Terungkap! Israel Sudah Kuasai 60% Wilayah Gaza, Segera 70%
Dailynesia.com –
Latest Program: Strategi Militer Israel dalam Penguasaan Wilayah Gaza
Latest Program – Di Jakarta, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara resmi mengumumkan bahwa operasi militer yang berlangsung di Jalur Gaza telah mencapai titik kritis. Menurut laporan Reuters, pada Jumat (29/5/2026), Netanyahu menyatakan bahwa pasukan negaranya kini menguasai 60% wilayah tersebut, dengan rencana untuk meningkatkan kekuasaan hingga mencapai 70% dalam beberapa minggu mendatang. Perkembangan ini terjadi meskipun ada upaya internasional untuk menegakkan gencatan senjata di bawah bimbingan Amerika Serikat (AS). Dalam pidatonya di sebuah permukiman Tepi Barat yang diduduki, ia menekankan kebutuhan untuk melanjutkan operasi bertahap guna memperkuat kendali atas wilayah Gaza. “Kami telah mencapai 50%, dan kini tinggal 10% lagi untuk menyelesaikan perluasan zona operasional,” tambah Netanyahu, yang menegaskan bahwa strategi ini merupakan bagian dari Latest Program yang dijalankan oleh pemerintah Israel.
Evolusi Pengendalian Wilayah Gaza
Kebijakan penguasaan wilayah ini dianggap sebagai bagian dari rencana jangka panjang Israel untuk mempercepat penyelesaian konflik. Sebelumnya, laporan menyebutkan bahwa sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, Israel telah menguasai sekitar 64% wilayah Jalur Gaza. Meski kesepakatan gencatan senjata Oktober lalu menyepakati pembatalan penjajahan hingga Garis Kuning, Israel secara mandiri menggeser markas beton penanda batas tersebut ke wilayah yang sebelumnya dikuasai Hamas. Peta militer yang diterbitkan Maret lalu juga menunjukkan perluasan zona terlarang, membatasi sebagian besar area Gaza dari akses warga lokal. Penjajahan ini menurut para ahli memperlihatkan Latest Program yang bertujuan untuk mengurangi jumlah penduduk Palestina di wilayah tersebut.
Menurut laporan dari lembaga pemantau perang, rencana pengendalian wilayah Israel melibatkan koordinasi antara unit militer dan intelijen. Operasi bertahap ini diharapkan bisa mempercepat penegakan batas baru, yang akan memisahkan wilayah yang dikuasai oleh pasukan Israel dari wilayah yang masih berada di bawah pemerintahan Hamas. Fokus utama dari Latest Program adalah memastikan ketahanan militer Israel di area yang telah direbut, serta mempersiapkan langkah strategis untuk memperluas pengaruhnya di wilayah timur Gaza.
Perang Terhadap Hamas dan Target Penumpasan
Pada Selasa, Israel mengklaim telah membunuh kepala sayap militer Hamas, hanya 10 hari setelah menewaskan pendahulunya. Serangan tambahan Rabu malam menewaskan minimal 10 orang, termasuk lima anak, serta melukai 18 lainnya. Kejadian ini terjadi saat warga Palestina sedang merayakan Iduladha, menggambarkan intensitas serangan yang tidak berhenti. Netanyahu dalam konferensi menyatakan bahwa target berikutnya adalah menguasai 70% wilayah Gaza, dengan pendekatan yang lebih agresif untuk menekan Hamas. “Kami menekan mereka dari semua sisi. Kami akan menangani sisanya,” tambahnya, sebagai bagian dari Latest Program yang terus berkembang.
Kebijakan ini telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan penduduk Palestina. Seorang warga Gaza, Etidal Al-Za’im, menjelaskan bahwa kehidupan sehari-hari di wilayah tersebut sangat berisiko. “Kami keluar mendengar suara ledakan. Kami duduk selama satu jam sebelum bisa keluar melalui puing-puing dan menemukan jalan keluar dari tenda,” katanya. Abu Azam, warga lainnya, menambahkan bahwa keamanan di Gaza hampir tidak ada. “Seseorang di Gaza bisa tertembak di jalan, di rumah, di rumah sakit, bahkan dalam perjalanan ke pasar,” ungkapnya. Kondisi ini mengindikasikan bahwa Latest Program telah memperburuk krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.
Langkah Kebijakan dan Dampak Jangka Panjang
Dalam wawancara terpisah, Menteri Pertahanan Israel Katz menegaskan gagasan “migrasi sukarela” warga Gaza sebagai langkah untuk mengurangi populasi di wilayah itu. Ia menyatakan bahwa dengan menggeser penduduk ke wilayah lain, Israel dapat memastikan pengendalian lebih efektif. Namun, banyak ahli kemanusiaan menilai bahwa kebijakan ini akan memperparah tekanan terhadap masyarakat Gaza, yang telah mengalami kesulitan akses bantuan dan kebutuhan dasar. Para pejabat internasional juga mengkhawatirkan kemungkinan Latest Program akan menyebabkan pergeseran kembali ke situasi konflik yang lebih parah.
Kondisi di Wilayah Gaza
Kebijakan penguasaan wilayah yang diterapkan Israel sejak 7 Oktober 2023 telah mengakibatkan kerusakan besar di berbagai wilayah Gaza. Pemukiman yang dikuasai oleh pasukan Israel membatasi akses warga Palestina ke sumber air, pangan, dan energi. Berdasarkan laporan terbaru, lebih dari 50% area pertanian dan kota kecil di Gaza telah hancur akibat serangan berulang. Dengan Latest Program, Israel berharap bisa mempercepat penegakan batas baru yang akan memisahkan wilayah yang dikuasai dari wilayah yang berada di bawah kontrol Hamas. Namun, masyarakat internasional menilai bahwa langkah ini tidak hanya memperburuk kondisi kemanusiaan, tetapi juga meningkatkan risiko perang antara dua belah pihak.
Kesiapan untuk Menghadapi Tantangan Depan
Kini, Israel tengah mempersiapkan langkah strategis untuk menegakkan pengendalian wilayah di tingkat yang lebih tinggi. Dalam Latest Program, pasukan negara ini diharapkan bisa memastikan akses ke wilayah yang telah dikuasai, sementara memperkecil ruang gerak Hamas. Langkah ini juga berdampak pada perjanjian gencatan senjata yang sebelumnya ditetapkan, karena Israel terus memperluas zona terlarang secara mandiri. Pemerintah Israel menyatakan bahwa dengan menguasai 70% wilayah Gaza, mereka akan lebih siap menghadapi krisis politik dan militer di masa depan. Kebijakan ini diperkuat oleh penggunaan teknologi perang canggih, termasuk drone dan sistem rudal, yang meningkatkan efektivitas operasi bertahap.

