Main Agenda: Iran Ancam “Kiamat Total” jika AS Aneh-Aneh Lagi Saat Gencatan Senjata

2 months ago  ·  3 min read
By Linda Davis - dailynesia.com
1f539975-416f-4f5a-ba0b-d3e77ece094a-0

Main Agenda: Iran Ancam Kiamat Total Jika AS Terus Memperkeruh Perang Saat Gencatan Senjata

Dailynesia.com – Dalam beberapa hari terakhir, Iran semakin menegaskan sikap tegas terhadap Amerika Serikat (AS) jika negosiasi gencatan senjata dengan Washington terus memicu ketegangan. Pejabat Iran menyampaikan ancaman terhadap skenario terburuk, yakni konflik besar-besaran yang bisa menghancurkan infrastruktur kritis dan mengakibatkan kerusakan ekonomi global. Meski kesepakatan diplomatik sedang berlangsung, kekhawatiran terhadap tindakan represif AS terus mengemuka, terutama di Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital untuk pasokan minyak dan gas.

Kemampuan Militer Iran Diuji

Dalam upaya menunjukkan keseriusan, Iran memperlihatkan kemampuan operasional militer yang mereka miliki. Serangan militer AS ke wilayah Iran di Selat Hormuz baru-baru ini menjadi bukti bahwa tindakan represif tidak hanya terjadi di daratan, tetapi juga di laut. Para ahli menyatakan bahwa Iran sudah mempersiapkan strategi yang lebih luas, termasuk kemungkinan serangan terhadap pangkalan militer AS di Timur Tengah. Ini menegaskan bahwa Iran siap memperluas konflik jika upaya AS untuk memaksa mereka menyerah tidak berhasil.

Iran telah menunjukkan kemampuan menargetkan pangkalan militer AS dan infrastruktur negara-negara Arab Teluk, termasuk Israel. Sejumlah aksi mereka sebelumnya berhasil mengganggu jalur pelayaran internasional dan meningkatkan tekanan terhadap ekonomi global. Kini, ancaman “kiamat total” menjadi bagian dari Main Agenda Iran untuk menjaga kekuatan diplomatik mereka dalam perundingan dengan AS.

Strategi Blokade Maritim

Strategi blokade maritim menjadi pilihan utama Iran karena mereka percaya bahwa penutupan jalur perdagangan akan memberi tekanan besar terhadap AS dan sekutunya. Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama bagi 20% produksi minyak dunia, menjadi sasaran utama. Jika blokade tersebut terjadi, pasokan energi ke berbagai negara Eropa dan Asia akan terganggu, menyebabkan krisis harga bahan bakar yang berkelanjutan.

Blokade ini juga dimaksudkan untuk memperkuat posisi Iran dalam negosiasi dengan AS. Dengan mengancam menghentikan aliran minyak, Iran mengharapkan AS memberikan koncessi lebih besar. Namun, negara-negara seperti Jepang dan Tiongkok yang bergantung pada impor minyak dari wilayah tersebut menilai bahwa ancaman ini bisa memperbesar risiko ekonomi global. Dalam Main Agenda, Iran memperhitungkan dampak ini sebagai bagian dari strategi mereka.

Ketegangan di Bab al-Mandeb

Ketegangan di Bab al-Mandeb juga menjadi perhatian utama. Kelompok Houthi di Yaman, yang dianggap sebagai alat Iran untuk menguasai laut, telah menargetkan kapal-kapal internasional sejak 2024. Hal ini mengakibatkan penurunan signifikan volume perdagangan minyak dan gas alam cair. Dengan memperluas ancaman ke Bab al-Mandeb, Iran menginginkan efek domino yang bisa memperkuat Main Agenda mereka dalam mengubah dinamika kekuasaan di Timur Tengah.

Analisis dari badan energi AS (EIA) menunjukkan bahwa Blokade di Bab al-Mandeb akan lebih sulit dilakukan dibandingkan Selat Hormuz. Namun, dalam Main Agenda, Iran tetap menyisihkan opsi ini sebagai sarana untuk mencegah serangan lebih lanjut dari pihak lawan. Para pakar memperkirakan bahwa ancaman terhadap dua selat ini bisa memicu respons internasional yang lebih cepat, terutama dari angkatan laut Eropa dan Asia.

Potensi Dampak Ekonomi Global

Krisis ekonomi global menjadi salah satu skenario terburuk yang diantisipasi dalam Main Agenda Iran. Jika blokade di Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb terjadi bersamaan, harga minyak dan gas bisa melonjak hingga 50% dalam beberapa minggu. Ini akan memperburuk inflasi di negara-negara berkembang yang bergantung pada pasokan energi murah. Pemerintah Tiongkok, yang mengimpor sekitar 25% kebutuhan minyaknya dari wilayah tersebut, menilai ancaman ini bisa mengubah kebijakan ekonomi mereka dalam jangka pendek.

Di sisi lain, AS menilai bahwa konflik yang lebih besar akan memberikan tekanan pada negara-negara yang bergantung pada pasokan minyak. Dengan memperluas konflik ke wilayah laut, Iran berharap bisa membuat AS mempercepat pembuatan perjanjian yang lebih menguntungkan mereka. Main Agenda ini mencakup perhitungan ekonomi, politik, dan militer yang saling terkait.

Peran Diplomasi dalam Menghindari Kiamat Total

Diplomasi tetap menjadi sarana utama Iran untuk menghindari kiamat total. Namun, pejabat Iran memperingatkan bahwa jika AS terus memperkeruh konflik, mereka akan menutup opsi gencatan senjata dan langsung memulai serangan terhadap pangkalan militer AS. Strategi ini juga mencakup peningkatan pasukan di wilayah pesisir dan persiapan untuk mengambil alih kontrol selat yang strategis.

Bagi Iran, Main Agenda memperkuat kepercayaan mereka bahwa AS tidak akan mampu mengatasi konflik tanpa mengorbankan ekonomi global. Jika perang kembali meletus, Iran yakin bahwa AS akan kehilangan dukungan internasional, terutama dari negara-negara yang mengutamakan stabilitas ekonomi dibandingkan keamanan militer.

MORE FROM THIS CATEGORY