China Mengusir Kapal Belanda di Laut China Selatan
Dailynesia.com – Beijing memutuskan untuk mengusir kapal fregat Belanda, HNLMS De Ruyter, dari wilayah Laut China Selatan setelah kapal tersebut memasuki perairan dekat Kepulauan Paracel yang menjadi sengketa. Tindakan ini dilakukan sebagai respons terhadap klaim territorial ekspansif Tiongkok yang terus ditegaskan di kawasan tersebut, seperti dilaporkan oleh Newsweek pada Kamis (28/5/2026).
Penggunaan Teknologi Perang Elektronik
Kapal Belanda dituduh melakukan pelanggaran teritorial dan laut serta udara Tiongkok. Menurut Zhai Shichen, juru bicara militer Tiongkok, operasi kapal itu memicu keberatan keras dari pemerintah pusat. “Tindakan pihak Belanda… sangat merusak perdamaian dan stabilitas di Laut China Selatan serta berpotensi menyebabkan kesalahpahaman,” tulis Zhai dalam pernyataan resmi.
“Tindakan pihak Belanda… sangat merusak perdamaian dan stabilitas di Laut China Selatan dan dapat dengan mudah menyebabkan kesalahpahaman serta salah kalkulasi,”
Kapal HNLMS De Ruyter, yang berbobot 6.000 ton, dilengkapi dengan helikopter NH90 untuk operasi anti-kapal selam dan pencarian serta penyelamatan maritim. Proses pengusiran ini mencerminkan kekhawatiran Tiongkok terhadap keberadaan kapal Belanda di perairannya.
Klarifikasi dari Belanda
Dalam respons terhadap tudingan Beijing, otoritas Angkatan Laut Belanda mengklaim bahwa kapal tersebut tidak melanggar zona teritorial Tiongkok. Marinka Hiraldo Vos-van Kooten, juru bicara resmi, menyatakan bahwa pergerakan kapal dilakukan sesuai prinsip hukum internasional. “HNLMS De Ruyter terus berlayar di perairan yang memungkinkan pergerakan bebas. Kami tidak merinci lebih lanjut karena alasan operasional,” jelas Vos-van Kooten dalam email kepada Newsweek.
Konteks Hukum Internasional
Dalam tahun 2016, pengadilan arbitrase di Den Haag memutuskan bahwa klaim Tiongkok terhadap Laut China Selatan melanggar Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS). Meski Beijing menolak keputusan ini, negara-negara Barat seperti Belanda dan Amerika Serikat mendukung hasil hukum tersebut. Kapal Belanda memasuki wilayah kontroversial ini sebagai bagian dari misi keamanan regional lima bulan yang dimulai pada April.
Histori dan Strategi Militer Tiongkok
Kepulauan Paracel, yang disengketakan, kini dikendalikan oleh Tiongkok setelah bentrok dengan Vietnam pada 1970-an. Sejak itu, Beijing terus mengembangkan infrastruktur militer di pulau-pulau buatan di wilayah tersebut. Kedutaan Besar Belanda menyatakan bahwa pengerahan kapal menjadi bukti komitmen terhadap keamanan maritim dan hubungan dengan mitra regional. Saat kapal tiba di Manila, pernyataan resmi menyebutkan bahwa pergerakan ini menegaskan dukungan terhadap navigasi bebas dan stabilitas kawasan.

