Solving Problems: Video on Waste-to-Energy Challenges
Dailynesia.com – Di tengah upaya global untuk beralih ke energi berkelanjutan, pengembangan pembangkit listrik sampah (PLTSa) atau waste-to-energy (WtE) menjadi salah satu solusi krusial dalam memecahkan masalah keterbatasan sumber daya energi dan peningkatan limbah plastik. Proyek ini dianggap sebagai bagian penting dari strategi energi baru dan terbarukan (EBT) yang tengah dijalankan di berbagai kota besar seperti Jakarta. Namun, meski potensinya besar, pengembangan PLTSa masih menghadapi tantangan yang cukup signifikan, terutama dalam hal regulasi yang dinilai rumit dan kurang mendukung penuh.
Regulasi Kompleks Menjadi Pendorong Utama
Dalam wawancara terbaru, Ray Anthony Gerungan, Direktur Utama PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI), mengungkapkan bahwa proses regulasi untuk proyek PLTSa masih menjadi hambatan utama. “Solving Problems dalam pengembangan EBT memerlukan kerja sama yang lebih kuat antara pemerintah, investor, dan pemangku kepentingan lainnya,” ujarnya. Menurutnya, kebijakan yang tidak konsisten dan prosedur izin yang memakan waktu terlalu lama mengurangi daya tarik investasi bagi sektor ini.
“Dari pengalaman teknologi Tiongkok, salah satu proyek energi hijau yang sedang dikembangkan adalah waste-to-energy dengan target rampung dalam tiga tahun,” kata Ray Anthony Gerungan.
Ray menjelaskan bahwa regulasi yang rumit sering kali membuat proyek PLTSa sulit berjalan optimal. Contohnya, persyaratan teknis dan lingkungan yang berubah-ubah membuat para pengusaha enggan mengambil risiko. Selain itu, kurangnya kejelasan dalam tarif energi yang dihasilkan juga menjadi masalah. “Solving Problems dalam regulasi akan mempercepat proses pemanfaatan limbah menjadi energi,” tambahnya, menyoroti pentingnya kebijakan yang stabil dan transparan.
Potensi EBT dan Kebutuhan Kolaborasi
Meski masih menghadapi kendala, sektor EBT seperti PLTSa dinilai memiliki peluang besar untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Dalam video yang disiarkan CNBC Indonesia, Ray Anthony Gerungan menekankan bahwa pengembangan PLTSa tidak hanya mampu menghasilkan listrik tetapi juga membantu mengurangi sampah yang menumpuk di lingkungan. “Solving Problems dalam manajemen sampah sekaligus memecahkan kebutuhan energi bisa menjadi langkah yang berdampak luas,” tuturnya.
Menurut Ray, keberhasilan proyek ini bergantung pada kejelasan regulasi yang dapat mempercepat proses pemanfaatan teknologi dan memastikan keberlanjutan. “Solving Problems dalam keselarasan kebijakan antar sektor adalah kunci untuk menarik investasi dan menggerakkan inovasi,” jelasnya. BIPI, sebagai perusahaan yang bergerak di bidang infrastruktur, berupaya memberikan solusi berbasis EBT melalui berbagai inisiatif, termasuk pengembangan PLTSa yang bisa menjadi model paling efektif.
Ray Anthony Gerungan juga menyoroti pentingnya peran pemerintah dalam menetapkan kebijakan yang mendukung pertumbuhan PLTSa. Dengan adanya regulasi yang memadai, proyek ini bisa menjadi penggerak utama dalam transformasi energi nasional. Selain itu, dukungan dari masyarakat dan komunitas lokal juga diperlukan untuk memastikan keberlanjutan proyek. “Solving Problems bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang komunikasi dan partisipasi aktif semua pihak,” pungkasnya.
Untuk informasi lebih lanjut, tonton wawancara Andi Shalini dengan Ray Anthony Gerungan, CEO BIPI, dalam Squawk Box, CNBC Indonesia (Kamis, 07 Mei 2026). Video ini akan mengupas secara mendalam tantangan dan peluang di sektor EBT, terutama dalam membangun pembangkit sampah yang berkelanjutan. Dengan peningkatan regulasi dan kolaborasi yang lebih baik, Solving Problems dalam energi hijau bisa menjadi realitas dalam waktu dekat.

