Nekat Terobos Makkah, Pria Non Muslim Ini Pulang Jadi Mualaf

2 months ago  ·  4 min read
By William Moore - dailynesia.com
saudi-hajj-1748851355761_169

Nekat Terobos Makkah, Pria Non Muslim Ini Pulang Jadi Mualaf

Kisah Ilmuwan Belanda yang Merubah Identitas untuk Menyelami Dunia Islam

Dailynesia.com – Di akhir abad ke-19, dunia Islam diguncang oleh peristiwa luar biasa yang melibatkan seorang ilmuwan dari Belanda, Christiaan Snouck Hurgronje. Lahir pada 8 Februari 1857 di Leiden, Snouck dikenal sebagai orientalis yang kontroversial karena mencoba mengakses Makkah, kota suci yang sebelumnya hanya dibuka bagi umat Muslim. Pria kelahiran keluarga Kristen taat ini memulai penelitian tentang agama Islam sejak muda, meski identitasnya sebagai non-Muslim membuatnya kesulitan berada di wilayah yang secara tradisional tertutup bagi orang luar.

“Penelitian dibuat tanpa pernah dia datang ke Makkah dan hanya berdasarkan pembacaan atas beragam sumber,” tulis Hamid Algadri dalam bukunya Politik Belanda terhadap Islam dan keturunan Arab di Indonesia (1988).

Snouck, yang memiliki ketertarikan mendalam pada bahasa Arab, budaya Timur Tengah, dan kehidupan umat Muslim, menghabiskan hampir setiap hari di perpustakaan membaca literatur tentang agama yang ia cintai. Meski tidak memiliki latar belakang keagamaan, ia justru memahami Islam secara mendalam, bahkan tercatat menjadi ateis atau agnostik. Tahun 1880, ia menyelesaikan penelitian di Universitas Leiden dengan judul Het Mekkaacnshe Feest (Perayaan Makkah), yang memperlihatkan keingintahuannya akan keberadaan umat Muslim di Tanah Suci.

Keinginan Snouck untuk mengunjungi Makkah terealisasi pada Desember 1884. Dengan bantuan dana dari pemerintah Belanda, ia berangkat ke Arab Saudi dan tinggal di Jeddah di kediaman temannya. Namun, masuknya ke Makkah tidak mudah. Pemerintah Arab Saudi ketat dalam memilih pengunjung, dengan aturan yang membatasi akses non-Muslim. Bagi siapa pun yang tetap nekat, risiko ditangkap cukup tinggi.

Untuk mengatasi hambatan tersebut, Snouck memutuskan mengubah identitas. Ia mengganti nama keluarga dari Snouck menjadi Abdul Ghaffar dan beralih ke Islam. Langkah ini memungkinkannya berpakaian seperti warga lokal dan menunjukkan sikap yang lebih dekat dengan tradisi Makkah. Pada 1885, ia secara resmi menyatakan imannya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Namun, keputusan ini memicu berbagai spekulasi.

“Banyak orang tak percaya Snouck tulus masuk Islam. Sebab, dia hanya membutuhkan Islam sebagai identitas agar mudah masuk Makkah,” jelas Wim Van Den Doel dalam bukunya Snouck: Biografi Ilmuwan Christiaan Snouck Hurgronje (2023).

Beberapa orang menganggap perpindahan agama tersebut sebagai strategi untuk memperoleh keuntungan akademis. Mereka mengira Snouck ingin memanfaatkan kelemahan Islam atau menguji sikap umat Muslim. Meski demikian, keputusan Snouck tetap menginspirasi banyak orang. Dengan berstatus Muslim, ia bisa melakukan sunat sebagai bagian dari kewajiban pria dewasa, yang menjadi bukti konkrit keanggotaannya dalam agama tersebut.

Saat tiba di Makkah, Snouck awalnya dihentikan oleh petugas keamanan. Karena penampilan fisiknya yang Eropa, petugas menduga ia bukan Muslim. Untuk membuktikan kebenaran, Snouck menurunkan celana dan menunjukkan penisnya yang telah disunat. Tindakan ini menggoyahkan keraguan polisi, dan ia diperbolehkan masuk ke kota suci. Dengan demikian, Snouck menjadi ilmuwan Eropa pertama yang berhasil terobos ke Makkah secara sembunyi-sembunyi.

Durasi tinggalnya di Makkah hanya sekitar enam bulan. Selama itu, ia menyamar sebagai warga Muslim sambil mengumpulkan data penelitian. Ia juga melakukan umrah untuk memperdalam pemahamannya tentang ritual agama. Meski keberadaannya di sana terungkap karena mengakui bahwa ia memalsukan status Muslim, Snouck tetap berhasil menyelesaikan risetnya.

Kisah Snouck tidak hanya menginspirasi penelitian tentang Islam, tetapi juga memperkuat hubungan antara Belanda dan umat Muslim di Indonesia. Pada 1890-an, ia tinggal di berbagai kota seperti Aceh, Medan, dan Jakarta. Di sana, ia memberi saran tentang cara memahami dan menangani kehidupan Muslim. Kebijakan pemerintah Belanda pada masa itu semakin terbuka terhadap studi tentang agama, yang didorong oleh kontribusi Snouck.

Snouck Hurgronje jadi contoh bagaimana keinginan mendalam terhadap suatu budaya bisa memicu perubahan identitas. Ia menempuh langkah dramatis, termasuk mengubah nama dan agama, untuk mencapai tujuan akademis. Meski mungkin ada yang meragukan kejujurannya, kisahnya tetap menjadi bagian penting dalam sejarah interaksi antara dunia Barat dan Islam. Dengan keberanian yang luar biasa, ia mampu merobohkan batas-batas tradisional dan membuka jalan bagi studi lebih lanjut tentang agama yang ia banggakan.

Perjalanan Snouck ke Makkah dan perubahan agamanya juga menunjukkan bagaimana kekuatan simbolis seperti sunat bisa menjadi alat untuk meyakinkan orang. Meski begitu, ketertarikan yang sebenarnya terhadap Islam terus mendorongnya untuk terus mengeksplorasi kehidupan umat Muslim di berbagai belahan dunia. Setelah kembali ke Belanda, ia menjadi konsultan khusus pemerintah dalam membangun pemahaman antaragama, termasuk di Indonesia, yang kini menjadi tempat ia menghabiskan waktu.

Sampai hari ini, kisah Snouck Hurgronje masih relevan. Ia menunjukkan bahwa eksplorasi terhadap agama bisa mengambil bentuk yang paling ekstrem. Dengan mengubah diri, ia mampu menyelami kehidupan umat Muslim tanpa rasa takut. Penelitian yang ia lakukan tentang Islam tidak hanya membantu Belanda memahami dunia Timur Tengah, tetapi juga memberi gambaran tentang bagaimana tradisi dan ritual bisa menjadi penanda identitas.

Snouck, yang dikenang sebagai orientalis yang berani, menjadi bagian dari sejarah global Islam. Tindakannya menunjukkan bahwa keinginan untuk belajar bisa mengalahkan rasa takut. Meski berstatus non-Muslim, ia berhasil menjadi seorang mualaf dan memperoleh akses yang sebelumnya terbatas. Dari sini, ia membangun jembatan antara dua dunia yang terkadang bertolak belakang.

MORE FROM THIS CATEGORY