Belajar dari China, Pengusaha Bersumpah Tak Bakal PHK Gara-Gara AI

2 months ago  ·  4 min read
By David Williams - dailynesia.com
25f29622-25a2-4775-867e-0f7702676f9f-0

Komitmen Perusahaan Besar di Tiongkok: Tidak Akan PHK Karena AI

Dailynesia.com – Dunia semakin giat menerapkan teknologi kecerdasan buatan (AI) sebagai bagian dari perubahan era otomatisasi. Dalam perang di Timur Tengah dan Ukraina, militer sudah memanfaatkan senjata tanpa awak sebagai alat utama. Di sisi lain, pengembangan taksi otomatis tanpa pengemudi (robotaxi) pun terus berkembang, khususnya di Amerika Serikat dan Tiongkok. AI kini hadir dalam berbagai aplikasi sehari-hari, memengaruhi kehidupan masyarakat secara mendalam. Meskipun otomatisasi memberikan keuntungan dalam efisiensi dan produktivitas, efeknya terhadap pekerja tidak bisa diabaikan. Banyak posisi pekerjaan diprediksi akan lenyap di masa depan. Bahkan saat ini, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) sudah mulai menyebar ke berbagai belahan dunia. Perusahaan mulai memperlambat rekrutmen baru, karena sebagian peran bisa dijalankan oleh alat AI. Meski begitu, tidak semua perusahaan mengambil langkah serupa. Salah satu contoh yang mencolok adalah JD.com, raksasa e-commerce Tiongkok yang menegaskan komitmen untuk tidak melakukan PHK massal akibat adopsi teknologi otomatis.

Pengusaha Tiongkok: Janji untuk Melindungi Karyawan

Komentar Liu Qiangdong, pendiri JD.com, menjadi sorotan setelah ia menegaskan bahwa perusahaan tidak akan menggantikan pekerja lini depan dengan mesin. Hal ini dilakukan sebagai respons terhadap kekhawatiran besar para pekerja mengenai masa depan pekerjaan mereka di tengah penerapan AI dan robotika. Dalam pidato internal yang beredar di media sosial, Liu menyatakan, “

Kami berjanji akan melakukan segala upaya untuk melindungi pekerjaan bagi ratusan ribu staf, termasuk pekerja kerah biru. JD.com tidak akan memecat satu pun pekerja lini depan yang digantikan oleh mesin.

” Kata-kata ini memberikan harapan bagi sekitar 900.000 karyawan JD.com yang mungkin terancam. Perusahaan tersebut juga mengakui bahwa mesin AI mengancam kesejahteraan pekerja, tetapi menegaskan akan berupaya meminimalkan dampak negatifnya.

JD.com adalah salah satu perusahaan besar di Tiongkok yang menawarkan berbagai posisi, mulai dari kurir hingga pelatih AI dan teknisi perawatan robot. Dalam eksplorasi teknologi tanpa awak, mereka sedang menguji berbagai inovasi, termasuk gudang otomatis, pengiriman drone, kendaraan otonom, stasiun pengiriman tanpa pengemudi, dan toko serba ada. Meski teknologi ini bisa mengurangi kebutuhan tenaga manusia, JD.com berusaha menjaga keseimbangan antara efisiensi dan keselamatan karyawan. Liu juga menyebutkan bahwa perusahaan telah mendirikan lebih dari 80 basis pelatihan di seluruh negeri, yang diharapkan bisa melatih kembali para pekerja dengan keterampilan seperti pemeliharaan sistem otomatis dan layanan teknis robot.

Dilema dalam Adopsi AI di Tiongkok

Tiongkok menghadapi dilema besar dalam penerapan AI. Di satu sisi, pemerintah mendorong pengembangan teknologi baru untuk menjaga keunggulan dalam bidang ekonomi digital. Di sisi lain, adopsi AI bisa menyebabkan ketidakstabilan pasar tenaga kerja, terutama karena kenaikan angka pengangguran di kalangan kaum muda. Perusahaan-perusahaan Tiongkok berlomba-lomba menerapkan sistem otomatisasi, tetapi hal ini juga menimbulkan tantangan bagi para perencana Partai Komunis China. Mereka harus memastikan bahwa transisi ke era AI tidak merusak stabilitas ekonomi secara keseluruhan.

