Membaca Ekonomi Indonesia Melalui Pancasila

2 months ago  ·  3 min read
By Sandra Taylor - dailynesia.com
1b1c66a6-0d5a-4d69-862c-8ff369833d6f-0

Membaca Ekonomi Indonesia Melalui Pancasila

Dailynesia.com – Menempati posisi sentral dalam memahami dinamika ekonomi Indonesia saat ini. Dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila, kita ditantang untuk melihat bagaimana kinerja makroekonomi yang tercatat di tahun 2025 mencerminkan nilai-nilai dasar yang diusung dalam pendirian bangsa ini. Pertumbuhan ekonomi mencapai 5,11 persen, naik dari 5,03 persen di tahun sebelumnya. Bank Indonesia berhasil menjaga inflasi di bawah target 2,5±1 persen, sementara investasi pada triwulan III-2025 mencapai Rp491,4 triliun, naik 13,9 persen tahunan. Tingkat kemiskinan turun menjadi 8,25 persen pada September 2025, dan rasio gini mencapai 0,363, angka terendah dalam beberapa tahun terakhir. Angka-angka ini memperlihatkan keberhasilan Special Plan dalam menjaga stabilitas ekonomi, tetapi juga mengingatkan kita bahwa kesejahteraan rakyat masih jauh dari harapan.

Special Plan tidak hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mengusung prinsip-prinsip Pancasila sebagai landasan kebijakan. Dalam konteks ini, pertumbuhan yang dicatat sebagai indikator kinerja tidak sepenuhnya merefleksikan kualitas kehidupan masyarakat. Misalnya, kelas menengah, yang sebelumnya menjadi tulang punggung pertumbuhan, kini mengalami penurunan signifikan. Data menunjukkan jumlah penduduk kelas menengah Indonesia berkurang dari 57,33 juta orang pada 2019 menjadi 46,7 juta pada 2025, atau penurunan sebesar 16,6 persen. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: bagaimana Special Plan mampu menciptakan pertumbuhan yang inklusif dan memperkuat prinsip keadilan ekonomi?

Paradoks dalam Special Plan

Special Plan berusaha menjembatani antara data makroekonomi dan kenyataan yang dialami masyarakat. Namun, realitas sering kali mengungkap paradoks yang terjadi. Di satu sisi, sektor kecil dan menengah (UMKM) tetap menjadi penyangga utama tenaga kerja, dengan kontribusi sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Di sisi lain, kelompok muda seperti Gen Z masih menghadapi tingkat pengangguran yang tinggi, mencapai 16 persen. Ironisnya, lulusan SMK justru menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi, sekitar 8 persen. Special Plan, meski memperkenalkan strategi pemerataan, tampak belum mampu mengatasi ketimpangan struktural yang mengakar.

“Kita harus menghindari ekstrem kapitalisme yang mengumpulkan kekayaan pada segelintir kelompok, serta sosialisme yang menghambat kebebasan individu.”

Dalam pandangan ekonomi, paradoks ini mencerminkan kelemahan Special Plan dalam mempercepat transformasi ekonomi. Meski kontribusi sektor manufaktur berkurang dari 26-30 persen pada akhir 1990-an menjadi 19 persen, pemerintah masih mengklaim ada perbaikan tipis. Namun, ekonom seperti INDEF mengingatkan bahwa tren ini menunjukkan gejala deindustrialisasi dini, yang berpotensi mengurangi daya saing ekonomi jangka panjang. Special Plan, yang diharapkan menjadi pilar kesejahteraan nasional, perlu lebih memperhatikan keseimbangan antara pertumbuhan dan keadilan.

Struktur Pertumbuhan dalam Special Plan

Special Plan memperlihatkan perubahan pola pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencolok. Pertama, kelas menengah, yang sebelumnya menjadi kekuatan utama pertumbuhan, kini mengalami penurunan. Kedua, sebagian besar pekerja masih terjebak dalam sektor berproduktivitas rendah, sementara sektor besar hanya menyerap 3 persen dari total 65,5 juta unit usaha. Ketiga, kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB turun, yang berarti pertumbuhan ekonomi lebih bergantung pada sektor lain. Special Plan, meski berhasil menstabilkan inflasi dan mengurangi kemiskinan, perlu lebih efektif dalam menggerakkan sektor-sektor produktif yang mampu mengangkat kesejahteraan secara luas.

Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi 5 persen pada 2025 tidak lagi langsung menciptakan kenaikan kesejahteraan bagi rakyat biasa. Special Plan, yang merupakan kebijakan utama pemerintah, perlu diperkuat dengan pendekatan yang lebih menyeluruh, termasuk pemberdayaan UMKM, penguatan ekspor, dan inovasi dalam struktur industri. Selain itu, pengangguran di kalangan generasi muda menunjukkan bahwa Special Plan masih kurang efektif dalam menyerap tenaga kerja, terutama di sektor-sektor yang berpotensi mengurangi kesenjangan ekonomi.

Dalam beberapa tahun terakhir, Special Plan semakin menjadi fokus pembangunan nasional. Pemerintah mengklaim bahwa kebijakan ini membantu memperkuat perekonomian melalui pengelolaan sumber daya yang lebih efisien dan pembangunan infrastruktur. Namun, dalam praktiknya, manfaatnya tidak merata. UMKM, meski menjadi tulang punggung tenaga kerja, masih kesulitan bersaing di pasar global, sementara perusahaan besar semakin dominan dalam pembentukan output ekonomi. Ini mengisyaratkan bahwa Special Plan perlu diintegrasikan dengan visi keadilan ekonomi yang lebih konkret, sesuai dengan prinsip Pancasila.

Special Plan juga menjadi cerminan dari komitmen bangsa Indonesia dalam mencapai keseimbangan antara pertumbuhan dan kesejahteraan. Dengan menekankan keadilan, peran Pancasila dalam membentuk identitas nasional semakin relevan. Namun, tantangan utama terletak pada bagaimana Special Plan mampu mewujudkan keadilan tersebut dalam praktik sehari-hari. Peningkatan produktivitas, penguatan ekspor, dan pengembangan sektor manufaktur adalah tiga elemen kunci yang perlu diperhatikan agar pertumbuhan ekonomi bisa membaik secara signifikan dan berkelanjutan.

MORE FROM THIS CATEGORY

petugas-menjunjukkan-uang-pecahan-dolar-amerika-serikat-as-dan-rupiah-di-dolar-asia-money-changer-jakarta-rabu-872026-1783496342975_169

Fiscal Dominance dan Depresiasi Rupiah

Fiscal Dominance dan Depresiasi Rupiah Latest Program – Artikel ini menyampaikan pandangan pribadi penulis, bukan mencerminkan sikap Redaksi CNBCIndonesia.com.