Media Asing Sorot Kasus Kejahatan di Jakarta, Rupiah Lemah Jadi Berkah

2 months ago  ·  3 min read
By David Williams - dailynesia.com
ilustrasi-perkantoran-jakarta_169

Visit Agenda: Jakarta Tetap Menarik Meski Kasus Kriminal Viral, Rupiah Lemah Jadi Berkah

Dailynesia.com – Kini menjadi fokus utama pengunjung asing yang mempertimbangkan kunjungan ke Jakarta, meski kota ini sempat dianggap sebagai “Gotham City” akibat meningkatnya kejahatan jalanan. Di tengah ketakutan akan pencurian dan perampokan, keberadaan rupiah yang melemah justru memberikan dampak positif, menarik lebih banyak wisatawan internasional untuk berbelanja di kota metropolitan ini.

Kejahatan Jalanan yang Menjadi Sorotan

Beberapa bulan terakhir, media asing seperti The Straits Times mengangkat isu kejahatan di Jakarta, terutama peristiwa pencurian oleh pengendara sepeda motor yang sering terjadi di area seperti Kebon Sirih dan Bundaran Hotel Indonesia. Kecelakaan tersebut mengincar baik warga lokal maupun turis asing, menyebabkan kekhawatiran terhadap keamanan kota. Namun, meski situasi ini menjadi topik hangat, tidak mengurangi minat turis yang tetap mengalami peningkatan.

“Meski ada kejadian pencurian, kami tetap merasa aman di Jakarta karena kewaspadaan kita selalu siap. Selain itu, nilai tukar rupiah yang rendah membuat pengeluaran lebih hemat,” kata Noraini Rahmat, 52 tahun, turis asal Polandia yang mengunjungi Jakarta pada 8-12 Mei 2026.

Peristiwa serupa juga dialami oleh turis Jerman di Pos Bloc, Pasar Baru, di mana beberapa barang pribadi diambil oleh pelaku kejahatan. Meski mengakui perlu kewaspadaan, mereka mengatakan bahwa pengalaman berwisata di Jakarta tetap lebih baik dibandingkan kota-kota besar lainnya. “Kita tidak perlu takut berlebihan, seperti di kota-kota besar di Eropa,” ujar salah satu turis Jerman.

Penegakan Hukum dan Strategi Pengamanan

Menanggapi meningkatnya laporan kejahatan, Polda Metro Jaya menyatakan telah menyelesaikan 171 kasus kejahatan jalanan sepanjang lima bulan pertama 2026 dan menangkap 103 tersangka. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyarankan penerapan sistem pemantauan terpadu, yang melibatkan kamera pemerintah, kepolisian, gedung swasta, dan institusi lainnya, untuk memberikan rasa aman kepada pengunjung.

“Dengan sistem ini, kita bisa mengantisipasi tindakan kejahatan sebelum terjadi, terutama di area-area yang sering dikunjungi turis,” jelas Pramono Anung, Senin (1/6/2026), seperti yang dilansir dari The Straits Times.

Strategi tersebut diharapkan bisa menjadi solusi untuk meningkatkan kualitas pengalaman wisatawan. Selain itu, para pihak terkait juga sedang mengevaluasi penggunaan teknologi pengamanan di pusat perbelanjaan dan tempat wisata, agar meminimalkan risiko kejahatan terhadap turis. Pihak pemerintah juga menawarkan berbagai insentif bagi wisatawan asing yang berpartisipasi dalam Visit Agenda.

Pengaruh Rupiah Lemah pada Industri Wisata

Rupiah yang melemah menjadi salah satu faktor yang memicu minat wisatawan asing mengunjungi Jakarta. Dengan kurs rupiah yang lebih rendah, pengeluaran untuk belanja di kota ini terasa lebih ringan. Hal ini terutama diperhitungkan oleh turis dari negara-negara dengan mata uang yang lebih kuat, seperti Singapura, Jepang, dan Korea Selatan.

“Rupiah yang melemah membuat Jakarta menjadi destinasi yang menarik untuk belanja dan makan malam. Kami bisa membeli lebih banyak barang dengan dolar atau yen kami,” tutur Rizal Tan, turis asal Singapura yang melakukan Visit Agenda pada 22-25 Mei 2026.

Dari sisi ekonomi, keadaan ini memberikan dampak positif bagi industri retail dan kuliner Jakarta. Banyak pelaku usaha lokal menyambut baik kebijakan moneter yang memungkinkan peningkatan volume transaksi. Pemerintah DKI juga berupaya memanfaatkan keadaan ini untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan asing sebagai bagian dari strategi pengembangan pariwisata.

Analisis dari lembaga ekonomi menunjukkan bahwa nilai tukar rupiah yang rendah meningkatkan daya beli wisatawan asing, terutama di sektor belanja. Hal ini memperkuat posisi Jakarta sebagai pusat perbelanjaan dan kuliner di Asia Tenggara. Meski ada risiko kejahatan, nilai tukar mata uang lokal yang lemah justru memberikan keuntungan yang lebih signifikan.

Penyesuaian Kebijakan untuk Menyambut Visit Agenda

Pemerintah DKI Jakarta tengah melakukan penyesuaian kebijakan untuk menyambut kenaikan jumlah pengunjung asing sebagai bagian dari Visit Agenda. Di samping perbaikan sistem keamanan, pihak berwenang juga memberikan pelatihan kepada petugas kepolisian untuk menangani situasi darurat yang mungkin terjadi saat turis berwisata.

“Kami berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pengalaman wisatawan. Dengan menggabungkan keamanan dan kemudahan akses, Jakarta bisa menjadi destinasi yang layak untuk kunjungan internasional,” tambah perwakilan DKI Jakarta, dilansir dari situs berita lokal.

Sejumlah wisatawan juga menyampaikan bahwa Jakarta tetap menjadi pilihan utama untuk Visit Agenda karena keberagaman budaya, keindahan alam, dan ketersediaan berbagai fasilitas. Dengan mengatasi masalah kejahatan dan memanfaatkan rupiah yang melemah, kota ini diharapkan bisa meningkatkan daya tariknya di tingkat global.

MORE FROM THIS CATEGORY