Di tengah perlambatan ekonomi dan tekanan tinggi terhadap pengangguran, pemerintah Tiongkok memberikan arahan bahwa perusahaan tidak bisa langsung memutuskan hubungan kerja atau memotong gaji hanya untuk mengganti pekerja dengan mesin. Keputusan ini diambil setelah pengadilan Tiongkok memutuskan bahwa penggantian pekerja harus dilakukan dengan prinsip keadilan dan keterlibatan karyawan. Dalam waktu sekitar satu tahun terakhir, pemerintah juga menegaskan bahwa perusahaan wajib melakukan pelatihan ulang atau penugasan kembali sebelum pemutusan kerja dapat dilakukan. Tujuan utama kebijakan ini adalah mencegah penggantian pekerjaan oleh AI yang dianggap jarang dilakukan oleh negara lain.

Pengaruh Ekonomi Global terhadap Kebijakan Tiongkok

Adopsi AI di Tiongkok tidak hanya dipengaruhi oleh tekanan internal, tetapi juga oleh persaingan global. Di AS dan negara-negara lain, banyak perusahaan memang memutuskan hubungan kerja sebagai langkah untuk mengurangi biaya operasional. Contohnya, beberapa perusahaan teknologi besar di Barat menutup posisi kerja untuk menggantinya dengan sistem otomatis. Namun, Tiongkok berusaha mengambil jalur yang berbeda. Dengan memperkuat komitmen terhadap pelatihan karyawan dan perekrutan pekerja baru, perusahaan seperti JD.com berupaya memastikan transisi ke otomatisasi tidak membawa krisis sosial.

Keputusan JD.com menegaskan peran penting perusahaan dalam menciptakan kebijakan yang mengedepankan kesejahteraan pekerja. Hal ini sejalan dengan visi pemerintah Tiongkok yang ingin menjaga keseimbangan antara inovasi teknologi dan keberlanjutan ekonomi. Liu Qiangdong menekankan bahwa perusahaan akan berusaha mengadopsi AI secara bertahap, bukan langsung menggantikan manusia. Meski AI bisa mengoptimalkan proses kerja, perusahaan tetap menjaga keselamatan jumlah karyawan. Dengan 80 basis pelatihan yang dibangun, JD.com berharap bisa memperluas kemampuan pekerja untuk beradaptasi dengan perubahan teknologi.

Kebijakan Pemerintah sebagai Pendorong Stabilitas

Intervensi pemerintah Tiongkok menjadi faktor penting dalam mengatur dampak AI terhadap pasar kerja. Setelah pengadilan memutuskan bahwa perusahaan tidak boleh langsung mengganti karyawan dengan mesin, pihak berwenang menegaskan bahwa proses penggantian harus melalui pelatihan ulang. Kebijakan ini tidak hanya berlaku untuk JD.com, tetapi juga untuk perusahaan-perusahaan lain yang mengadopsi teknologi otomatis.

Langkah pemerintah tersebut memperlihatkan kesadaran akan risiko pengangguran akibat otomatisasi. Di tengah persaingan global, Tiongkok ingin tetap menjadi pelaku utama dalam inovasi AI, tetapi tanpa mengorbankan kesejahteraan pekerja. Liu Qiangdong menyoroti bahwa JD.com menjadi contoh bagus dalam menggabungkan teknologi dan kebijakan pekerjaan. Dengan menempatkan pekerja di tengah proses transisi, perusahaan tidak hanya menjamin kelangsungan usaha, tetapi juga mendukung stabilitas sosial. Kebijakan ini memberikan peluang bagi pekerja untuk meningkatkan keterampilan, sehingga tetap relevan dalam era AI.

Dunia kini berlomba-lomba mempercepat penerapan AI, tetapi Tiongkok berusaha menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan perlindungan tenaga kerja. JD.com, sebagai salah satu raksasa e-commerce terbesar, menunjukkan komitmen untuk tidak memutuskan hubungan kerja hanya karena otomatisasi. Ini menjadi pengingat bahwa meski AI bisa meningkatkan efisiensi, perusahaan tetap harus bertanggung jawab terhadap pekerja yang terdampak

MORE FROM THIS CATEGORY