Survei Terbaru: Kacau, Trump Maju Kena Mundur Kena di Perang Iran
Dailynesia.com – Jakarta, kemajuan strategi Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam perang melawan Iran kini mulai menjadi beban politik signifikan dalam lingkaran internal. Proses negosiasi yang masih belum menemukan titik terang dan perubahan target perang yang terus berlangsung membuat mayoritas masyarakat AS semakin merasa konflik ini tidak lagi bermanfaat. Menurut laporan CNN International, Rabu (27/5/2026), survei terbaru menunjukkan warga AS semakin kehilangan kepercayaan pada pendekatan Trump terhadap Iran. Banyak responden menilai bahwa perang tersebut sejak awal tidak memiliki arah yang jelas dan kurang mungkin menghasilkan keuntungan besar bagi Washington.
Kebutuhan untuk segera mengakhiri konflik menjadi keinginan utama publik AS dalam beberapa minggu terakhir. Survei terkini menegaskan bahwa masyarakat mulai merasa lelah dengan pertarungan yang berlangsung, baik secara ekonomi maupun sosial. Tidak hanya mengkhawatirkan biaya operasi militer, mereka juga tidak yakin bahwa perang ini akan membawa perubahan positif. Banyak orang percaya Iran tidak akan memberikan konsesi besar yang layak, sekaligus merasa kegiatan militer tidak efektif dalam menghancurkan program nuklir negara itu.
Krisis Kepercayaan terhadap Trump dalam Isu Iran
Survei terbaru menyoroti penurunan signifikan keyakinan publik terhadap kemampuan Trump menyelesaikan perang dengan baik. Meskipun beberapa strategi baru muncul, hasilnya belum menunjukkan perubahan drastis. Akhir pekan Memorial Day lalu menjadi gambaran jelas situasi ini. Saat itu, ada indikasi awal kemajuan signifikan menuju kesepakatan damai antara AS dan Iran. Namun, ketika detail negosiasi bocor ke publik, sejumlah kalangan Partai Republik yang konservatif justru menolaknya dengan tegas.
“Kesepakatan itu bisa membuat Iran lebih kuat dibanding sebelum perang dimulai,” kata seorang tokoh Republik yang turut mengkritik langkah Trump.
Di sisi lain, jika Iran tetap mempertahankan sikap kerasnya, masih belum jelas apakah kesepakatan apa pun bisa menyelamatkan reputasi Trump sekaligus mengakhiri konflik tanpa memperburuk keadaan Partai Republik menjelang pemilu. Berbagai survei menunjukkan bahwa publik AS lebih memilih penyelesaian konflik secara cepat, meskipun tidak sempurna. Survei Fox News pekan lalu memperlihatkan hanya 39% pemilih terdaftar yang masih mendukung operasi militer AS berlangsung “selama diperlukan untuk mencapai tujuan Amerika Serikat”.
Kebalikannya, 61% responden memilih pelaksanaan operasi militer dalam “jangka waktu terbatas”. Hasil serupa juga muncul dari survei New York Times – Siena College, di mana 52% pemilih mengatakan AS sebaiknya mengakhiri operasi militer meskipun tidak mencapai kesepakatan dengan Iran terkait program nuklir. Hanya 37% yang tetap ingin perang dilanjutkan jika tidak ada penyelesaian. Angka ini menunjukkan kecemasan publik terhadap keberlanjutan konflik.
Realitas Negosiasi dan Dampaknya
Data dari survei Pew Research Center juga menunjukkan bahwa sebagian besar warga AS tidak terlalu yakin bahwa kesepakatan damai akan mampu menghentikan Iran mengembangkan senjata nuklir. 65% responden merasa “tidak terlalu yakin” atau “sama sekali tidak yakin” tentang keberhasilan negosiasi. Sebagian besar orang berpikir bahwa perang lebih justru meningkatkan risiko terorisme, merusak hubungan AS dengan negara lain, dan membuat stabilitas Timur Tengah semakin terganggu.
Dalam survei Washington Post-ABC News, 61% warga AS meyakini perang ini akan meningkatkan ancaman terorisme, sementara 56% percaya bahwa hubungan AS dengan negara-negara lain akan terpuruk. Sementara itu, 49% responden mengatakan stabilitas kawasan Timur Tengah akan menjadi lebih buruk akibat pertarungan yang berlangsung. Selain itu, survei yang sama juga memperlihatkan bahwa 65% warga AS merasa tidak yakin tentang keberhasilan negosiasi yang diumumkan.
Kebutuhan untuk mengakhiri perang dengan cepat semakin mendesak. Dalam survei New York Times – Siena, 22% responden percaya perang akan “sangat berhasil” dalam menghancurkan program nuklir Iran, sementara 18% menilai perang “cukup berhasil”. Namun, sebanyak 50% pemilih meyakini bahwa pertarungan ini tidak akan memberikan hasil yang memadai. Padahal, pemerintahan Trump sebelumnya telah mengklaim program nuklir Iran “telah dimusnahkan” sejak musim panas tahun lalu.
Perang Iran menjadi isu utama yang menyebabkan penurunan kepercayaan publik terhadap Trump. Survei terbaru CNN menunjukkan bahwa hanya 20% warga AS yang masih memiliki keyakinan tinggi bahwa perang ini akan mencapai tujuan yang diharapkan. Sementara itu, survei Pew Research Center mencatat bahwa hampir dua pertiga responden merasa kurang yakin bahwa pemerintahan Trump mampu mencapai targetnya dalam menghadapi Iran.
Perubahan Pandangan dan Impak di Masyarakat
Keberhasilan negosiasi nuklir Iran kini dinilai sangat rendah oleh sebagian besar warga AS. Sejumlah survei menunjukkan bahwa konflik ini justru mengarah pada peningkatan risiko dan kehilangan keuntungan. Survei New York Times – Siena juga menemukan bahwa mayoritas pemilih menyatakan perang melawan Iran tidak sebanding dengan biaya dan dampaknya. Mereka menganggap bahwa konflik ini tidak memberikan manfaat yang signifikan.
Sebagai contoh, dalam survei terbaru, 55% dari responden menilai perang melawan Iran sebagai keputusan yang tidak efektif, sementara 21% percaya bahwa strategi ini akan membuahkan hasil yang baik. Kecenderungan publik untuk skeptis terhadap setiap hasil negosiasi terus meningkat. Mayoritas warga AS tidak percaya bahwa kesepakatan yang diumumkan akan memuaskan.
Dalam situasi ini, perang Iran bukan hanya menjadi masalah strategis, tetapi juga politik. Apa pun hasilnya, publik AS tetap menginginkan pertarungan ini diakhiri secepat mungkin. Survei menunjukkan bahwa warga lebih memilih kestabilan daripada kesuksesan yang tidak jelas. Konflik yang berlangsung membuat banyak orang merasa bahwa AS terus-menerus mengejar tujuan yang mungkin tidak tercapai. Hal ini berdampak pada reputasi Trump sebagai pemimpin yang mampu mengambil keputusan tepat.

