Wilayah RI ini Genting-Bisa Tenggelam – Menteri Sampai Beri Peringatan

2 months ago  ·  3 min read
By Daniel Rodriguez - dailynesia.com
masjid-wal-adhuna-yang-tenggelam-belasan-tahun-lalu-akibat-banjir-rob_169

Wilayah RI ini Genting-Bisa Tenggelam, Menteri Sampai Beri Peringatan

Dailynesia.com – Jakarta, Wilayah Pantai Utara Jawa (Pantura) kini menghadapi krisis lingkungan yang semakin mengkhawatirkan. Sebagai bagian dari kawasan pesisir yang menjadi pusat ekonomi nasional, Pantura tengah berada dalam kondisi kritis akibat dua ancaman utama: penurunan muka tanah dan kenaikan permukaan air laut. Kedua faktor ini memperparah risiko banjir rob yang bisa mengancam kehidupan masyarakat dan infrastruktur penting.

Ancaman yang Mengancam Wilayah Pantura

Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), beberapa waktu lalu memperingatkan bahwa Pantura mengalami penurunan muka tanah hingga 15-20 cm setiap tahun. Fenomena ini paling parah di Jakarta dan Semarang, dua kota yang merupakan pusat perekonomian utama Indonesia. AHY menekankan bahwa penurunan tanah ini merupakan “twin pressure” yang bersamaan dengan kenaikan permukaan air laut akibat pemanasan global, sehingga menimbulkan bahaya ganda.

Kenaikan permukaan air laut di Pantura mencapai 0,8-1,2 cm per tahun, berdampak langsung pada risiko banjir rob yang semakin tinggi. Kondisi ini mengganggu kehidupan warga pesisir, menyebabkan kerusakan properti, dan mengancam ketersediaan air bersih. Erosi pantai, yang mengintai sepanjang garis pantai, juga memperburuk situasi, dengan 65,8% dari total garis pantai di wilayah tersebut mengalami perubahan signifikan.

Upaya untuk Melindungi Wilayah Pantura

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah berupaya mengatasi tantangan ini dengan mengembangkan teknologi modern yang bisa mengendalikan erosi dan mengurangi dampak banjir rob. Dalam sebuah pernyataan, Tubagus Solihuddin, peneliti BRIN, menjelaskan bahwa erosi di Pantura dipicu oleh tekanan pembangunan dan eksploitasi alam yang berlebihan. “Kita harus mengimbangi antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan,” katanya.

“Erosi terjadi di 65,8% garis pantai Pantura dari Serang hingga Situbondo,” jelas Tubagus Solihuddin. “Kondisi ini memperparah risiko keterdampakan bencana alam dan mengurangi kapasitas wilayah untuk menghadapi perubahan iklim.”

Dalam waktu yang sama, Kepala BRIN, Arif Satria, mengatakan pihaknya telah menyusun lima teknologi perlindungan pesisir. Teknologi ini mencakup tanggul modular multifungsi, breakwater saling mengunci otomatis, dan platform arus laut yang mampu menghasilkan energi. “Teknologi tersebut dirancang untuk stabil, ekonomis, dan mudah diproduksi, sehingga dapat diterapkan secara luas di wilayah rawan,” ujarnya.

BRIN juga mengembangkan pendekatan hybrid eco-engineering, yang menggabungkan infrastruktur teknologi dengan rehabilitasi ekosistem alami, seperti mangrove. Pendekatan ini bertujuan untuk mengendalikan gelombang laut sekaligus memulihkan lingkungan pesisir yang rusak. “Rehabilitasi mangrove bisa menjadi pelindung alami yang efektif, sekaligus membantu menyerap karbon dan mengatur aliran air,” tambah Arif Satria.

Presiden Prabowo Subianto telah meminta percepatan penyusunan master plan perlindungan Pantura sebagai langkah strategis. Didit Herdiawan Ashaf, Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ), menjelaskan bahwa master plan ini akan mempercepat upaya mitigasi dan adaptasi terhadap ancaman banjir rob. “Dengan master plan, kita bisa menjamin keberlanjutan wilayah Pantura sebagai pusat ekonomi dan pariwisata,” kata Didit.

Kawasan Pantura mencakup sekitar 55 juta penduduk, yang merupakan bagian dari populasi nasional. PDB kawasan ini mencapai 27,53% dari total PDB Indonesia pada 2025, setara US$368,37 miliar. Dengan ancaman krisis lingkungan yang mengintai, keberhasilan pengelolaan Pantura menjadi krusial bagi stabilitas perekonomian nasional. “Jika tidak segera diatasi, risiko ekonomi bisa meningkat drastis,” peringat AHY.

MORE FROM THIS CATEGORY