Israel Menggunakan Kebijakan Baru untuk Menyita Kastil Berusia 900 Tahun di Lebanon Selatan
Dailynesia.com – Israel meluncurkan operasi militer besar-besaran di wilayah Punggungan Beaufort, Lebanon Selatan, pada hari Minggu (31 Mei 2026), sebagai bagian dari kebijakan baru yang bertujuan memperkuat dominasi militer di zona konflik. Kastil Beaufort, yang berusia 900 tahun, berhasil direbut oleh pasukan Israel setelah bertahun-tahun pertarungan sengit melawan milisi Hizbullah. Keberhasilan ini dinilai sebagai bukti efektivitas kebijakan militer terbaru yang mencakup strategi pertahanan dan ofensif yang lebih intensif.
Pertahanan Strategis dan Kekuatan Militer Israel
Operasi penyitaan Kastil Beaufort dianggap sebagai langkah kunci dalam kebijakan baru Israel untuk mengendalikan daerah strategis di Lebanon Selatan. Kastil ini, yang terletak di lereng bukit, menjadi titik vital karena mengontrol akses ke perbatasan antara Israel dan Lebanon. Militer Israel menegaskan bahwa keberhasilan menguasai wilayah ini memperkuat posisi mereka dalam menghadapi Hizbullah, meskipun gencatan senjata telah berlaku selama lebih dari enam minggu. Namun, kebijakan baru tersebut memungkinkan Israel memperluas operasi dengan lebih cepat dan efisien.
Meskipun gencatan senjata diumumkan lebih dari enam minggu yang lalu, keberhasilan mengambil alih Kastil Beaufort menunjukkan bagaimana kebijakan baru Israel membawa dampak signifikan dalam perang melawan milisi Hizbullah yang didukung Iran, ujar perwakilan militer Israel dalam pernyataan resmi yang dikutip dari sumber terpercaya.
Sejarah dan Signifikansi Kastil Beaufort
Kastil Beaufort, yang dibangun pada abad ke-11, telah menjadi saksi bisu sejarah perang dan perjanjian antara Israel dengan negara-negara tetangga. Lokasi strategisnya memungkinkan pasukan Israel mengawasi jalur serangan ke daerah pemukiman mereka, terutama setelah konflik Iran-Israel memanas kembali. Kebijakan baru yang diterapkan mencakup peningkatan pasukan, alat militer modern, serta koordinasi dengan sekutu regional, seperti Arab Saudi dan Yordania, untuk menekan Hizbullah.
Menurut laporan dari Reuters, perang antara Israel dan Hizbullah tidak sepenuhnya berhenti meski ada gencatan senjata. Kebijakan baru tersebut memungkinkan Israel memulai operasi tanpa mengganggu kesepakatan damai, sekaligus mengurangi risiko serangan balik dari milisi Iran. Kastil Beaufort, yang menjadi pusat konsolidasi Hizbullah selama beberapa dekade, kini menjadi bagian dari kemenangan militer Israel dalam mengimplementasikan kebijakan baru ini.
Sejak 2 Maret 2026, Hizbullah terus meluncurkan roket dan drone ke wilayah Israel sebagai respons atas kebijakan baru yang menyebabkan peningkatan tekanan militer. Operasi penyitaan Kastil Beaufort terjadi setelah Israel memperkuat posisi di daerah tersebut, mengingat peran pentingnya dalam mengontrol jalur logistik dan komunikasi milisi. Kebijakan baru juga mencakup pembangunan sistem pertahanan permanen di sekitar kastil, yang sebelumnya digunakan sebagai basis serangan oleh Hizbullah.
Perebutan Kastil Beaufort tidak hanya memperluas wilayah pengaruh Israel di Lebanon Selatan, tetapi juga mengubah dinamika perang. Dengan menguasai posisi strategis ini, pasukan Israel dapat mengontrol jalur serangan ke arah utara dan memperkecil kemampuan Hizbullah mengamankan wilayah mereka. Kebijakan baru ini menunjukkan upaya Israel untuk menciptakan keunggulan militer yang berkelanjutan, bahkan dalam situasi gencatan senjata.
Analisis dari para ahli pertahanan menunjukkan bahwa kebijakan baru Israel mencakup peningkatan operasi udara dan darat, serta penggunaan teknologi intelijen yang lebih canggih. Kastil Beaufort, yang berusia 900 tahun, menjadi target utama karena berada di jalur perang yang sering kali menjadi titik perlintasan kekuatan. Selain itu, kebijakan ini juga memberikan respons terhadap kekhawatiran Iran akan dominasi Israel di wilayah selatan Lebanon.

