terjadi di era digital lebih banyak dipengaruhi oleh transformasi cara bekerja, terutama kerja jarak jauh yang dianggap sebagai penyebab utama kesulitan Gen Z.

Berdasarkan studi yang dipublikasikan oleh Natalia Emanuel, peningkatan jumlah posisi kerja jarak jauh sejak 2020 telah menciptakan ketimpangan dalam persaingan lapangan kerja. Perusahaan kini lebih memilih kandidat yang sudah memiliki pengalaman kerja karena memudahkan proses adaptasi di lingkungan virtual. Sementara itu, lulusan baru sering dianggap kurang mampu menyesuaikan diri dengan model kerja yang lebih kompetitif dan dinamis.

Analisis Penelitian Emma Harrington dan Amanda Pallais

Penelitian Emma Harrington dan Amanda Pallais dari universitas ternama di AS juga menegaskan bahwa pergeseran cara bekerja memainkan peran dominan. Mereka menemukan bahwa sektor-sektor yang mampu mengadopsi kerja jarak jauh mengalami kenaikan pengangguran sebesar 1 poin persentase antara 2017–2019 dan 2022–2024. Fenomena ini dianggap sebagai bukti bahwa Gen Z sedang menghadapi Important News terkait tantangan perekrutan yang lebih berat.

Kemampuan para lulusan baru untuk bekerja secara virtual dinilai kurang optimal dibandingkan pekerja senior. Profesor ekonomi yang terlibat dalam studi ini menjelaskan bahwa perusahaan cenderung menghindari risiko pengembangan keterampilan di tim yang tersebar. Mereka lebih memilih kandidat yang sudah terbiasa dengan lingkungan kerja yang fleksibel dan efisien. Hal ini memperkuat pola “Gen Z career squeeze” yang menggambarkan kesulitan mereka untuk memperoleh peluang karier yang sebelumnya lebih mudah diakses.

Kondisi ini juga memengaruhi kebijakan rekrutmen perusahaan. Important News menyoroti bahwa banyak perusahaan mengurangi jumlah perekrutan untuk posisi dengan tingkat keterampilan yang rendah. Mereka lebih fokus pada pengisian jabatan yang memerlukan kinerja mandiri, yang dianggap lebih cocok untuk pekerja berpengalaman. Akibatnya, lulusan baru terdampak lebih besar karena kurangnya pengalaman dalam memenuhi standar tuntutan industri yang berkembang.

Bahkan, kenaikan tingkat pengangguran lulusan muda tidak sepenuhnya disebabkan oleh AI. Menurut data New York Fed, tren ini sudah terjadi sejak 2020, ketika kerja jarak jauh mulai diterapkan secara luas. Hal ini mengisyaratkan bahwa perubahan pola kerja adalah faktor utama, sementara AI hanya berperan sebagai penambah kompleksitas dalam persaingan karier.

Important News juga menyoroti bahwa eksposur terhadap kerja jarak jauh menjadi indikator yang lebih kuat dalam menjelaskan penurunan perekrutan tahap awal. Penelitian Peter John Lambert dan Yannick Schindler dari London School of Economics menegaskan bahwa model kerja dari rumah (WFH) meningkatkan persaingan untuk posisi yang bisa dijalani secara virtual, sehingga mendorong perusahaan untuk memprioritaskan kandidat yang lebih matang.

Sementara AI tetap menjadi faktor penting, Important News menekankan bahwa dampaknya tidak sebesar yang diprediksi. Kecerdasan buatan justru membantu menciptakan inovasi dan bisnis baru, seperti platform digital yang menawarkan peluang kerja remote. Namun, secara keseluruhan, pergeseran tuntutan industri dan preferensi perusahaan terhadap keterampilan yang berbeda menjadi penghalang utama bagi Gen Z.

MORE FROM THIS CATEGORY